Penggalian ingatan diri, Ilmu Rasa, dan Ahsanut Taqwim

Gelora semangat dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa jejaknya. getaran semangat itulah yang kita transformasikan sebagai wahana untuk berkumpul bersama pada Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan (BbW), pada Selasa 20 Agustus 2019 di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Dengan mengangkat tema “Sapa Sira, Sapa Ingsun”, BbW Agustus diawali dengan nderes Q.S. Al-Anbiya sebagai setoran untuk meraih kasih sayang dan perlindungan Allah Swt. agar setia menemani setiap perjalanan hidup kita ke depan. Salawat dan wirid juga tak lupa dihaturkan setelahnya sebagai ekspresi akan getar kerinduan kepada Kanjeng Nabi, Sang Penghulu yang menuntun arah dan perjalanan kita menuju Allah.

 

Sebelum diskusi dimulai, Jemaah Maiyah (JM) yang hadir diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya stanza 1 sebagai setoran doa kita agar terbimbing menuju kemerdekaan yang sejati. Grup keroncong dari Unesa malam itu turut menyumbangkan “kemerdekaan” dengan membawakan beberapa nomor lagu. Tak ketinggalan Mas Zuhud yang ikut urun kegembiraan dengan menampilkan permainan sulap kartu.

Mas Sabrang yang hadir juga turut bersalawat dan mewiridkan Shohibu Baiti dengan penuh kekusyukan, sebagai bukti keseriusan kita untuk terus sinau bersama menemukan apa yang baik dan benar. Pada malam itu turut hadir pula Pak Darmaji (dosen ITS) yang merupakan salah satu JM BangbangWetan era awal. Disertai senyuman, Mas Sabrang menyapa JM dengan kalimat pemantik, “Sekarang di dunia ini, di kesadaran yang kita musuhi adalah orang. Padahal yang harus kau musuhi pada orang itu kesalahannya bukan orangnya.”
Penuturan awal itu kemudian dilanjutkan, bahwa letak kebijaksanaan adalah jika kita sudah mengetahui letak master (tuan) dan budak. Master adalah hati kita masing-masing, sedangkan budak adalah bagian-bagian lain dari tubuh kita. Mas Sabrang kemudian merangsang pengembaraan berpikir JM dengan bertanya, “Kenapa ketika anak di kethak orang, orang tuanya marah? Karena rasa aku-nya sudah melebar. Berbeda dengan di sini bahwa kita melakukan sinau bareng tujuannya untuk menemukan resolusi pandang baru. Tujuan kita di sini untuk menemukan kosmos pandang baru. Tidak ada sesuatu hal terjadi di luar sebenarnya. Semua terjadi di dalam dirimu. Misalnya, ketika melihat gelas, gelas terkena pantulan cahaya, pantulan cahaya masuk ke dalam dirimu menjadi pengalaman dirimu.”
Di tengah sesi, beberapa JM dipersilakan maju untuk bertanya. Salah satu ada yang bertanya, “Apa bedanya antara kosong dengan tak terhingga?” Mas Sabrang menjawab, “Nol atau kosong itu konsepnya satu. Sedangkan tak terhingga konsep tak terhingga, konsepnya banyak. Logika matematika sangat berbeda dengan logika tak terhingga karena di dalam logika tak terhingga terdapat konsep tak terhingga.”

Mas Sabrang melanjutkan sinau dengan mengajak semua JM mengembara menuju kosmos pandang dengan menyampaikan, “Semakin banyak teori, semakin banyak kita mempunyai sudut pandang yang berbeda dan semakin banyak yang kita pelajari.”

Level perbedaan antara makhluk dengan manusia dilihat dari impuls ada dua, yaitu: Reaktif dan reaksi. Reaktif berarti tidak memberi jarak pada akalnya untuk mengambil keputusan. Sedangkan reaksi adalah melakukan sesuatu dengan memberi jarak pada akalnya sebagai pertimbangan.
Hewan memiliki sifat reaktif karena tidak mempunyai sudut pandang ke depan. Hewan tidak memiliki rasa malu terhadap apa yang dilakukan sebelumnya. Sedangkan salah satu bentuk reaksi adalah pengetahuan kita terhadap alam yang sangat-sangat kecil, apalagi kepada Tuhan. Jadi ketika kita melakukan sesuatu harus sesuai dengan pengetahuan, selebihnya meyakini terhadap apa yang kita tidak tahu.
Dalam sesi tanya-jawab, ada JM yang bertanya tentang sikap kita terhadap perintah orang tua yang sebenarnya tidak kita senangi. Mas Sabrang urun perspektif dengan mengungkapkan pengalamannya: Perintahnya adalah tidak menyakiti orang tua, bukan mematuhi orang tua. Jadi ambillah keputusan apapun asal tidak menyakiti orang tua.

Terlihat dari pancaran raut wajahnya, JM sangat asyik dan khusyuk saat mendengar penjelasan Mas Sabrang. Terutama saat beliau menjelaskan tentang diri sejati manusia yang selalu ingin bermanifestasi. Akan tetapi karena memori manusia sangat terbatas, maka banyak yang tidak paham akan sesuatu hal. Mengalihkan sesuatu kepada yang disenangi adalah cara untuk mengalihkan perhatian terhadap memori ingatan yang terbatas.
Pembahasan lain yang menarik di BangbangWetan Agustus lalu adalah belajar kepada Kanjeng Nabi. Untuk bisa dipercaya oleh orang lain, nomer satu adalah jujur dan percaya kepada dirinya sendiri. Hidup adalah saksi dalam kehidupan. Kalau mengambil keputusan, ambillah keputusan satu kali seumur hidup. Karena yang bisa mengambil keputusan satu kali seumur hidup adalah hati yang selesai. Minimal hidupmu tak tersiksa masa lalumu. Kalau ada orang tersiksa oleh masa depan, yang bodoh adalah pikirannya sendiri. Karena masa depan belum terjadi kenapa kok merasa tersiksa.

Mas Sabrang menambahkan, ada dua macam ingatan. Ingatan yang pertama ada di kepala. Dalam hal ini adalah pikiran kita. Sedangkan yang kedua ada di badan. Badan merekam memori ingatan yang lebih panjang. Badan selalu berinteraksi dengan alam yang dalam ilmu jawa disebut ilmu rasa.
Agar bisa membaca tanda-tanda alam, hendaknya kita rasakan dulu. Karena di badan punya pengalaman yang lebih panjang sejak Nabi Adam yang disebut DNA. DNA manusia semuanya berasal dari Yang Mulia Adam As. Badan bereaksi secara spontan sebelum pikiran bekerja. Untuk lebih sensitif merasakan, tenangkanlah hati. Sebab, Hati yang tidak tenang akan melahirkan keputusan yang salah. Sebaiknya Kalau memutuskan sesuatu, pastikan pada alur nafas yang jarang-jarang. Semakin panjang alur nafas, maka keputusan yang diambilnya semakin tepat.
Dalam sesi pertanyaan yang lain ada JM yang bertanya tentang, bagaimana caranya untuk mengatasi masalah? Mas Sabrang merespon dengan urun perspektif pengalamannya: “Ketika kamu berjalan dengan bensin nafsu yang ada di depanmu adalah ilusi. Beda dengan bensin yang digunakan untuk berjalan adalah tanggung jawab, maka akan mudah menghadapi masalah. Karena menganggap masalah menjadi bagian dari tanggung jawabmu.”
Belajar kepada pengalaman Kanjeng Nabi bahwa dalam setiap istighfar yang diungkapkan Kanjeng Nabi ada penemuan pengalaman baru. Dalam hidup ada sumberdaya yang terbatas. Pada manusia ada dua hal yang terbatas yaitu waktu dan perhatian.

Di dalam Islam membangun konsep hakim yaitu surga dan neraka. Kalau ingin menjadi dirimu yang lebih baik ke depan temukan hakimmu untuk menjadi dirimu yang akan datang. Kalau tidak ada tujuan, tidak ada kebenaran. Kebanyak keributan yang terjadi di media sosial tidak menemukan tujuannya sehingga menyalahkan dan membenarkan tanpa ada tujuan yang ditemukan bersama. Kita perlu belajar dan memilah benar-salah dalam hidup untuk menemukan efisiensi dalam hidup. Pengembaraan perspektif dan nilai meluas dan mendalam hingga: Kamu tidak akan pernah mengubah apapun di luar dirimu. Yang bisa kamu ubah adalah dirimu sendiri. Kalau ingin melihat diri sendiri, kumpulkan pecahan cermin-cermin untuk bisa memandang dirimu sendiri.

Nuansa sinau begitu asyik dan khusyuk. Mengembangkan ingatan pada badan, melatih ilmu rasa, dengan merasakan apa yang tengah berlangsung. Dan mengingat sebagai wacana menuju kosmos pandang dan nilai. Acara diakhiri dengan salawat dan doa yang dipandu oleh Cak Lutfi dan dilanjutkan dengan salaman sebagai wujud keistiqomahan kita dalam menjaga silaturahmi paseduluran.

[Tim Reportase BangbangWetan]