Noktah Cahaya Dari Oelata

 

Oleh : Affan Ebo

Sedikit jauh ke arah timur, rubrik Pelataran kali ini menuju Kota Kupang. Ibu kota sebuah provinsi yang salah satu wilayannya mencatat perjalanan cukup melelahkan, hingga akhirnya menjadi negara yang tidak lagi menjadi bagian dari Republik Indonesia. Tentu  saja ada alasan kuat mengapa juru ramu Buletin Maiyah Jatim (BMJ) mengangkat satu aktifitas yang dilakukan oleh sedikit orang di daerah yang umat islamnya hanya sekitar 8.25%. Persentase yang masuk dalam kategori minoritas dibanding mereka yang beragama Kristen dan Katolik (79%) serta tidak terpaut banyak dengan umat beragama lain (3%).

Di sebuah dusun bernama Penkase, Desa Oelata yang bernaung di bawah Kecamatan Alak sebelah barat daya Kota Kupang, terdapat komunitas muslim yang berkhidmat merawat kadar keislaman di antara mereka, tanpa perlu menjadikan keberadaan mereka teralienasi dengan konstalasi sosial masyarakat. Dalam kesehariannya mereka melakukan aktifitas seperti layaknya warga masyarakat lain. Interaksi yang mereka lakukan sangat cair dalam hal jenis kegiatan, pihak-pihak yang menjadi mitra, serta penegakkan identitas melalui penampakan luar (busana dan perwajahan). Kelompok muslim ini setia dalam keyakinan dan ritual namun tetap inklusif.

Mereka secara sadar menamakan lingkungannya sebagai “Kampung Wali Nusantara” (KWN). Sebuah nama yang sekilas mencerminkan posisi saat ini dan kemana langkah yang hendak mereka tuju. Kegiatan yang diprakarsai oleh seorang pegawai di Kementrian Agama Kota Kupang ini sudah berjalan kurang lebih tiga tahun. Bermula dari keluarga inti yang dimilikinya, lelaki yang meraih gelar Magister Pendidikan Agama dari sebuah Perguruan Tinggi di Malang ini memulai kiprahnya dengan mengajak anak-anak di sekitar rumahnya untuk ikut mengaji dalam sebuah Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). Tanpa diduga, TPQ  ini cukup diminati terbukti dari hampir semua anak usia TK sampai SD menjadi muridnya.

Setelah TPQ berjalan rutin dan terlembagakan, kegiatan dilanjutkan dengan mengajak ibu-ibu untuk mengadakan forum khusus untuk membahas lebih dalam  tentang ilmu dan pengetahuan seputar masalah Tauhid dan Fiqh. Respons terhadap kegiatan ini juga menggembirakan. Bahkan beberapa di antara mereka masih berstatus remaja putri yang memiliki minat meningkatkan dasar pengetahuan mengenai agama Islam.

Tidak berhenti sampai di situ, ragam kegiatan terus dicari dan diupayakan pelaksanaannya  secara rutin dan berkesinambungan. Yang menjadi pemikiran berikutnya adalah bagaimana mengakomodasi energi kaum muda. Meski demikian, tetap dicari rumusan agar tugas utama para generasi muda belajar di sekolah formal tidak terganggu karenanya. Hingga lahirlah apa yang disebut sebagai Pesantren Persada. Kegiatan yang dilakukan secara insidentil pada hari Sabtu-Minggu ini memberi kesempatan kepada kaum muda untuk menyerap ilmu secara lebih intensif, sekaligus menjalankan ibadah mahdoh berupa Salat lima waktu dalam satu dimensi ruang yang menonjolkan kebersamaan dan kesetaraan.

Tindak lanjut Pesantren Persada adalah upaya menjalin komunikasi dengan pemuda dan mahasiswa dari agama lain. Kegiatan ini berbentuk kunjungan saling berbalas atau satu-dua seminar kecil-kecilan terkait isu atau bahasan tertentu. Kegiatan ini kembali menegaskan betapa KWN menyadari dengan baik keberadaannya sebagai sesobek perca minoritas di tengah milleu yang sangat berbeda dalam hal keimanan.

Pada bulan Juli 2017, bekerjasama dengan Kementrian Agama Kupang, dirintis satu unit perpustakaan yang diberi nama “Maktabah Keliling”. Langkah ini dimaksudkan sebagai manifestasi dari keinginan untuk meningkatkan kesadaran literasi masyarakat. Mengingat komposisi masyarakat yang heterogen, sebaran jenis buku yang disediakan pun tidak melulu berhubungan dengan referensi Islam. Secara berkala dengan jadwal yang telah ditentukan, Maktabah Keliling mendatangi masyarakat di wilayah Kupang dan menyediakan khasanah bahan bacaan mereka untuk diserap oleh semua lapisan masyarakat.

Seperti hampir di semua daerah di Indonesia, reranting organisasi dan pemikiran Islam juga tumbuh dan berkembang di Kupang. Di kota yang memiliki batas pantai Teluk Kupang dan Selat Semai ini, NU dan Muhammadiyah serta beberapa “aliran” struktural maupun kultural keimanan memiliki perwakilannya. Namun KWN memilih untuk tidak berafiasi dengan salah satu pihak.

Pilihan afiliasi yang “tidak kemana-mana” ini dalam banyak hal memberikan mereka keutungan berupa keleluasaan dan akseptabilitas yang tinggi. Apapun yang mereka lakukan diterima dengan simpati masyarakat sekitar tanpa kerutan dahi dan picingan mata.

Karena persentuhanan salah satu tonggak KWN dengan Mbah Nun beserta sebaran serbuk sari Maiyah di lintasan tahun 2005-2007. Mereka memilih untuk disebut sebagai satu “lingkaran kecil” Maiyah di Tanah Timor. Mbah Nun sendiri mereka sebut sebagai “Meo” (wali, beliau yang terhormat). Seorang panutan yang mereka nantikan hadirnya di kawasan yang mendapat pengaruh Islam sejak era kesultanan Ternate dan Tidore.

Kampung Wali Nusantara memang masih merupakan noktah cahaya di dataran pulau Timor. Kawasan dengan kebun pala, getah nira, ikan paus dan lumba-lumba. Tidak atau belum mereka canangkan sebongkah target besar atau cita-cita. Bagi mereka saat ini, kegiatan yang istiqomah dilakukan cukuplah menjadi lentera iman dan pemandu akhlak anak, cucu, kerabat, dan generasi berikutnya.

 

Affan Ebo adalah jamaah maiyah yang berdomisili di Nusa Tenggara Timur. Bekerja di Departemen Agama, dan merupakan salah satu alumnus Workshop Penulisan PadhangmBulan .