Berita

PeDe Talenta Sendiri – Berita BangbangWetan Maret 2018

 

Setelah pada malam sebelumnya Surabaya diguyur hujan deras disertai angin kencang yang menyebabkan beberapa ruas jalan tergenang dan macet, pada Minggu, 11 Maret 2018, Surabaya diselimuti langit cerah sejak pagi sampai malam menjelang BangbangWetan edisi Maret digelar. Edisi kali ini BangbangWetan untuk kedua kali berturut-turut dilaksanakan di ‘rumah’ yaitu halaman Kompleks Balai Pemuda.

Menjelang pukul setengah sebelas malam gerimis lembut mulai mengguyur halaman Balai Pemuda. Sehingga, jamaah lebih merapat untuk berteduh di bawah terop, pelataran perpustakaan, dan di pelataran Gedung Balai Budaya. Gerimis yang tidak berlangsung lama tersebut justru semakin menghangatkan suasana BangbangWetan Maret yang mengangkat tema “Etno Talenta”.

Dengan diantar satu nomor lagu dari Padhang Howo (grup musik gamelan dari Pasuruan), para narasumber naik ke panggung. Belum lama duduk di panggung, Pak Suko Widodo, Mas Sabrang MDP, Mas Joko Susanto langsung ‘ditodong’ satu pertanyaan dari salah satu jemaah yang sebelumnya mengikuti diskusi pembahasan prolog di atas panggung. Selanjutnya, diskusi dibuka dengan pemaparan Mas Joko, pakar Hubungan Internasional dari UNAIR, tentang negara-negara yang dalam kurun waktu satu dekade ke depan akan menjadi negara superpower. Pemaparan tersebut kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Mas Sabrang, Ia mengawali pemaparannya dengan mengulang penjelasan Mbah Nun saat Kenduri Cinta dua hari sebelumnya.

Mas Sabrang menyampaikan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak orang yang pintar, sayangnya tidak didukung dengan sistem yang cetha. Sistem tersebut meliputi sistem apa pun, tidak hanya sistem pemerintahan. “Kita tidak punya budaya membangun sistem kredibilitas pada satu bidang.” Sehingga, menurut Mas Sabrang selalu terjadi perebutan posisi untuk disebut ahli dalam setiap peristiwa, misalnya ketika ramai piala dunia, banyak orang menjadi ahli piala dunia. Namun, kita tidak tahu atau tidak punya sosok yang dapat benar-benar disebut ahli untuk menjadi rujukan mencari kebenaran.

Kyai Muzammil yang hadir di tengah-tengah jemaah ketika Mas Joko Susanto memberi pemaparan mengenai tema BangbangWetan Maret, selanjutnya memberi pemaparan yang tersambung dengan penjelasan Mas Joko di awal. Kyai Muzammil menekankan bahwa yang dikatakan superpower bergantung pada tolok ukur yang dipakai. “Semua hanya persoalan sudut pandang dan cara pandang,” jelasnya. Kemajuan dapat terlihat sebagai kemunduran. Kyai Muzammil berpesan pada jemaah agar mempelajari identitasnya dan tidak perlu menjadi bangsa lain. Kaitannya dengan tema, Ia menegaskan kembali bahwa setiap etnis memiliki talenta yang berbeda-beda, maka yang perlu dilakukan adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, tetapi dalam kapasitas sesuai talenta masing-masing.

Menanggapi pertanyaan dari jemaah, Kyai Muzammil menyampaikan bahwa Indonesia akan maju dengan ke-Indonesia-annya. Ia kembali mengingatkan bahwa kita tidak perlu silau dengan barat, lalu ingin menjadi barat. Sejalan dengan yang dikatakan Kyai Muzammil, Mas Joko menambahkan bahwa yang perlu dilatih dari bangsa Indonesia adalah rasa percaya diri atas talenta sendiri. Mas Joko kemudian menutup diskusi dengan sebuah pesan untuk semua jemaah, “Ayo mbeber kloso, biar kita bisa belajar apa pun dari siapa pun. Ning ojo sampe kelangan kloso.”

Tidak terasa diskusi BangbangWetan edisi kali ini menginjak pukul setengah empat pagi, sehingga Mas Amin sebagai moderator mengajak semua yang hadir untuk bershalawat bersama sebagai penutup.

(Rahma, tim Reportase BangbangWetan)