*) tulisan ini dimuat pada Bulletin Maiyah Jawa Timur edisi khusus “Ihtifal Maiyah” Mei 2016

Adalah sebuah kesalahan besar dan sok tahu ketika penulis bersedia menerima permintaan dari Redaksi Buletin Maiyah Jatim untuk menulis mengenai “PadhangmBulan, Arboretum Seribu Simpul” pada Buletin Edisi Khusus bulan Mei 2016 ini. Penulis katakan ‘kesalahan besar dan sok tahu’ karena pengetahuan penulis mengenai PadhangmBulan tidak lebih besar dari sebutir dzarrah dibandingkan dengan semesta PadhangmBulan yang luas tak bertepi.

Tapi baiklah, karena sudah terlanjur menerima, maka penulis harus mempertanggungjawabkannya. .

Berawal dari upaya Cak Nun untuk membatasi undangan dari masyarakat kepada beliau di wilayah Jawa Timur, dan ini jumbuh dengan ‘keinginan’ keluarga dalam rangka ‘memaksa’ Cak Nun agar bersedia sebulan sekali pulang ke kampung halaman di Desa Menturo, Kec. Sumobito, Jombang – PadhangmBulan digagas dan diselenggarakan.

Forum atau Pengajian atau Majelis Ilmi PadhangmBulan — belakangan lebih dikenal dengan Majelis Masyarakat Maiyah PadhangmBulan — diselenggarakan secara rutin setiap bulan pada malam tanggal 15 penanggalan hijriyah. Menurut data yang penulis peroleh, PadhangmBulan pertama kali diselenggarakan pada bulan Oktober tahun 1994. Dengan demikian, sampai dengan hari ini PadhangmBulan sudah berlangsung selama 22 tahun. Sebuah rutinitas dan keistiqamahan yang luar biasa.

***

Ibarat seorang petani yang sedang menanam padi, tentu dia tidak bisa memastikan bahwa nanti dia akan panen. Jangankan panen, sedang sebutir benih yang dia tanam itu nanti akan tumbuh subur dan beranak pinak menjadi sebuah rumpun yang berisi puluhan batang atau tidak saja dia tidak tahu, apalagi memastikan panen.

Yang bisa dilakukan oleh seorang petani hanyalah mempersiapkan lahan dengan mengolahnya sebaik mungkin. Menyemai dan menanam benih tersebut dengan sebaik mungkin pula. Kemudian merawatnya dengan memberikan asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman padi tersebut dengan memberikan pupuk sesuai kebutuhan. Diteruskan dengan menjaga dan atau mengobati tanamannya tersebut dari serangan hama dan penyakit. Selebihnya, dia memasrahkan padi yang ditanamnya kepada Sang Pemilik, yaitu Allah Swt. Urusan apakah nanti bisa panen atau tidak seorang petani tidak mampu memasti-tentukan. Seorang petani hanya percaya, bahwa jika dia menghidupi dan merawat makhlukNya maka dia pasti juga akan dihidupi dan dirawat olehNya.

Begitulah PadhangmBulan. Penulis yakin, pada awal digagas dan diselenggarakan dulu Keluarga nDalem Kasepuhan dan Cak Nun sendiri tidak membayangkan perkembangannya akan menjadi seperti sekarang ini: menjadi Organisme Maiyah di puluhan kota dengan karakter masing-masing. Yang dilakukan oleh Beliau dan Keluarga nDalem Kasepuhan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh petani diatas.

Aneh, Liar, Siapapun Boleh Bicara

PadhangmBulan adalah pengajian yang aneh, minimal dipandang aneh pada saat itu. Aneh, karena berlangsung dua arah, tidak sebagaimana pengajian pada umumnya yang monoton satu arah berisi ceramah dari seorang kiai atau da’i. Tanpa memberikan kesempatan kepada jamaah untuk menyampaikan sesuatu. Di PadhangmBulan siapapun boleh menyampaikan apapaun.

Aneh, karena ditengah-tengah acara jamaah boleh atau dipersilahkan melakukan interupsi jika dirasa ada yang perlu diinterupsi.

Aneh, karena sejak awal memproklamirkan diri bahwa di PadhangmBulan tidak ada kiai atau tokoh, yang ada adalah sinau bareng mentadabburi ayat-ayat Allah dalam rangka menata hati menjernihkan fikiran. Kalau ‘terpaksa’ harus ada yang ditokohkan, maka tokoh yang sesungguhnya adalah jamaah itu sendiri.

Aneh, karena tidak ada pemisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Jamaah dipersilahkan mencari tempat sendiri-sendiri sesuai keinginan, sehingga campur baur menjadi satu antara jamaah laki-laki dan perempuan. Bagi yang tidak faham dan tidak mengalami sendiri tentu hal ini akan dianggap sebagai melanggar fiqh/syari’at.

Alasannya sederhana. Pertama, mengingat yang hadir ribuan jamaah, bahkan puluhan ribu, kalau dipisah maka akan merepotkan jamaah yang hadir bersama keluarganya jika ditengah acara belum selesai harus pulang duluan dikarenakan sesuatu hal. Repot dalam mencari dimana pasangan atau keluarganya berada untuk diajak pulang mengingat pada saat itu belum ada handphone seperti sekarang.

Kedua, dan ini merupakan alasan pokoknya, pada diri jamaah PadhangmBulan sudah tertanam kesadaran bahwa ketika mereka melangkah keluar rumah maka sudah tidak ada lagi yang namanya lelaki dan perempuan. Kesadaran yang ada di benak mereka, mereka adalah manusia. Fungsi ke-lelaki-an atau ke-perempuan-an bagi mereka hanya disaat mereka berdua berada di dalam kamar bersama suami atau istrinya masing-masing. Dalam suasana pengajian seperti itu kalau masih ada yang memikirkan ‘hal-hal yang hanya boleh dilakukan di dalam kamar’ maka sama dengan binatanglah mereka. Dalam bahasa selengek’an (mohon maaf) manusia seperti itu adalah manusia ngacengan yang tidak pantas menyandang gelar ahsani taqwim sebagaimana yang difirmankan oleh Allah sendiri.

Bagi mereka, kesadaran diri sebagai manusia saja sudah cukup untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syari’at. Untuk tidak tega menyakiti orang lain. Untuk tidak kuat hatinya melakukan penyelewegan amanah yang dibebankan ke atas pundak mereka. Apalagi jika kesadaran itu meningkat bukan hanya ‘saya manusia’ tetapi naik kelas menjadi ‘ana abdullah’ dan ‘ana khalifatullah fil ardh’.

Disamping aneh PadhangmBulan juga ‘liar’ (dalam tanda kutip). Uraian diatas sebenarnya sudah bisa menjelaskan ‘keliaran’ PadhangmBulan, tetapi masih ada satu hal lagi yang menunjukkan karakter liar PadhangmBulan, yakni muatan atau isi pengajiannya itu sendiri.

Sebagaimana kita sudah mafhum, menu utama PadhangmBulan adalah ngaji tafsir al-qur’an. Setelah KH. Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad) menyampaikan tafsir secara tekstual kemudian dilanjutkan dengan tafsir secara kontekstual oleh mBah Nun. Disinilah letak ‘keliaran’ itu. Beliau selalu bisa menarik dan menghubungkan tafsir tekstual yang telah disampaikan oleh Cah Fuad kedalam berbagai bidang kehidupan: ekonomi, sosial, politik, kesenian, dan lain-lain disamping sikap keberagamaan tentunya.

Kita selalu dibikin melongo. Sebuah ayat alqur’an yang selama ini kita anggap hanya berbicara mengenai suatu hal ternyata oleh beliau bisa dijelaskan bahwa ayat tersebut sesungguhnya juga berbicara megenai hal-hal lain diluar anggapan kita tersebut.

Dari Puluhan Jamaah menjadi Puluhan Simpul dan Lingkaran

Di awal tulisan telah penulis singgung bahwa gagasan diselenggarakannya PadhangmBulan adalah dalam rangka upaya untuk membatasi undangan dari masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Timur, kepada Cak Nun. Beliau berharap aktivitas beliau yang sangat padat bisa sedikit berkurang karena masyarakat tidak akan mengundangnya lagi karena mereka bisa hadir setiap bulan di PadhangmBulan.

Tetapi apa lacur, meski PadhangmBulan yang awalnya hanya dihadiri oleh puluhan jamaah itu telah berkembang dan dihadiri oleh ribuan — bahkan puluhan ribu jamaah pada pertengahan sampai dengan akhir tahun 90-an — tetap saja tidak mampu mencegah atau mengurangi undangan dari masyarakat kepada beliau.

Bahkanpun ketika di kota-kota lain telah diselenggarakan acara serupa seperti Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Gambang Syafaat di Semarang, Haflah Shalawat dan Tombo Ati di Surabaya (sekarang sudah tidak ada dan digantikan dengan BangbangWetan), Kenduri Cinta di Jakarta, Tali Ka’asih (sekarang juga sudah tidak ada dan digantikan dengan Jamparing Asih) di Bandung, Papperandang Ate di Mandar Sulawesi Barat (saat itu sulawesi Selatan), Obor Ilahi dan ReLegi di Malang dan seterusnya di kota-kota lain seperti Ambengan di Lampung, Waro’ Kaprawiran di Madiun, Juguran Syafaat di Purwokerto (Banyumas). Suluk Pesisiran di Pekalongan dan masih banyak lagi. Seluruhnya ada 31 simpul dan beberapa lingkaran. Itu yang sudah terdeteksi. Belum lagi ditambah dengan yang belum terdeteksi karena para penggiatnya belum memberitahukannya tetapi sudah terbentuk dan berjalan forum kepengasuhan di lingkungan mereka. Undangan-undangan kepada Cak Nun masih terus mengalir sampai dengan hari ini, baik kepada Cak Nun sendiri maupun bersama KiaiKanjeng.

***

Dalam perkembangannya, jamaah yang hadir di PadhangmBulan sedikit demi sedikit susut. Terseleksi secara alamiah karena tidak kuat hatinya untuk selalu bersikap sebagai ummatan wasathan (berada/menempatkan diri di tengah). Dan puncak seleksi terjadi pada saat dan pasca reformasi, dimana banyak jamaah yang tidak kuat hatinya karena tokoh idolanya dikritik oleh Cak Nun.

Mereka yang terlalu fanatik kepada tokoh, golongan dan kelompok melebihi kefanatikannya terhadap nilai berguguran satu demi satu: tidak lulus dalam menata hati dan menjernihkan fikirannya. Hingga akhirnya jamaah PadhangmBulan tinggal (meminjam istilah Cak Nun) orang-orang yang ikhlas dan kuat hatinya serta ‘komandan pleton-komandan pleton’ di lingkungannya. Dan ‘komandan pleton-komandan pleton’ inilah yang menurut hemat penulis ikut memprakarsai berdirinya forum-forum serupa di daerah-daerah.

PadhangmBulan: Ibu Maiyah

Forum-forum yang penulis sebutkan dimuka itu, hanya merupakan bagian-bagian yang intinya satu: Jamaah Maiyah, maka penyebutan untuk forum-forum itu adalah Majelis Masyarakat Maiyah.

Secara struktural organisatoris forum-forum itu tidak mempunyai hubungan karena Maiyah bukanlah organisasi sebagaimana organisasi-organisai yang ada. Maiyah adalah organisme, sehingga hubungan diantara forum-forum itu lebih kuat dibanding hanya sekedar hubungan organisatoris. Dari sini timbul pertanyaan: Lalu dimana posisi PadhangmBulan?

Ibarat sebuah galaksi, PadhangmBulan adalah pusat galaksi, karena dari PadhangmBulan-lah forum-forum itu lahir. Sedang forum-forum yang lain adalah tata surya-tata surya yang bersatu dalam kebersamaan mengelilingi pusat galaksi tersebut.

Ibarat sebuah keluarga, PadhangmBulan adalah ibu bagi bangunan sebuah keluarga besar yang bernama Maiyah. Forum-forum yang lain adalah anak-anak dari seorang ibu tersebut yang sudah membangun keluarganya sendiri.

PadhangmBulan adalah sumur ilmu tempat ‘anak-anaknya’ menimba air untuk dibagi-bagikan guna melepas dahaga bagi lingkungannya.

Maka tidaklah berlebihan jika ada harapan agar seorang anak ngalap berkah dan karamah dari ibunya supaya cucu-cucunya kelak tidak kehilangan akar sejarahnya. Maksudnya, mbok yao rek dari simpul atau lingkaran yang ada secara berkala ada yang ditugasi untuk nyambangi PadhangmBulan.

Blora, 11 Mei 2016
Rudd Blora.

*)Terimakasih kepada Bu Choiriyah Sumitra (istri Cak Sumitra Sumadjah/Cak Mitro) atas bantuannya untuk membongkar-bongkar dokumen milik Cak Mitro dalam rangka penelusuran mencari kapan awal mula PadhangmBulan diselenggarakan.