Oleh: Rio NS

 

Dalam beberapa hari ke depan, arek-arek Bangbang Wetan; pegiat, pengikut, pecinta, simpatisan hingga para tetuanya sedang menunggu sebuah event “besar” bertajuk “Pasar Etan”. Saya menyebutnya besar karena dua hal. Pertama, event ini dilaksanakan di tengah situasi Aplikasi Kebiasaan Baru yang kerumunan massa dalam jumlah tertentu adalah satu bentuk kemewahan. Kedua, kegiatan itu seolah menjadi pernyataan sikap tegas bahwa sebagai sebuah perkauman, Bangbang Wetan telah cukup siap untuk menjadi, atau setidaknya, disebut sebagai Majelis Masyarakat Maiyah. Seperti kita tahu, indikator utama eksistensi sekelompok masyarakat adalah keberadaan pasar.

 

Pasar mensyaratkan adanya 4 elemen utama: penjual, pembeli, komoditas, dan transaksi. Keempat instrumen ini bukan hanya saling melengkapi namun merupakan serangkaian unsur komplementer. Ketiadaan satu unsur membatalkan definisinya sebagai satu kesatuan.

 

Sik ta lah, benar, telah terpenuhikah keempat anasir di atas? Dari daftar lumayan panjang pelapak yang siap menggelar dagangannya, terlihat keragaman yang cukup mengagumkan. Segala kebutuhan dari “sembokting” hingga pernik barang-barang bagi hobiis tersedia. Dengan rendah hati bisa saya sampaikan bahwa sepasang pengantin baru atau jomblo kronis yang pseudo bahagia akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dalam 1-2 bulan ke depan dengan berkunjung dan mborong apa-apa yang dijajakan di Pasar Etan.

 

Pertanyaan wajar dari setiap penyelenggaraan bazar adalah keraguan akan laku-tidaknya barang yang ditawarkan. Terlebih kalau kita kaitkan satu guyon pari kena di perbincangan hangat para gentho di Surabaya raya bahwa Gusti Allah sugih, sing kere arek-arek. Sudah benar-benar siapkah mereka yang akan menawarkan barang dagangannya? Ingat, perilaku window shopping juga masih menjadi salah satu ciri khas kawan-kawan.

 

Saya mencoba menghibur dan menyemangati diri sendiri dengan, lagi-lagi, dua hal. Pertama, bazar ini tersambung secara kronologis dengan pelaksanaan forum rutinan Bangbang Wetan. Meski sifatnya masih e-meeting, namun kerinduan akan suasana ndoprok bareng hingga tengah malam menjadi derita banyak orang. Nah, Pasar Etan ini akan menjadi pengobat temporer yang akan membantu sedikit menghilangkan gejala klinisnya. Karena tindakan kuratif total belum mungkin kita selenggarakan.

 

Suasana rapat persiapan Pasar Etan

 

Kedua, jangan remehkan loyalitas arek-arek Surabaya. Di keseharian, mereka mungkin memilih lelaku makan sekali sehari atau rokok pun terpaksa beli eceran. Namun, jika menyangkut Bangbang Wetan, ibarat udan linggis pun akan mereka terjang. Namun ijinkan saya tetap berharap, kalaupun terpaksa hutang, ya, sak cukupe ae, rek. Percayalah bahwa datang, berkumpul, dan ketemuan kita di hari Minggu itu sudah akan jadi catatan baik bagi kian merebaknya bunga persaudaraan dan keberkahan.

 

Keyakinan ini masih bisa ditambahkan dengan, misalnya, bahwa Pasar Etan akan menjadi terbukanya jejaring perekonomian atau marketplace berbasis pertemanan. Eksesnya bisa saja terlihat nyata setelah 1-2 bulan pasca pelaksanaan. Secara sederhana, sebut saja bahwa seusai Pasar Etan, dengan energi untuk saling menguatkan, masing-masing kita akan punya daftar pasti kepada siapa kita harus membeli segala kebutuhan.

 

Di sisi lain, Pasar Etan secara asertif menegaskan betapa arek-arek Bangbang Wetan ini masih lumayan deras teraliri darah bondo nekad-nya Surabaya. Beberapa kegiatan telah tercatat berhasil mereka tuntaskan dengan tatanan nada dan irama yang nyaris berulang: ragu di awal, risau saat hari-H, namun—alhamdulillah—selalu berakhir dengan senyum lebar berkepanjangan.

 

Saya belum punya keberanian untuk mengatakan betapa “Matahari terbit dari Timur”. Tetapi, sepanjang 14 tahun perjalanan, Bangbang Wetan sudah dan masih akan terus mengupayakan “orang-orang berkumpul di Timur”. Untuk sekadar melepas napas panjang di tetirah dari lelahnya perjalanan, me-recharge tenaga agar tetap tangguh di jalan panjang kesunyian, atau untuk meyakinkan bahwa masih ada jabat hangat dan tawa lepas di Indonesia yang kian entah di mana juga ke mananya.

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto