“Not an Ordinary Shake Hand”

Oleh : Rio NS

Posisi lenggah atau jumeneng Mbah Nun ketika prosesi bersalaman di ujung acara Maiyahan coba saya urai dari beberapa pendekatan. Setidaknya, agar lebih jernih kita mensikapi walau tetap melekat muatan subyektif didalamnya.

Nampaknya, kesediaan Mbah Nun untuk menyisihkan waktu dan energi bagi jama’ah yang datang untuk bersalaman dilakukan sejak awal mula acara bareng Kiai Kanjeng dilaksanakan. Catatan sahih kesejarahan tentang hal ini, bisa diungkap oleh dulur yang lain.

Kenyataan di atas sekilas dan dalam lebih banyak pemahaman berlaku sebagai satu kewajaran. Sebuah common sense yang tidak memerlukan catatan tersendiri. Kenyataannnya, Mbah Nun pun tidak pernah secara terbuka melakukan elaborasi atas hal ini, di lingkup perbincangan manapun yang saya ketahui.

Tetapi mari coba kita petakan satu-satu bahasan mengenai fenomena itu. Pertama, meski tidak selalu bebentuk panggung dengan ketinggian tertentu, acara Sinau Bareng, Ngaji Bareng atau Maiyahan lainnya menempatkan Mbah.Nun pada satu posisi yang memberikan perbedaan “level” yang berbeda. Akibatnya, Mbah Nun harus sedikit menunduk dalam posisi yang “nanggung”. Tidak jarang karena luapan psiko personal yang spontan, jamaah seperti merengkuh, menarik atau merebut Mbah Nun agar bisa masuk ke zona jasadiah pelukan mereka.

Dua, menilik dari segi jumlah jamaah yang hadir maupun mereka yang menyengajakan diri bersalaman dengan Simbah jauh dari kata sedikit. Jumlahnya selalu di atas rentang ratusan. Hingga bilangan ribu menjadi angka yang “biasa-biasa” saja.

Ketiga, acara maiyahan nyaris 99% berakhir di ujung malam. Dalam kamus medis dikenal istilah sirkardian, satu rekam jejak yang menggambarkan naik turunnya intensitas kerja jantung di rentang 24/jam. Waktu antara tengah.malam hingga dini hari adalah saat dimana tubuh manusia ada dalam kondisi “tidur yang dalam”. Istirahat total yang dalam banyak pembahasan diistilahkan “mati”.

Berikutnya secara fisiologis ada kesejajaran tak bisa dihindari bahwa penambahan umur berbanding terbalik dengan keandalan seseorang dalam kinerja fisik. Dalam tata hubungan profesional, kita mengenal istilah “pensiun”. Terminologi ini diciptakan untuk mengikuti tahap kehidupan setiap orang yang simplikasi berbunyi semakin tua seseorang mengakibatkan semakin tidak produktiflah dia.

Keyataan-kenyataan di atas saya paparkan untuk mengajak pembaca ke temuan secara mudah apa yang sejatinya terjadi pada waktu Mbah Nun menerima cium tangan, pelukan kangen, dekapan harap, sebotol air minum berisi keinginan dan berpuluh adegan lain di sesi itu. Ditambah dengan curahan energi Mbah Nun dalam seminggu terakhir yang bagi saya cukup memilukan. Maksud saya, mari sikapi dengan khidmat kepada betapa dalam hal “kecil” ini saja Mbah Nun setia dalam laku keyakinan beliau untuk terus menanam.

Minggu mendung di Surabaya, 22 Oktober 2017 .

 

Rio NS, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.