Oleh : Prayogi R Saputra

Saleh terpekur, dua laki-laki setengah baya duduk di hadapannya. Ketiganya terjebak dalam keheningan yang panjang. Siang berangsur luruh. Bayang-bayang matahari hampir sejajar dengan benda aslinya.  Di kejauhan, suara lembu melenguh. Derit bambu yang bergesekan di pekarangan belakang rumah Saleh menyayat-nyayat hati. Beberapa ekor ayam sedang mengais-kais remah-remah makanan di halaman. Sepanjang hari, nyaris tak ada orang lalu lalang di jalanan.

Sore itu,  Tjigrok masih mencekam. Beberapa orang tokoh partai terlarang sedang dikejar-kejar untuk ditangkap. Mungkin, dihabisi. Lantas mayatnya turut dibuang ke Bengawan Madiun seperti ratusan mayat lainnya yang terapung-apung, dari hulu. Para perempuan dan anak-anak menangis, namun tanpa suara. Mendadak, mereka kehilangan suami, bapak, anak, atau kerabat yang dicintainya.

“Lalu, bagaimana dengan Wajiyo?” Tanya Saleh memecah keheningan.

“Wajiyo juga sudah tidak ada, Kang. Semalam dia sudah diambil,”jawab laki-laki yang bertubuh besar  gemetar. Sementara, laki-laki kurus nampak ketakutan.

“Tolonglah, Kang. Tolong kami. Kami tidak tahu lagi harus lari kemana!” mohon si kurus.

Saleh menarik nafas panjang.

“Kalian sadar mengapa sekarang kalian dikejar-kejar?”

Keduanya diam. Tak hendak menjawab.

“Semua orang itu akan ngunduh wohing pakarti.   Akan menuai apa yang telah dia taburkan. Kelakuan kalian selama ini membuat orang lain memendam kemarahan kepada kalian. Berapa orang yang sudah kalian habisi? Kalian telah menabur angin. Sekarang badai datang kepada kalian. Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana?”

Tetap tak ada suara dari keduanya.

“Tahun 1948 aku sudah dewasa. Aku ikut sholat Jumat di PSM waktu orang-orang kalian mengambil Mbah Mursyid. Sampai sekarang, tak ada yang tahu dimana keberadaan beliau. Kalau dibunuh oleh orang-orang kalian, dimana mayatnya? Tak ada yang tahu.”

Kedua orang itu menunduk semakin dalam.

“Kalian dan kawan-kawan kalian, Sono, Mudji, Wiro, memperlakukan aku dan banyak orang masjid seperti apa?”

Ni, anak sulung Saleh, muncul dari ruang tengah. Dia bergelayut di pangkuan Saleh. Ingusnya belepotan hingga ke baju. Ni memperhatikan dua tamu bapaknya. Lantas duduk di kursi di sebelah Saleh.

“Kalau saja aku tidak bisa lari dari teman-temanmu, dulu, mungkin Ni sudah tidak akan punya Bapak.”

Suara truck berhenti di kejauhan. Lantas, suara ribut-ribut mengembang di udara. Sepertinya, banyak orang sedang turun dari truk dan menyebar ke berbagai penjuru angin. Terdengar suara-suara perintah untuk mencari dan mengepung. Ni berlari ke pintu. Menengok ke luar. Lantas kembali merangsek ke pangkuan Saleh.

“Pak, rame. Takut! Takut!” Ni mendesakkan kepalanya ke tubuh Saleh.

“Sudah tidak usah takut!” kata Saleh.

Beberapa saat hening. Saleh memandang dua tamu di hadapannya sambil bibirnya komat-kamit. Sementara, kedua laki-laki di depannya nampak semakin ketakutan. Keringat dingin keluar dari tubuh mereka hingga bajunya basah. Tubuh mereka gemetar. Namun, mereka berdua tetap menunduk tak berani mengangkat wajah.

Suara pintu diketuk.

“Kang,”kata seseorang berambut ikal.

“Eh, kamu. Masuklah, Di!”

Laki-laki berambut ikal itu masuk bersama seorang bertubuh tegap dan mengenakan sepatu. Saleh menyalami keduanya.

“Silakan duduk!”

“Bagaimana?”

“Iya ini Kang. Ini Pak Japar,” kata laki-laki berambut ikal memperkenalkan laki-laki bertubuh tegap.

Keduanya saling tersenyum.

“Kami sedang mencari Tumirin dan Daman, Kang.”

Kedua laki-laki di depan Saleh semakin tenggelam dalam ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Mereka nampak lemas. Tak ada daya.

Saleh menarik nafas dalam.

“Begini akhirnya. Kita harus saling menghabisi.”

“Ya, bagaimana lagi, Kang. Mungkin memang harus begitu. Hutang darah harus dibayar dengan darah.”

Saleh diam. Mereka bertahan dalam keheningan. Lama.

Suara ribut-ribut diluar kembali terdengar.

“Bawa, dia!” seru satu suara.

Lalu kembali senyap.

Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu. Mereka berempat menoleh ke pintu. Sementara Ni semakin dalam meringkuk di pangkuan Saleh.

“Kang Sardi, sudah?”

Sardi dan laki-laki berbadan tegap saling pandang. Beberapa  detik. Lalu laki-laki berbadan tegap mengangguk.

“Kang, kalau Kang Saleh melihat dimana Tumirin dan Daman, tolong nanti kasih tahu saya.”

Saleh menghela nafas, kemudian mengangguk.

“Kami pamit dulu, Kang.”

“Baik, Di.”

“Terima kasih, Pak Japar.”

Saleh menyalami Sardi dan laki-laki bertubuh tegap.

Lantas keduanya keluar. Ni masih saja meringkuk di pangkuan Saleh. Rupanya dia tertidur.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara truck distater dan bergerak menjauh.

“Rin, Daman, mereka sudah pergi,”kata Saleh kepada dua laki-laki di hadapannya.

Kedua laki-laki itu nampak sedikit lega. Menatap wajah Saleh sebentar, tersenyum agak dipaksakan, kemudian kembali menunduk.

“Kalau aku menyimpan dendam kepada kalian dan orang-orang kalian, maka hari ini, saat ini, hidup kalian bisa berakhir.”

Mereka berdua mengangguk dan bergumam lirih,”Terima kasih, Kang.”

“Aku marah kepada kelakukan kalian. Pergilah yang jauh dan jangan pernah datang lagi ke Tjigrok.”

Mereka berdua bersujud, mencium kaki Saleh yang agak kikuk, lantas berlalu pergi. Sementara Saleh memandang mereka dengan mendekap tubuh Ni. Lasir, istri Saleh yang sejak awal mengintip dari  balik pintu, mendekati Saleh.

“Pakne.”

“Tutup pintu!”

Kata Saleh lantas menggandeng Lasir  masuk sambil membopong Ni. “Sebenarnya, aku ingin Tumirin dan Daman juga mendapatkan balasan atas kelakuan mereka. Tapi sudahlah,” Saleh mengambil nafas panjang,”Biar semua sama-sama selamat.”

 

. Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra