Kolom Jamaah

Pasukan Berkalung Blek – Hari-hari di Sumbersari (2)

Kemlagen #33

Oleh: Samsul Huda

Di rumah masa kecil saya di Lamongan, pernah tinggal beberapa saudara. Yang pertama, Sumarlan, kami memanggilnya Man Lan. Ia adalah adik bungsu ayah. Agak sulit  membayangkan  wajahnya  meski namanya  selalu  masuk  dalam  daftar  kiriman Fatihah saya untuk keluarga. Man Lan merupakan “anak asuh” sekaligus tangan kanan ayah ketika perekonomian keluarga kami jaya. Beliau wafat di umur yang relatif masih muda dengan meninggalkan tiga anak.

Di samping Man Lan, ada Bik Kah (ustadzah Sholihah, perintis dan pendiri Taman Pendidikan Al-Qur’an di suatu desa). Beliau adalah adik Ibu yang dirawat, diasuh, dan disekolahkan oleh kedua orang tua saya sampai menikah. Sesudah Bik Kah menikah dan pulang ke rumah kakek, giliran Man Di yang lahir dengan nama lengkap Imam Suhadi. Adik ibu paling buncit ini sekarang menetap di Ngagel Surabaya, diboyong oleh ayah dan ibu agar bisa meneruskan sekolah karena Mbah Antiyah—ibu dari ibu saya– menderita sakit cukup lama.

Di tahun terakhir sekolah MI pada 1977, kondisi ekonomi ayah mulai mengalami penurunan. Bersyukur, begitu lulus MI saya dikirim dan diantar ke pondok pesantren oleh ayah seorang diri (baca seri Kemlagen #2). Lebih bersyukur lagi, seiring menurunnya ekonomi ayah, dibarengi dengan meningkatnya jenjang dan prestasi pendidikan saya dan adik-adik. Bahkan, alhamdulillah, saya bisa lulus kuliah dan meraih gelar sarjana ilmu pendidikan dari IKIP Malang (sekarang Univ. Negeri Malang). Pencapaian ini saya dapatkan dengan bekerja keras dan membanting tulang. Ya, kuliah sambil menjalankan usaha onde-onde.

Ketika usaha saya mulai berjalan, ada seorang anak yatim dari Lamongan yang datang ke rumah kontrakan. Namanya Ahyhuri, putra pertama almarhum Man Lan. Saat itu masih kelas 2 SMA dan mutasi ke SMA Putra Harapan, salah satu sekolah milik yayasan IKIP Malang. Ahyhuri ikut menjajakan onde-onde bersama beberapa anak seusianya yang berasal dari lingkungan Sumbersari dan sekitarnya. Nama-nama yang masih saya ingat adalah Mimin (Sumbersari gang 3),   Cipto (Ketawanggede), dan Buang (Jl. Jombang). Selebihnya, daya ingat saya sudah kehilangan rekam jejak mereka.

Mereka yang ikut bergabung bersama saya berjualan onde-onde itu masih sekolah. Kecuali sepupu saya Ahyhuri, mayoritas dari mereka masih SD dan SMP. Bocah-bocah itu ingin mengikuti jejak saya: sekolah sambil bekerja untuk memperbaiki keadaan yang kurang beruntung. Kegiatan harian saya setiap pagi adalah mengantarkan onde-onde ke warung-warung. Siangnya, sepulang anak-anak sekolah, menyiapkan onde-onde untuk mereka jajakan. Kalau di awal-awal masa kuliah saya “berkalung blek” pagi dan sore, anak-anak itu melakukannya hanya di siang hati, selepas jam sekolah.

Kenapa mereka mau melakukannya? Bukankah seharusnya, sepulang sekolah mereka asyik bermain dengan teman-temannya. Ternyata motivasi itu datang dari pengamatan mereka atas apa yang saya lakukan yakni “berkalung blek“, berkeliling menjajakan onde- onde padahal saya adalah seorang mahasiswa. Orang tua anak-anak itu juga kenal dan paham siapa saya. Tidak jarang kami ngobrol saat saya bertandang ke rumah mereka.

Bentuk atau pola kerjasama saya dengan mereka saya ambil dari apa yang dilakukan bekas juragan di Polowijen kepada anak buahnya. Mereka yang tinggal bersama saya (makan dan tidur di bawah tanggung jawab saya) berjualan pagi dan sore serta ikut membantu proses pembuatan onde-onde. Mereka berusaha menjualnya sampai habis. Harga setoran lebih murah dibanding harga yang saya tetapkan untuk warung. Selain itu, ada bonus berupa 1 butir gratis untuk setiap 25 butir onde-onde  Harga jual @Rp 50: setor ke saya @Rp 35. Kalau seorang anak, misalnya, membawa 50 butir maka dia mendapat untung Rp 850.

Di era tahun 80-an uang Rp 850 sudah sangat berharga. Apa lagi dihasilkan oleh jerih payah anak seusia SD. Saat itu, SPP saya di IKIP Malang persemester masih Rp 30.000. Sehingga anak-anak itu dan bahkan orang tua mereka ikut senang dan bahagia melihat anak-anaknya bisa menghasilkan uang dengan tetap melanjutkan sekolahnya. Sebuah upaya membantu perekonomian keluarga yang terbilang “pas-pasan”.

Allah melalui Surah Luqman (31) Ayat 34 berfirman:

وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sedetik saja waktu di depan kita adalah gelap gulita, serba gaib dan sama sekali tidak bisa diduga. Kita tidak tahu apa yang akan kita usahakan dan terjadi pada diri kita sendiri. “Jalani gelapnya hidup dan kehidupanmu dengan iman dan yaqin“, begitu pesan Mbah Nun dalam satu kesempatan di pengajian Padhang mBulan.

Allah melalui Surah Al-Baqarah (2) ayat 3 juga berfirman:

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ

“Yaitu orang-orang yang sepanjang hidupnya terus menerus mengimani terhdap hal yang ghaib.”

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published.