Pasar Rakyat

Oleh: Fajar Wahyoko

Jumat siang tadi untuk kali pertama saya salat Jumat di Masjid Agung Sidoarjo. Semesta menggiringku tuk lalu menjelang azan berkumandang, hingga terambil keputusan untuk salat di masjid itu sembari rehat siang sejenak. Bukan salatnya yang akan saya bahas dalam tulisan ini, karena salat Jumat di masjid manapun –maaf– ya begitu itu, dan memang harus begitu. Kalau tidak begitu, bid’ah namanya.

Yang menarik bagi saya dalam pengalaman tersebut adalah banyaknya para pedagang dadakan yang menggelar lapak dagangan mereka di sekitar pintu masuk Masjid Agung Sidoarjo. Memang harus diakui bahwa masjid tersebut terletak tepat di barat alun-alun Sidoarjo yang tak pernah sepi dari lapak peka 5. Namun terlepas dari itu, dilihat dari cara mereka berjajar dan menata lapak, saya berani menerka bahwa mereka adalah “pedagang jumatan” –sebuah istilah ciptaan saya sendiri untuk peka 5 yang berjualan di tempat itu hanya menjelang dan setelah salat Jumat–.

Sebenarnya bukan fenomena baru bagi saya, karena fenomena sejenis sudah sangat sering saya temui, terutama di masjid kota besar. Di Masjid Cut Meutia, Gondangdia, Jakarta, saya sempat terperangah karena ada pedagang yang menawarkan burung dalam sangkar –dalam arti sebenarnya– dan pakaian dalam, sesuatu yang belum pernah saya temui sebelumnya ketika turun masjid seusai Jumatan. Belum lagi para cewek-cewek SPG berkerudung ala ibu-ibu pejabat yang menawarkan produk mereka, dari tawaran kredit motor, mobil, kartu kredit, juga rokok. Pun demikian dengan kekhasan masing-masing di masjid lain yang tak usah saya sebut satu persatu. Dan, tetap saja hal tersebut tak bisa menghilangkan kesan saya Jumat tadi.

Mulai dari tasbih serta once aneka bentuk dan bahan, madu murni lengkap dengan rumah tawonnya, ginseng, alat-alat pertukangan, antena portabel, obat mujarab untuk 1001 macam penyakit, kacamata, dompet, kaos kaki, sandal refleksi, serta serbaneka es hingga jajanan pasar berbagai jenis, semua terhampar di sekitaran pintu masjid, ditambah jargon-jargon dan kata-kata lamis untuk caper kepada si calon pembeli. Lunaslah pengalaman baru saya di Masjid Agung kota udang tersebut.

Saya bukanlah ekonom, jadi tak akan membahas hal tersebut dengan dalil dan teori ekonomi. Yang saya tahu hanyalah idiom ‘ada gula, ada semut’. Saya melihatnya dari sisi lain, sisi humanisme. Sebuah pemandangan yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja, cenderung semrawut, bising, bikin arus keluar masjid tersendat, dan beragam opini kontra lain. Terlepas dari itu, dari fenomena itulah saya menemukan dan belajar banyak hal; dialog akrab antara penjual dan pembeli, uji tawar-menawar yang sengit, para penjual yang tak takut tuk saling berjajar walau barang dagangannya sama, hingga banyak lagi sisi-sisi humanis yang kini –entah kalian rasa atau tidak– kian terkikis dan terganti dengan cara jual beli yang kaku, profit minded, serta beragam teori yang meletakkan konsumen laksana pabrik uang bagi sang produsen.

Fenomena pasar dadakan di sekitaran masjid itu ada kemiripan dengan suasana yang saya temui dan rasakan saat Maiyahan akhir-akhir ini. Baik Maiyahan rutin maupun tentatif.

Maiyahan, apapun itu tajuknya, secara tidak langsung juga menggerakkan roda perekonomian sekitar. Gampangnya, tengok dan bandingkan saja sebelum, saat, dan setelah Maiyahan di lokasi yang njenengan ketahui. Bahkan, tak jarang saya menemukan dulur yang hanya berdagang sebulan sekali khusus saat Maiyahan. Pun, mereka yang turut serta tuk berdagang ke manapun lokasi Maiyahan berpindah. Siapa yang saya maksud? Monggo cermati piyambak-piyambak.

Bagi saya yang karena faktor domisili lebih memungkinkan untuk melingkar bersama Padhang mBulan (PB), BangbangWetan (BbW), dan Maiyahan tentatif area Jawa Timur dibanding daerah lain, maka tentu saja pengamatan hanya berdasar pada area yang telah saya sebut di atas.

Mungkin bukan hanya saya yang merasa bahwa PB setahun belakangan ini semakin ramai dibanding sebelumnya, baik dari segi Jemaah Maiyah (JM) yang hadir, juga dengan dulur-dulur yang berdagang di sekitar ndalem Mentoro.

Masih segar dalam ingatanku ketika 6 tahun yang lalu pertama kali menghirup udara malam Mentoro, hanya ada segelintir pedagang yang nampak. Saat ingin kopi, saya mendapatkannya di Pojok Ilmu. Kopi khas udekan langsung Alm. Pak Ndut. Saat saya lapar, pilihannya hanya ada 3; warung pojok dekat gapura perempatan SMK Global, lodeh racikan mbah seberang ndalem, dan pecel dan/atau nasi goreng Pak Bayan. Ada beberapa pedagang yang lain, semisal pak cilok, bu bakso, atau mbah tahu goreng, namun jangan sangka seperti sekarang jumlahnya.

Setali tiga uang di BbW, selain Pojok Ilmu yang memang istiqomah hadir dalam tiap Maiyahan Jatim, sepuluh tahun yang lalu tak banyak pedagang yang nampak. Kalaupun ada, biasanya mereka memanglah pedagang yang biasa mangkal di sekitar Balai Pemuda, Surabaya, baik saat ada Maiyahan maupun tidak.

Bagaimana dengan kini? Lokasi sekitar Maiyahan tak ubahnya gemerlap pasar malam. Radius sekian puluh meter telah penuh dengan berbagai macam lapak dagangan. Beli kopi tak lagi harus antre. Lapar? Kini warung dan menu kian beragam. Butuh camilan? Tinggal pilih sesuai selera. Hitungan kasar saya menujukkan grafik menanjak yang selaras antara jumlah JM yang hadir dengan jumlah pedagang.

Saya pribadi tidak mempermasalahkan hadirnya dulur-dulur pedagang itu. Toh, saya juga menikmatinya. Karena selain untuk menggerakkan roda perekonomian, hitung-hitung dengan adanya mereka bisa menjadi penarik massa agar mendekat; dari yang belum tahu Maiyahan, menjadi tahu; penyemarak acara; dan pastinya mempermudah JM mencari barang, makanan, serta minuman yang dibutuhkan.

Bagai simbiosis mutualisme, hubungan antara pedagang dengan JM hendaknya saling menguntungkan. Jemaah yang hadir butuh ubo rampe sebagai pendamping nyimak Maiyahan, ya minimal kopi walau segelas, dan itu bisa didapat melalui mereka yang memang sengaja hadir untuk menjajakannya. Dan, mereka pun juga membantu kita yang kadung lungguh jumenak. Tak perlu beranjak, merekalah yang sigap menghampiri kita.

Namun, sangat disayangkan kalau simbiosis tersebut berubah menjadi parasitisme. Ah, kok rasanya terlalu kasar. Intinya jangan sampai ada satu pihak yang dirugikan.

Maaf sebelumnya kalau ada yang tersinggung, sudut pandang saya yang hanya satu sisi sebagai seorang JM mengatakan bahwa terkadang merasa terganggu juga dengan asongan terutama di sekitar panggung acara. Tujuan primer saya datang ke Maiyahan, ya untuk Maiyahan. Bukan untuk njajan atau berbelanja ini itu. Hendaknya itu juga dipahami oleh dulur-dulurku para pengasong.

Mbok ya kalau menjajakan tidak perlu teriak, toh kami juga paham kalau itu kopi, itu tahu, dan itu kacang. Kami juga paham kalau njenengan keliling untuk berjualan, bukan sekadar pamer barang. Apalagi sampai menyodorkan barang tepat di depanku yang sedang serius nyimak. Duh, mbok ya jangan segitunya.

Sudah seharusnya kita harus saling belajar agar lebih dewasa. Tak elok rasanya kalau saat Maiyahan sampai ada ribut-ribut bab boleh tidaknya pedagang masuk area acara.

Kami para JM butuh kalian, saya yakin begitu juga sebaliknya. Tak sedikit pula para pedagang yang sembari berkeliling juga turut nyimak Maiyahan, saya paham itu karena pernah juga sedikit-sedikit berbincang dengan beberapa pedagang yang biasa berdagang di Maiyahan. Kalian semua saudaraku, walau bertemu hanya sebulan sekali.

Bagi kita para JM, hendaknya juga menyikapi hal tersebut dengan tepat. Terutama bagi dulur-dulur yang gemar mencari buah tangan secara online. Hendaknya kita lebih cermat, jangan pokok barangnya bebau Maiyah lalu asal beli. Tunggu dulu! Mari dipikir sejenak! Dan, ojo kesusu!

Belanja online juga membutuhkan adab. Benar dan pener-kah barang yang hendak kita beli? Resmikah lapak yang menjual barang tersebut? Pertanyaan skeptis yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri. Lagipula apakah nyaman membeli barang kepada orang yang kita ajak bertemu pun selalu menolak dengan berbagai alasan? Dan, bukankah sudah sering diinformasikan berulang kali di mana kita bisa mendapatkan barang-barang –peci, kaos, buku, kaset, atau apapun yang berhubungan dengan Maiyah– secara benar dan pener!?

Hela nafas sejenak, kawan. Jadikan fenomena pedagang dadakan itu sebagai sarana pengangkrab, penjalin silaturahmi, penambah pernik, penghangat suasana, dan segala yang baik-baik saat kita Maiyahan.

Tidak perlu nggetu-nggetu. Saat PB, ayo ngopi bareng di warung Mbah lodeh! Saya tungu…

 

Fajar Wahyoko. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar