Prolog

Perguruan Nirsiswa – Prolog BbW Mei 2021

Perguruan Nirsiswa

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

Ki  Hajar  Dewantara,  pendidik  dan  pendiri  Taman  Siswa, mengajarkan  bahwa “Setiap  orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”. Kutipan dari Bapak Pendidikan Indonesia itu ditambah dengan gelombang SARS COV-2 yang menimbulkan situasi pandemi, kami ramu menjadi dua premis utama dalam pokok bahasan BangbangWetan Mei 2021.

Ramuan itu berawal dari sesambatan dua sedulur kita yang bergiat di ranah pendidikan formal: Pertama datang dari seorang pemilik yayasan yang sebagian dari gedung sekolahnya menjadi venue penyelenggaraan forum rutinan kita selama Corona masih menyebar. Keluhan kedua berasal dari kawan kita yang memiliki lembaga pendidikan home schooling di beberapa kota besar.

Yayasan yang dikelola oleh keluarga sejak tahun 80-an itu menggunakan sistem KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Full Day School berbasis Islam. Peserta didik melakukan kegiatan di sekolah dari pagi hingga sore hari. Satu hal yang menyebabkan banyak orang tua menitipkan anaknya di sekolah yang sarana-prasarananya cukup representatif tersebut adalah kesempatan bagi anak belajar ilmu hitung, membaca, sains, teknologi, sekaligus agama. Mata pelajaran agama di sini mendapat porsi berlebih dan mengharuskan siswa terlibat langsung dalam penerapannya di keseharian. Harapannya, orang tua tinggal melengkapi hal-hal yang tidak sempat diajarkan di sekolah, misal adab sopan santun dan kemasyarakatan.

Pandemi global sejal Maret 2020 mendorong kementerian pendidikan di seluruh dunia, juga Indonesia, mengalihkan semua kegiatan persekolahan dari kelas ke rumah. Aktivitas pembelajaran jarak jauh yang akhirnya dipilih adalah kegiatan dengan koneksi internet sebagai landasan utamanya.

Hal ini ternyata menggeser pola pikir dan cara pandang orang tua ke arah paradigma “Tak penting lagi anak sekolah di mana atau lembaga apa karena semuanya akan kembali menggunakan mekanisme daring”. Konsekuensi logisnya berupa penurunan secara drastis peserta didik baru. Kenyataan inilah yang kini tengah dihadapi oleh kedua saudara kita. Singkatnya, sekolah berfasilitas fisik dengan kelas sebagai wahana pembelajaran utama maupun lembaga penyelenggara pendidikan home schooling sama-sama terancam kelanjutan hidupnya.

Lalu ke mana para orang tua menyekolahkan anak-anak mereka? Yups, ke sekolah-sekolah negeri serta  sekolah  yang  tidak  mengharuskan mata  pelajaran agama  memiliki  keistimewaan dan menjadi pembeda. Apa dan di manapun sekolahnya, pembelajaran agama tetap menjadi tanggung jawab orang tua.

Alasan berikutnya adalah pertimbangan kalkulasi biaya. Gempuran virus Corona terbukti melemahkan semua sektor yang menyebabkan degradasi kemampuan ekonomi dirasakan nyaris oleh semua pihak. Pada akhirnya, alokasi biaya pendidikan anak juga terpaksa direduksi. Pada titik inilah sekolah negeri menjadi tempat berpaling.

Masih di atmosfer Syawal dengan mana kami perlu sampaikan taqaballahu minna wa minkum taqabbal ya Kariim, mohon maaf lahir dan batin, mari perbincangkan kenyataan-kenyataan di atas. Akankah lembaga pendidikan yang kita pahami selama ini harus menata ulang metode pembelajaran, fasilitas yang disiapkan, serta cara bagaimana peserta didik didapatkan? Atau model pendidikan pondok pesantren kiranya lebih siap menghadapi tantangan zaman? Di BangbangWetan kelima 2021, mari tetap upayakan pendaran ilmu pada keluasan rasa syukur dan kegembiraan.

—oOo—

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *