Orang-orang Tjigrok

Pak Dhe Legi

Oleh : Prayogi R Saputra

“Pak Dhe Legi meninggal dunia. Kalau ada waktu, usahakan untuk pulang. Kalau tidak, nggak usah memaksakan diri.” begitu pesan Bapak melalui telepon di sore hari menjelang Saridin pulang dari kantor. Saridin menimbang-nimbang apakah akan meninggalkan pekerjaan barang dua atau tiga hari untuk pulang ataukah tidak. Tentu, pertimbangannya bukan semata apakah pulang menjadi sesuatu yang mendesak bagi Saridin, tapi ada banyak hal lain yang membuat Saridin harus berpikir ulang untuk pulang.

Pak Dhe Legi sebenarnya tak begitu akrab dengan Saridin. Demikian pula Saridin juga tak akan dihafal oleh Pak Dhe Legi. Kendati  Pak Dhe Legi sebenarnya masih sepupu Bapak dari garis Mbah Edok. Jarak usia antara Pak Dhe Legi dan Bapak terpaut lumayan jauh. Mungkin 10 atau 15 tahun. Sehingga, Pak Dhe Legi dan Bapak juga tidak akrab-akrab amat seperti dengan sepupu-sepupu Bapak yang lain.

Waktu masih kecil, setahun sekali disaat Lebaran, Bapak akan mengajak Saridin berkunjung ke Pak Dhe Legi. Tapi setelah  naik ke kelas 5, seingat Saridin, dia tak pernah lagi berkunjung ke rumah Pak Dhe Legi. Pada kunjungan terakhir itulah, yang berlangsung sudah lebih dari 20 tahun, Pak Dhe Legi bercerita diantara para keluarga dan keponakannya. Entah bagaimana awalnya, akhirnya Pak Dhe Legi bercerita tentang peristiwa seputar tahun 1965.

“Seandainya semua orang yang dianggap PKI diambil, maka warga desa ini mungkin tinggal separo. Bahkan tak sampai separo.” Katanya di siang Lebaran hari ke tiga itu.

Pak Dhe Legi duduk di tikar yang digelar di tengah-tengah rumah limasan yang dubangunnyaa di samping rumah Mbah Dhe. Menjadi perangkat desa membuat Pak Dhe Legi wajib membangun seperangkat rumah Jawa lengkap: limasan depan, limasan belakang, gandok dan dapur. Semua menggunakan balungan kayu jati. Bahkan, reng dan usuk juga berbahan kayu jati Blora.

“Desa ini gembongnya Wito, Jumakir, Tolu, dan Supangat. Mereka inilah yang memimpin ontran-ontran. Kalau malam jum’at atau pas ada kegiatan keagamaan di masjid, mereka akan bikin acara besar-besaran. Biasanya di halaman rumah Tolu. Kadang reog, Jedor, dongkrek, kledhek, apa saja. Pokoknya membuat keramaian sehingga orang-orang lebih suka menonton keramaian yang mereka buat daripada menghadiri acara pengajian.”

Beberapa orang sanak saudara dan tetangga yang sedang berkunjung ke rumah Pak Dhe Legi mendengarkan dengan khusyu’. Sesekali mereka mengambil kue-kue lebaran atau biskuit Khong Guan yang bisa mereka temui hanya dikala Lebaran. Itu pun hanya di rumah orang-orang tertentu saja. Sementara Bapak duduk bersandar pada sokoguru tepat di belakang Pak Dhe Legi, memangku  Saridin yang mulai mengantuk.

“Siliwangi. Siliwangi yang mengambil mereka. Itu gembongnya kok. Ya mungkin diinterogasi dulu atau bagaimana,” kata Pak Dhe Legi menjawab salah satu Pak Lik.

“Orang sini nggak ada yang berani. Pemuda-pemuda sini juga bergerak. Tapi, bukan mereka yang mengambil. Itu Siliwangi.”

Seseorang bertanya entah tentang apa. Saridin yang agak mengantuk tak mendengarnya. Lantas Pak Dhe Legi menjawab.

“Aku juga. Aku juga, sebagai perangkat desa ditunjuk oleh **********. Sebenarnya nggak tega. Tapi bagaimana lagi. Kalau nggak mau, malah aku yang diancam. Atau bisa-bisa, malah aku dituduh PKI juga. Ya, sudahlah! Entah berapa orang aku lupa. Tugasku hanya memenggal. Mayatnya langsung jatuh ke sungai. Aku juga nggak tahu wajahnya. Juga nggak ingin bertanya. Wajahnya dibungkus kain. Atau karung goni. Seadanya. Sambil mengayunkan parang, aku memejamkan mata. Aku nggak tega melihat darah.”

Pak Dhe Legi mengutarakan semua itu dengan wajah dan nada ringan. Tanpa beban. Seperti tak ada trauma.

“Siapa bilang?” katanya tegas. ”Berhari-hari aku nggak bisa tidur.  Teringat teriakan mereka. Suara tubuh yang jatuh ke sungai. Cipratan darah ke wajahku. Ah, sudahlah! Pokoknya nggak bisa tidur. Aku merenung. Aku berdosa atau tidak, ya? Aku membunuh orang. Tapi, memang tak ada pilihan. Kalau aku nggak mau memenggal, mungkin kepalaku yang akan dipenggal. Tidak  ada pilihan. Hanya dua itu. Membunuh atau dibunuh. Bertahun-tahun baru aku bisa tenang. Itu pun setelah diyakinkan oleh banyak orang.”

Mulut Pak Lik Wasiyo bergerak-gerak kearah Pak Dhe Legi. lantas Pak Dhe Legi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Nggak pulang. Nggak ada yang pulang. Semua gembong-gembongnya nggak ada yang pulang. Entah dimana. Orang juga tidak ada yang berani bertanya.”

“Kalau pimpinannya orang Lembeyan. Dia sakti. Sangat sakti. Dia punya Pancasona. Jadi, dia sudah diambil. Sudah dieksekusi juga. Tapi anehnya, esok hari, dia ada lagi. Dia masih ada. Lantas diambil lagi. dieksekusi lagi. Lantas dikuburkan. Eh… esok harinya, dia ada lagi.”

“Orang-orang ketakutan. Tak ada yang berani. Apalagi, dia malah muncul. Tidak sembunyi. Apakah itu malah bukan teror? Dia sengaja menampakkan diri untuk menunjukkan kalau dia masih hidup. Orang-orang jadi ketakutan. Semua ketakutan. Dan dia dengan gagah berkeliaran.”

Wajah-wajah di rumah Pak Dhe Legi siang itu begidik. Membayangkan bagaimana orang yang sudah mati dan dikubur bisa muncul lagi di hadapannya.

“Akhirnya, entah dari siapa sumbernya, Siliwangi yang ambil tindakan. Laki-laki itu diambil lantas di bawa ke alun-alun Mageti. Disana, dia digantung. Disaksikan oleh banyak orang. Karena berita-berita  yang  tersebar, banyak orang ingin melihat seperti apa sebenarnya orang ini. peristiwa itu pun jadi tontonan.  Setelah laki-laki itu mati, kepalanya dipenggal. Lantas, kepala dan  tubuhnya dikuburkan di tempat yang dipisahkan oleh sungai. Sejak saat itu,  dia tak pernah muncul lagi. Benar-benar mati.”

Obrolan masih terus berlangsung. Namun, Saridin tak lagi sanggup menahan kantuk. Dia tergolek di pangkuan Bapaknya. Itulah kali terakhir Saridin bertemu dengan Pak Dhe Legi, lebih dari 20 tahun lalu. Lantas, dia memanjatkan do’a untuk arwah Pak Dhe Legi. Dan Saridin memutuskan untuk belum akan pulang.

#161118

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra