Surabaya, 20 Juni 2020

Kepada,

Yth. Pak Nur

di

Lubuk hati dan segenap jiwa Jamaah Maiyah

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak…

Saya bingung harus memulai dari mana. Pun, saya juga sebenarnya tidak tau akan menulis apa. Tetapi hati tak bisa dibohongi. Tiga tahun telah berlalu. Sejak saya jauh-jauh ke Kampung Dukuh menyaru sebagai reporter untuk bertemu Bapak. Bercengkerama tentang banyak hal untuk kemudian saya tuliskan di Buletin Maiyah Jatim. Saya sangat rindu pada momen hari itu. Hari saat kita menghabiskan siang hingga malam bersama cerahnya suasana kemarau April. Hari saat kita bersama mengagumi indah lukisan yang digoreskan oleh Sudjiwo Tedjo, sahabat Bapak. Hari saat cerita, tawa canda, dan ilmu-ilmu Bapak membuatku terkesima. Hari saat saya tak menyangka bahwa akan bisa sedekat itu dengan Bapak.

Pak…

Saya sadar waktu tak bisa diulang. Saya sadar waktu terus berjalan maju dan meninggalkan yang telah lalu menjadi sebuah kenangan. Namun, sesekali berandai-andai boleh dong, Pak!? Sembari memandang langit-langit kamarku, saya berandai jikalau waktu bisa kuulang hingga hari itu terjadi kembali, akan saya peluk erat-erat Bapak. Tak peduli apa yang akan terjadi dan apa kata orang. Karena kini saya baru sadar bahwa sejak hari itu, saya tak pernah lagi bisa dekat secara raga. Tak pernah lagi duduk satu meja. Tak pernah lagi menikmati kopi dan kretek bersama. Dan yang terpenting, tak pernah lagi secara intim mendengarkan banyak petuah hidup, ilmu tasawuf, dan kisah inspirasional dari perjalanan kehidupan Bapak.

Pak…

Ingatkah saat Bapak menerima saya di rumah sederhanamu? Ingatkah Bapak yang menyambut saya dengan senyum teduhmu? Ingatkah Bapak saat mengajak saya makan bersama dengan sayur manisa, tempe, dan ikan goreng tanpa garam? Ingatkah Bapak saat menawari saya beberapa potong pepaya segar? Ingatkah Bapak saat menawari saya untuk menginap di rumah Bapak? Saya yakin Bapak pasti ingat. Tak mungkin rasanya melupakan kenangan hari itu. Apalagi bagi saya yang mendapat sambutan sederhana namun mampu memberikan kesan istimewa hingga kini.

Pak…

Saya harap Bapak tak bosan membaca coletehanku. Sebagaimana juga Bapak yang tak bosan menjawab segala pertanyaan yang hari itu saya ajukan. Terkadang malu juga rasanya kalau ingat beberapa pertanyaan yang saya ajukan pada Bapak. Ahh… Lagipula mana mungkin sebuah ember bisa menciduk seluruh air lautan. Hingga capek pun saya hanya dapat tak seberapa. Walau begitu, terima kasih banyak saya sampaikan pada Bapak, karena sejak saat itu saya jadi sadar bahwa ilmuku masih sangat jauh dan tak ada apa-apanya dibanding ilmu Bapak. Saya harus banyak dan banyak belajar lagi.

Pak…

Saya mau jujur. Hari itu sebenarnya banyak yang tak kupahami dari banyak hal yang telah Bapak sampaikan padaku. Maaf beribu maaf. Bukan karena saya tak menyimak, namun memang cuma segitulah kemampuan otakku dalam menyerap banyak ilmu dari Bapak. Saya yakin dengan segala kebijaksanaan, Bapak bisa memahami. Walau begitu, sekali lagi saya berkata jujur, sama sekali tak ada rasa bosan yang menghinggapiku walau berjam-jam kita bercengkerama. Fokusku hanya pada setiap kata yang Bapak sampaikan. Paham atau tidak pokoknya kudengarkan. Karena saya yakin apa yang Bapak sampaikan merupakan sebuah ilmu yang belum tentu saya dapat dari orang lain. Bahkan, bising Jakarta dan musik ondel-ondel dari luar rumah tak mampu mengalihkan konsentrasiku pada fokus pembicaraan kita.

Tapi, Pak…

Bapak sekarang ada di mana? Harus ke mana kami menemui Bapak kalau kami rindu? Kini harus pada siapa kami bertanya tentang ilmu tasawuf semudah bertanya dan mendapatkan jawaban simpel seperti yang Bapak biasa terangkan? Hhh… Ya! Kami sebenarnya sadar. Inilah kehidupan. Nang ndunya pira suwene, njur bali nang panggonane. Sepertinya ini hanya ekspresi keegoisan kami yang belum rela Bapak tinggal di saat kami masih sangat membutuhkan sosok seorang Bapak yang kini semakin langka. Sulit rasanya menahan agar air mataku tidak jatuh. Cengeng, biar saja. Setidaknya kami akan berjanji melaksanakan pesan yang Bapak ucapkan padaku tiga tahun lalu. “Kita harus istiqamah dalam bermaiyah dan menjaga nilai-nilai Maiyah. Masa depan membutuhkan orang Maiyah yang memiliki cara berpikir, bersikap, kebijaksanaan, dan kearifan yang matang. Karena Maiyah mampu merangkul semua dalam kebersamaan untuk menuju kepada silmi yang sejati.”

Terakhir, Pak…

Entah mengapa saya yakin bahwa Bapak tetap menemani kami. Seperti nama Bapak yang berarti cahaya, sinarnya akan tetap dan sangat kami tunggu sebagai penerang di zaman gelap gulita ini. Oh ya… Sampaikan salam kami semua pada baginda Rasulullah ya, Pak. Sampaikan pada beliau bahwa entah kenapa kami rindu padanya walau tak sedetikpun kami bertemu. Bermaiyahlah di sana bersama Rasulullah. Juga sedulur Maiyah yang lain. Pak Ndut, Pak Mitra, Mas Zainul, Pak Is, Pakde Nuri, Bu Halimah, juga yang tak bisa saya sebut satu-persatu.

. . .

Sekian dulu kabar dariku, Bapak. Terus temani kami semua yang masih harus bertarung di medan laga ini melalui pancaran cahaya, energi, dan ilmu. “Rasa kehilangan pasti akan ada. Bila kaupernah merasa memilikinya”. Selamat jalan, Pak Nur. Sampai berjumpa lagi.

 

Wassalam,

Dengan segala hormat dan takzim

 

Fajar Wahyoko

 

 

Wahyoko Fajar, Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Biasa meracau di akun twitter @wahyokofajar dan IG WahyokoFajar.