Beberapa hari lalu atas nama demokrasi di negara sabuk khatulistiwa, publik ramai membincangkan debat pilpres menjelang siklus lima tahunan, sementara kita di negeri Maiyah malam ini (21 Januari 2019) melaksanakan agenda rutin bulanan BangbangWetan edisi pembuka di tahun 2019.

Dalam beberapa hari terakhir, Surabaya dan sekitarnya selalu diguyur hujan, tetapi malam itu cuaca cerah menenani jemaah yang berdatangan memenuhi pelataran Pendopo Cak Durasim, Gentengkali, Surabaya. Soundtrack Sengkuni 2019 dan poster ditampilkan di layar proyektor sehingga kabar tentang pementasan Sengkuni 2019 di Surabaya semakin menyebar di kalangan jemaah.

Setelah pembacaan ayat suci Alquran dan salawat nabi usai, jemaah semakin khusyuk mengikuti majelis ilmu yang bertemakan “Bangsa Pendekar”. Mengawali diskusi awal, jemaah diajak  men-tadabburi sejarah untuk menata arah. Berkaca pada prolog, moderator mencoba meninjau definisi pendekar dari berbagai perspektif.

Mas Qoyyum dari Gresik, salah satu jemaah yang menggunakan kaos Sengkuni 2019 maju ke depan menyampaikan sedikit poin tentang tema. Saat ini orang melihat pendekar dari arah sosok. Melalui kutipan dari pementasan Sengkuni 2019 ada kata-kata bijak bahwa sejarah itu ditulis oleh pemenang, tidak peduli benar atau salah. Zaman dahulu orang berani bertarung berhadap-hadapan musuh dengan pusakanya. Saat ini orang menyerang musuh bisa melalui jarak jauh, seperti menembakkan meriam, nuklir, dan sebagainya.

Disambung oleh Mas Irul yang menguraikan definisi pendekar melalui beberapa contoh, mulai dari lingkup terkecil hingga besar. Pendekar adalah orang yang unggul di satu wilayah atau yang menguasai suatu keahlian. Saat ini yang muncul adalah pendekar digital, sedangkan pendekar yang asli tidak kelihatan. Pendekar itu berdaulat atas diri sendiri, sedangkan kebanyakan pemimpin saat ini tidak berdaulat atas diri sendiri. Mereka ada yang mengatur dan dikuasai oleh atasannya. Saat ini orang berperang sudah tidak menggunakan pedang, keris, dan bambu runcing. Seiring perkembangan digital, medan yang dikuasai oleh pendekar semakin luas, seperti media sosial yang digunakan untuk menyerang lawan lewat akun-akun palsu.

Pendapat lain Mas Ahmad dari Lamongan, pendekar itu orang yang berani menyampaikan kebenaran walau itu pahit. Pendekar itu berani dan jujur meskipun resikonya tinggi. Proses untuk menjadi pendekar dapat dilakukan dengan latihan, ditempa dengan melakukan ritual tertentu seperti puasa dan sebagainya agar menumbuhkan jiwa yang kuat.

 

Maiyah Jalan Tauhid

“Di Maiyah ini siapa yang paling pendekar?” Mas Karim mengajak jemaah untuk berdiskusi. Jawabannya adalah Mbah Nun. Mbah Nun melalui virus kependekarannya mampu menularkan ilmu-ilmu kepada jemaah. Satu yang sangat dikagumi dari Mbah Nun adalah istikamah selama dua puluh tahun lebih menemani jemaah PadhangmBulan dan berkeliling hampir setiap malam ke seluruh pelosok Indonesia bahkan luar negeri. Beliau tidak pernah lelah mengajak jemaah untuk membahas negara. Memikirkan bagaimana negara ini bisa aman dan tenteram. Padahal beliau bukan pejabat negara.

Melalui proses penelitian yang dilakukan selama enam bulan, secara personal Mas Karim menemukan kesimpulan bahwa Maiyah adalah “Jalan Tauhid”. Hasanah masing-masing simpul mempunyai karakter untuk menemukan dirinya secara kolektif dalam bentuk sinau bareng. Kebetulan riset yang dilakukan Mas Karim berhubungan dengan menari. “Dancing into different drum”, hidup ini menari mulai dari manusia salat lima waktu setiap hari. Hewan, tumbuhan, dan angin yang berhembus semua dalam rangka menari.

Menari dianalogikan masyarakat kita saat ini dalam satu irama yang sama yaitu irama kapitalisme. Semua orang ingin memperkaya diri yang menyebabkan satu sama lain saling mengalahkan. Maiyah perlahan diajak untuk membuka pikiran seseorang. Negeri Maiyah harus menari dengan landasan yang berbeda. Kita minimal harus bisa mengamankan diri sendiri dan dalam skala luas mengamankan orang lain. Kunci untuk menjadi pendekar bisa dilakukan dengan melawan rasa malas dan serius menemukan apa yang Allah berikan kepada kita.

 

Mencetak Pendekar Masa kini

Diawali dengan gurauan khas Madura, Kyai Muzammil yang sudah berada di panggung bersama jemaah dipersilakan menambah bahasan dari sisi agama. Melalui sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa pendekar bukan yang bisa mengalahkan orang lain, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya sendiri saat marah. Kyai Muzammil menambahkan bahwa pendekar yang ideal adalah orang yang bisa mengatasi segala masalahnya sendiri termasuk hawa nafsunya.

Maiyah ini salah satu realita yang dihadirkan Mbah Nun dalam rangka mencetak pendekar masa kini. Kalau pendekar dalam definisi masa lalu diartikan sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan fisik untuk mengalahkan lawan, Maiyah mencoba mencetak pendekar masa kini, bahwa pendekar tidak harus mengalahkan lawan. Orang Jawa mempunyai filosofi ngalah, ngalih, ngamuk. Mengubah ancaman menjadi kekuatan.

Jika kita teliti jemaah yang hadir ke Maiyahan kebanyakan orang yang banyak persoalan. Mbah Nun tidak pernah memberi solusi atas masalah-masalah itu, tetapi mencoba mengajak bagaimana orang menikmati masalah dan berani menghadapi masalah.

 

Pendekar adalah Orang yang Tidak Tegaan

Menjelang tengah malam sejumlah pesilat dari Pagar Nusa Yayasan Pendidikan Ibnu Husain Surabaya hadir di BangbangWetan sebagai penyambutan kepada Mbah Nun yang telah hadir di lokasi. Dari pertunjukan silat itu Mbah Nun mengajak jemaah untuk sinau bareng mempelajari tujuan pencak silat.

Berangkat dari pencak ini Mbah Nun membuka pertanyaan singkat, “Apa bedanya  pencak dengan olahraga?” Kalau olahraga urusannya dengan menang kalah, kalau pencak urusanya kematangan jiwa dan keluhuran budi sebagai manusia. Sekarang yang harus kita pahami bersama apa itu pendekar? Pemahaman tentang pendekar yang begitu luas dan perlu kita pahami agar harus selalu ada pendekar. Kelak sepulang dari acara Maiyahan ini kita menjadi pendekar cinta, pendekar keluarga, pendekar masyarakat.

Berangkat dari pencak silat kita bisa belajar mengenai kekuatan atau energi. Mbah Nun berpesan agar kita mampu memperkuat tiga jenis energi yaitu:

  1. Energi ilahiah
  2. Energi rububiyyah
  3. Energi nubuwwah

Ciri-ciri Islam itu terdapat unsur syariat agama, unsur fikih, unsur budaya, dan sopan santun. Dalam hidup selalu ada tiga hal, yaitu Allah, Nabi, Umat. Adakah unsur Allah dalam dirimu? Adakah unsur nabi dalam dirimu? Dan unsur dirimu sendiri? Semua itu harus kita pelajari lebih dalam.

Salah satu bentuk kecerdasan orang Maiyah adalah ketajaman memilah sesuatu sehingga tidak mudah anti dan pro. Kita di sini tidak berpihak kepada siapapun. Kita hanya berpihak pada Allah Swt.

“Pendekar yang tertinggi adalah manusia yang tidak punya musuh.” Mbah Nun melanjutkan penjelasan hakikat tema pada malam hari ini. Hakikat pendekar selanjutnya adalah orang yang tidak tegaan kepada orang lain. Dia siap menolong siapa saja dan tidak menunjukkan kehebatannya. Seperti kita bermaiyah ini tidak diakui Indonesia, tidak ada masalah.

Pesan Mbah Nun untuk generasi muda saat ini agar berlatihlah menjadi pendekar masa depan yang akan menumbuhkan semua benih yang ditanam oleh nenek moyang sehingga akan menjadi generasi yang “mempendekari” masalah bangsa.

Pendekar adalah Istikomah dalam Pengabdian

Menyambung diskusi sebelumnya, ada pertanyaan jemaah yang belum terjawab tentang beda antara profesi dan pengabdian. Mbah Nun ikut menambahkan bahwa pendekar adalah profesi yang diabdikan. Selama ini profesi untuk kepentingan diri sendiri. Kalau pendekar mengolah kejiwaan dan rohani untuk mengabdikan keahliannya untuk masyarakat.  Pendekar pada tingkat pawang sudah tidak perlu teknik. Adanya saja sudah cukup.

Kita berkumpul sinau bareng hingga pagi ini juga salah satu teknik mencetak pendekar. Diskusi forum sampai berjam-jam tentunya butuh tata kelola komunikasi yang baik, manajemen waktu, dan sebagainya. Di Maiyah tidak membutuhkan itu karena yang berlangsung di sini adalah rohani kepawangan. Di dalam hatimu ada energi ilahiah sehingga  tahan duduk sampai pagi.

Belajar jadi pendekar untuk diri sendiri perlu dilatih. Pendekar adalah istikomah dalam pengabdian. Hidup itu berisi 99% gaib, pekerjaan utama manusia adalah mutaalimul ghoib, terus menerus menjelajahi yang gaib itu. Agar bisa menguasai keseimbangan atas keluasan yang gaib.

Mari kita pelajari kembali surat Alfatihah dan Annas. Ayat pertama surat Alfatihah bermakna pengayoman, bismillahirrohmanirrohiim, dalam mengelola apapun harus dengan kasih sayang. Dilanjutkan ayat kedua, alhamdulillahi robbil ‘alamiin, wujud ucapan syukur kepada Allah. Apa penyebab orang mengucap Alhamdulillah kalau bukan kasih sayang. Ayat ketiga kemudian diulang kembali betapa penuh kasih sayang Allah terhadap hidup kita, arrohmanirrahim. Ayat keempat, pengayoman Allah dilanjutkan dengan pengakuan bahwa Allah sebagai raja segala  wilayah hari akhir. Pengakuan bahwa kita tidak bisa minta kepada siapapun kecuali Allah terdapat pada ayat kelima, iyyaka a’budu waiyaaka nas taiin.  Kemudian pada ayat keenam baru diteruskan meminta, ihdinassirotol mustaqim. Makna sederhana semisal kalau sakit mendapat sehat, tidak punya uang Allah memberi rezeki, itulah wujud istilah shirotol mustaqim. Yaitu berupa kemudahan dari Allah untuk bisa keluar dari masalah. Rasio dari suatu keadaan, akibat dari sebab, jawaban dari pertanyaan. Ayat ketujuh shirotol ladzina an amta alaihim ghoiril magdhubi alaihim wa ladh-dhooolliin itu lawannya shirotol mustaqim. Apa sebabnya Allah murka? Akibat dari perbuatan yang curang sehingga menuju waladdhollin, tersesat.

Dari Alfatihah kita harus belajar hidup secara berurutan atau teratur. Sebagai catatan untuk jemaah dalam menjalani kehidupan sehari-hari hendaknya berpegangan pada tiga jenis eling (zikir) melalui tiga dimensi ini, yaitu:

  1. Eling lan waspada
  2. Eling tur waspada
  3. Eling ben waspada

Eling ini bermakna zikir, waspada itu takwa. Para jemaah Maiyah yang hadir banyak pulang membawa semangat juang yang membaja dalam menghadapi kehidupan ini. Mereka harus pantang menyerah, sehingga akan menjadi pendekar atau pawang untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan negara.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]