Pendidikan, Belajar dari Alam

Ada hal yang menarik yang reporter BMJ tangkap ketika berbincang dengan Cak Mif tentang pengelolaan sekolah dan pengajaran anak didik. Bagaimana caranya seseorang yang tanpa pengalaman mengelola lembaga pendidikan dan dasar pendidikan keguruan bisa menjadi seorang guru, sekaligus pengelola sekolah, bahkan mendirikan sekolah setingkat SMP?

“SMP waktu mendirikan itu nol. Saya ndak ngerti wong ndak pernah ngurusi sekolah. Kami tidak daftar, pokoke sekolah jalan dulu. Kurikulum ndak ngerti, pokoke cari buku SMP dulu”, begitu tutur Cak Mif yang menggambarkan bahwa beliau benar-benar otodidak dalam mengelola sekolah.

Pada awal berdiri, SMP tersebut hanya memiliki dua orang guru. Cak Mif dan seorang rekan guru yang otomatis harus merangkap-rangkap dalam mengajar. Untuk biaya sekolah dari anak didik pun Cak Mif berunding bersama para wali murid untuk mengumpulkan padi seberat 15kg/siswa/tahun, yang kemudian dikelola untuk pada akhirnya digunakan sebagai imbal jasa bagi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Dalam pengajaran di kelas, Cak Mif sangat menerapkan istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) bahkan sebelum istilah itu ada. Jadi tak heran kalau ada lulusan MI dan SMP Mentoro yang menjadi lulusan terbaik se-Kawedanan Mojoagung.

“SMP berjalan tiga tahun tanpa ijin dan tanpa kurikulum. Tapi lulusannya bisa lebih baik daripada sekolah yang kami tumpangi untuk ujian”, tutur Cak Mif.

Tidak ada mata pelajaran khusus bagi Cak Mif ketika mengajar di kelas. Ibaratnya, jam pelajaran apa yang kosong, maka itulah yang akan diajarkan. Jadi tak heran kalau Cak Mif pernah mengampu banyak mata pelajaran, mulai dari matematika, fisika, kimia, dan pelajaran lainnya. Namun dari semua itu pengajaran yang terpenting bagi murid adalah nilai-nilai penghormatan pada guru.

Menurut Cak Mif, salah satu kesalahan buku pelajaran di sekolah sekarang terutama pelajaran IPA adalah tidak kompatibelnya antara materi dan contoh kasus di buku dengan realitas yang dihadapi oleh anak didik, dan celakanya banyak guru yang tidak memodifikasi materi tersebut sebelum diajarkan kepada muridnya. Padahal ilmu bisa diajarkan dengan cara yang berbeda dan mempergunakan logika dalam melihat alam tanpa harus keluar dari bab yang sedang diajarkan. Istilahnya adalah men-tadabbur-i alam agar kita terlatih untuk berpikir.

Cak Mif memberikan banyak contoh tentang hal di atas kepada reporter BMJ, namun setidaknya kami akan babarkan dua contoh. Pertama, bab belajar dari benda hidup. Cak Mif menggunakan contoh pohon pisang yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar. Kalau kita memotong pohon pisang, pohon tersebut tetap hidup. Namun apabila pohon pisang telah berbuah, maka akan mati, dan tunas-tunas baru yang tumbuh di sekitarnyalah yang akan melanjutkan kehidupan. Dari analogi pohon pisang tadi Cak Mif berpesan, “Sebelum kamu berhasil, ojo leren sinaumu. Jangan putus asa sebelum berhasil”.

Kedua, bab belajar dari benda mati. Cak Mif mencontohkan melalui air. Bentuk air akan mengikuti wadahnya, tidak bisa dipisah, dan bisa berubah wujud menjadi es atau uap. Dari situ kita bisa belajar bahwa air adalah makhluk yang dinamis. “Kita harus dinamis. Kalau diam akan timbul penyakit. Seperti air di bak mandi yang lama tidak dikuras, lama-lama akan berlumut”.

Itulah sosok Cak Mif ketika membahas tentang pendidikan. Seorang guru sekaligus pengelola lembaga pendidikan otodidak yang begitu menekankan pada akhlak, kejujuran, logika berpikir, dan pentingnya sebuah proses pada seluruh anak didiknya.