Peci Maiyah; Mahkota Bagi Orang-orang Biasa

Dari Redaksi – 

Dalam hitungan statistik sederhana, bisa dikatkan bahwa setiap orang yang pernah bersinggungan dengan Cak Nun, Kiai Kanjeng, atau Maiyah mengetahui benda ini. Peci, kopyah, atau kupluk  (selanjutnya: peci) dengan kain lentur berwarna merah di bagian atas dan putih di sisi bawah yang mengelilinginya. Peci ini selalu terlihat di acara-acara bertajuk Tadabburan, Sinau Bareng, atau perhelatan lain yang dihadiri Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

Meski tidak selalu dikenakan Cak Nun atau personil Kiai Kanjeng di atas panggung, penutup kepala yang bagi banyak pihak dianggap memiliki makna tertentu itu dengan mudah kita temukan dipakai oleh mereka yang kebetulan berperan sebagai jama’ah atau sekedar penonton. Serupa namun jauh berbeda dengan bendera bertuliskan nama sebuah band dari Jakarta yang juga terkesan “ada dimana-mana”, peci ini bukan hanya ada dimana-dimana tetapi juga sampai “kemana-mana”. Kenyataan lainnya adalah peci ini tidak selalu memiliki dwi warna merah-putih saja. Ada hijau-putih, abu-abu-putih, hitam-putih, hingga yang satu warna hitam saja. Terkait varian satu warna, sejauh ini, belum ada yang berwarna selain hitam. Putih pun nihil belaka.

Pada kesempatan ini, kita telusuri kembali titik awal lahirnya peci yang tidak pernah diproklamirkan namun secara aklamasi disepakati sebagai Peci Maiyah. Fase-fase awal pembuatan dan distribusi Peci Maiyah, sisi lain penyerta kelahirannya, serta makna dan harapan yang menjadi Yoni atau substansi nilai bahwa Peci Maiyah dianggap sebagai “Jimat” di mana hal tersebut secara sangat serius dijaga keberadaannya.

 

Seorang Habib di Ibu Kota Hingga Sebuah Toko di Jalan Malioboro

Pada kisaran Juli 2001, sepulang dari Jakarta Cak Nun dan Mbak Novia membawa oleh-oleh berupa sejumlah peci yang dibagi-bagikan ke anggota Kiai Kanjeng. Peci berwarna abu-abu-putih itu lalu dipakai oleh Cak Nun sendiri dan anggota Kiai Kanjeng di setiap pementasan. Pementasan di sini jelas dengan tanda kutip karena sesungguhnya mereka tidak sedang melakoni pementasan dengan kesadaran niat untuk ditonton atau untuk unjuk kebolehan bermusik. Pementasan yang dimaksud adalah acara Cak Nun bersama Kiai Kanjeng untuk menyapa, berempati, dan menemani masyarakat. Pada untaian rundown-nya, digelar wirid, sholawatan, penyampaian informasi, ajakan untuk meluruskan dan merekonstruksi pemikiran, serta tak kalah penting, diskusi yang sangat cair dan terbuka.

Peci yang menurut Cak Nun didapat dari seorang Habib di Jakarta ini, tidak bertahan lama. Impresi yang didapat masyarakat ketika menghadiri acara Kiai Kanjeng membuat mereka ingin menyimpan lebih lama kesan itu dengan cara mendapatkan benda atau souvenir dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Karena tidak mungkin memberikan alat musik atau baju putih-putih yang dikenakan, maka peci menjadi pilhannya. Untuk memenuhi kekurangan atau bahkan habisnya stok peci, dicarilah peci serupa di pasar, gerai atau outlet yang biasa menyediakan perlengkapan Busana Muslim. Catatan sejarah membawa pencarian itu ke sebuah toko di jalan Malioboro bernama “Al Fath”. Dari toko inilah stabilitas pasokan peci bisa terjaga. Dari toko ini pula warna peci yang semula hanya atas abu-abu samping putih mulai bervariasi. Ada hijau-putih, hitam-putih dan warna yang kelak menjadi sangat ikonik: merah-putih. Cak Nun maupun personil Kiai Kanjeng tidak lagi khawatir bila ada masyarakat yang meminta agar peci itu direlakan untuk dipindahtangankan.

Berawal dari buah tangan seorang Habib di Jakarta, dipakai dan dibawa keliling Maiyahan, habis, membelinya dari sebuah toko di jalan Malioboro adalah hentakan awal Peci Maiyah. Perjalanan waktu dan logika ekonomi dengan aspek produksi dan distribusi membuat ketersediaan peci tersebut tidak selalu ready stock di toko Al Fath. Maka kemudian dimintalah Pak Fikri (seorang sahabat dari Solo) membuatkannya untuk kebutuhan Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang diperkirakan tidak akan pernah usai.

 

Hizbul Maiyah dan Pojok Ilmu

Ragam warna yang dibuat Pak Fikri sama dengan apa yang diperoleh dari toko Al Fath. Produksi Pak Fikri inilah yang kemudian disalurkan ke Cak Mahfud (pendistribusi souvenir Maiyah pada waktu itu) untuk mulai dijual ke jama’ah. Jalur pendistribusian ini terus berlanjut hingga muncullah nama Pak Ndut (alm.). Awalnya beliau menggelar dagangan buku-buku bernafaskan Islam di acara Padhang mBulan. Lapak kaki lima yang diberi nama “Pustaka Padang mBulan” ini kemudian juga menyediakan buku-buku karya Cak Nun serta pernik merchandise Maiyah yang dipasok oleh Cak Mahfud. Pak Ndut tidak hanya menggelar dagangannya di Padhang mBulan namun juga di event Haflah Sholawat yang ketika itu rutin diadakan di Masjid Al-Akbar, Surabaya. Karena ke-istiqomah-an Pak Ndut bersama Pustaka Padang mBulannya Cak Mahfud juga menitipkan Peci Maiyah kepada beliau.

Di rentang tahun 2004, terdapat dua catatan sejarah penting yakni pemberian nama “Pojok Ilmu” oleh Cak Nun untuk menggantikan “Pustaka Padhang mBulan” dan pembuatan Peci Maiyah oleh Pak Ndut. Krenteg awal pembuatan ini karena dirasa bahwa ukuran peci yang datang dari Yogya seringkali kekecilan. Legalitas untuk membuat sendiri Peci Maiyah oleh Pak Ndut seperti mendapat keabsahan dari peristiwa dimana Cak Nun secara khusus diukur lingkar kepalanya menggunakan tali oleh Pak Ndut. Sehingga khusus Peci Maiyah yang digunakan Cak Nun memang sangat origin dan taylor-made. Kekhususan Peci maiyah yang dibuat almarhum Pak Ndut untuk Cak Nun juga terletak pada lubang pada bagian atasnya. Menurut Mbak Sofie (Istri Alm. Pak Ndut), waktu itu Pak Ndut sempat kewalahan memikirkan bagaimana cara memenuhi permintaan Cak Nun mengenai lubang yang dimaksudkan sebagai “ventilasi” agar tidak terlalu panas ketika beliau memakainya. Keragaman warna Peci Maiyah pun semakin banyak. Meski warna merah-putih tetap menjadi primadona.

Ketika Haflah Sholawat “dibekukan”, Pojok Ilmu tetap setia menjadi bagian tak terpisahkan dari Padhang mBulan. Dari Bangbang Wetan lahir sampai dengan sekarang, Pojok Ilmu senantiasa turut serta di setiap perhelatannya. Ada kisah pada satu agenda Bangbang Wetan di Balai Pemuda Surabaya, Cak Nun berpapasan dengan seorang Jama’ah Maiyah yang menggunakan peci namun dengan warna atas putih dan samping–yang lebih dominan—merah. Secara spontan Cak Nun menyebutnya sebagai “Hizbul Maiyah”. Mungkin dominasi warna merahnya memberi kesan lebih garang dan seolah sebuah ekspresi yang menyiratkan sisi kesiapan sang pemakai sebagai seorang Laskar Maiyah yang siap diberangkatkan ke medan laga, entah kapan atau dimana.

Seiring berjalannya waktu, peci yang dibuat Pak Ndut terus meningkat jumlah produksi dan permintaannya. Tercatat nama Ma’ruf dari Yogya sebagai pengelola Merchandise Maiyah juga pernah memesannya dari Pojok Ilmu. Ma’ruf pun pada akhirnya memroduksi sendiri Peci Maiyah sebagai komplimen dari barang-barang merchandise lain yang lebih dulu dijualnya. Sehingga sampai saat ini distribusi Peci Maiyah semakin menyebar ke berbagai wilayah.

 

Hak Paten dan Standardisasi

Sebagai sebuah organisme, merupakan suatu kewajaran bila Maiyah terus mengalami tumbuh kembang. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut bisa dilihat dari semakin banyaknya simpul dan lingkaran Maiyah di berbagai kota. Bicara soal jumlah, tidak bisa dilepaskan juga kenyataan skala masifnya jama’ah yang menghadiri acara Tadabburan atau Sinau Bareng. Terhadap hal ini, kita mengenal istilah Maiyah Cair, Maiyah Gelombang, dan Maiyah Padat. Demikian halnya dengan Peci Maiyah. Dari “hanya” sekedar kopyah atau peci yang tidak dimaksudkan apapun kecuali sebuah pernyataan yang menurut Cak Nun: Bukan untuk melaporkan kesucian, melainkan lebih sebagai pengakuan kehitaman. Saat ini, Peci Maiyah telah menjadi sebuah bentuk proklamasi diri, identitas, kebanggaan sekaligus juga jimat, sikep, dan pusaka.

Menyikapi hal itu, pernah ada suatu ide atau klesak-klesik untuk mendaftarkan Peci maiyah ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (DEPKUMHAM) agar bisa mendapat Hak Paten eksklusif. Namun kemurahan hati dan keikhlasan Maiyah itu sendiri menjadikan rencana ini belum pernah terwujudkan; sehingga kalaupun bila suatu saat ada pihak yang mematenkan peci sejenis Peci Maiyah, tampaknya tidak akan ada yang meributkan dan memilih untuk bersyukur karena telah menambah isian di salah satu kolom rekening kebaikan Maiyah.

Bahwa Peci Maiyah telah menjadi komoditas ternyata juga sulit dielakkan. Kenyataan terus meningkatnya permintaan ditambah dengan pasokan yang masih terkesan parsial dan “tertutup” menjadikan munculnya orang-orang yang memanfaatkan peluang bisnis ini. Perkembangan media sosial yang nyaris tak berpagar dan tanpa rambu membuat kita dengan mudah menemukan online-reseller atau bahkan produsen Peci Maiyah yang lain. Uniknya, mereka menawarkan harga di bawah harga Pojok Ilmu dan Merchandise Maiyah serta serbaneka aksesoris tambahan sesuai keinginan pembeli. Paduan warna, tambahan tulisan border maupun sablon atau ukuran menjadikan Peci Maiyah sebuah produk yang laris manis dan menjanjikan profit besar bagi penjualnya.

 

Peci, Percaya, dan Kepatuhan

Bagi yang rajin mengikuti rubrik Daur di halaman caknun.com, kegelisahan Markesot adalah gambaran adegan keseharian yang intensitasnya fluktuatif namun ibarat kontur tanah, lebih sering menunjukkan gunung dan pebukitan ketimbang lembah atau dataran rendah. Seiring dengan itu, menjelang hitungan Daur ke-200 hingga kini, kita melihat betapa Cak Nun selalu mengenakan Peci Maiyah di acara-acara yang bersifat publik. Dalam konteks beliau sendirian atau bersama Kiai Kanjeng.

Kembali ke pemahaman mengenai hubungan guru-murid, sudah selayaknya kita mengikuti apa yang menjadi perkataan, perbuatan, tingkah laku, juga gaya berpakaian Sang Guru. Karena meminjam pepatah lama bahwa ‘Meniru yang baik adalah baik’ dan juga oleh sebab mematuhi Guru adalah bentuk lain dari bakti pada orang tua; maka lebih sering memakai Peci Maiyah adalah satu amalan yang bisa kita lakukan nyaris tanpa resiko, tanpa biaya. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

 

picture1 

 

  

Insert #1

Peci atau kopyah yang kini lebih dikenal sebagai Peci Maiyah ini pada awalnya berwarna atas abu-abu dengan samping putih. Perkembangan warna diperoleh dari varian yang tersedia di toko Al Fath, sebuah toko perlengkapan Muslim di Jalan Malioboro. Warna merah-putih pada masa itu dianggap biasa saja namun mengalami lonjakan permintaan setelah dipakai oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng pada cover depan kaset salah satu album CNKK. Selain warna merah-putih yang akhirnya menjadi ikonik, nama Peci Maiyah sendiri tidak pernah sengaja disematkan kepada peci yang bila lipatannya dibuka / dipanjangkan bisa menjadi penahan dingin semacam balaclava. Lebih karena peci itu yang selalu menemani acara Maiyahan Cak Nun dan Kiai Kanjeng-lah maka Peci Maiyah menjadi sebutan yang memang sangat tepat denotasinya. Peci Maiyah secara asertif menegaskan apa yang ditulis Cak Nun bahwa “Bahasa kenegaraan Maiyah itu nasionalisme. Bahasa mondialnya universalisme. Bahasa peradabannya pluralisme. Bahasa kebudayaannya heterogenisme…”

 

Insert #2

Bicara soal identitas Peci Maiyah sebagai identitas bagi Jama’ah Maiyah, tentu saja hanya diperuntukkan bagi Jama’ah laki-laki saja. Sehingga sifatnya sangatlah “mudzakr”. Lalu bagaimana dengan Jama’ah perempuan? Sudahkah ada penanda serupa yang sifatnya “muanats”? Pada acara penganugerahan Haflah Maiyah di Gedung Cak Durasim Surabaya tahun 2011, mbak Novia Kolopaking menggunakan kerudung merah-putih yang dipadu-padankan dengan baju gamis putih yang sungguh elegan, Namun kerudung merah-putih tersebut hingga kini belum pernah dijadikan patron bagi mereka di barisan “Maiyahtunnisaa”  sebagai kelengkapan seperti halnya Peci Maiyah bagi jama’ah putra. Kedepan, mungkin akan segera dibakukan kerudung, pasmina, atau bentuk-bentuk tampilan lain yang menjadi determinan bagi Jama’ah Maiyah perempuan.

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini hasil penelusuran team Penulisan Sejarah Peci Maiyah yang digagas oleh penggiat Bangbang Wetan. Terima kasih kepada Cak Nang, Cak Zakky, Cak Mahfud, ibu Sofie, Pak Rachmad, Pak Erfan, Mas Arul, dan Mas Helmi atas informasi serta arahannya.