Prolog

Paraonah Alajârâh – Prolog BangbangWetan April 2022

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

“Banawa adalah representasi dari laut, yaitu kapal. Sedangkan Sekar adalah representasi dari darat, yaitu kembang (bunga). Dengan Banawa Sekar, maka kita membangun Indonesia dengan membangun infrastruktur darat dan laut sekaligus. Hal ini berdasarkan keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut dan kemudian memungkinkan pemanfaatan banyaknya sumber daya alam yang mampu dihasilkan oleh Indonesia seandainya pembangunan infrastruktur darat dan laut ini dilakukan dengan benar. Banawa Sekar ini adalah konsep yang dimiliki oleh Majapahit.”

[Mbah Nun: Banawa Sekar. Trowulan, 37 Mei 2014]

Pada suatu hari, seorang sahabat dari Mêduntên (Madura) menceritakan padaku tentang salah satu falsafah leluhurnya. “Bagi orang lain, laut sering kali dianggap sebagai penghalang. Bagi kami, laut justru adalah jembatan yang menghubungkan kami dengan pulau-pulau lain.”

Falsafah tersebut apabila dipahami secara jasmani terkesan sama saja. Baik Rèng Madurêh maupun orang dari suku lain sama-sama memerlukan wahana laut untuk menyeberangi laut menuju tempat di seberang sana. Namun, apabila kita pahami secara rohani, perbedaannya bisa sangat signifikan. Rèng Madurêh tak pernah menganggap laut adalah sebuah penghalang sehingga umek memerlukan jembatan besar nan panjang apabila ingin menggapai pulau seberang. Karena toh laut itu sendirilah “Sang Jembatan” yang langsung diturunkan Gusti Pangeran untuk selanjutnya bersama-sama kita arungi dengan gagah berani.

Kalau kita ingin kembangkan ke ranah yang lebih makro. Jembatan yang bernama laut merupakan jembatan tanpa ujung yang bisa membawa kita ke mana saja. Tergantung seandal apa navigasi kita. Se-titen apa kita pada peta kerlap-kerlip bintang gemintang dan rasi-rasi di atas sana. Kita bisa berlayar menuju ke arah yang lebih baik, bahkan lebih buruk. Semua tergantung kita sendiri. Kalau urusan laut ternyata baik, tak ada salahnya kita bawa ke daratan, bukan!?

Mengingat lautan negara kita ⅔ lebih luas dari luas daratan, rasanya berlayar merupakan sebuah kewajiban. Ingat, jangan hanya diartikan secara jasmani. Kembali seperti kata sahabatku yang sering kali menyebut dirinya sebagai orang Mataram (Madura Tanah Garam) bahwa kita harus siap “Abental ombek asapok angèn salanjânggah”, berbantal ombak berselimut angin sepanjang perjalanan. Kita harus siap berjuang apabila kita ingin belajar tentang banyak hal, ke luar dari zona nyaman, menemukan ilmu-ilmu baru, dan untuk semakin mengerti tentang makna hidup kita. Kembangkan layarmu, aplikasikan ilmu navigasi terakuratmu, siapkan mental dan fisik, bersiaplah karena paraonah alajârâh. Bersama kita kan arungi Sang Jembatan bernama lautan luas nan tak berujung ini di BangbangWetan edisi Ramadhan 1443 Hijriah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *