Mbah Nun seng nandur dan poso nek kene, awakdewe seng panen dan ngunduh panganane. begitulah ungkapan Mas Akbar dari SabaMaiya.

Menjelang tengah malam hingga wengi mulai lingsir, Rombongan Jamaah Maiyah Nusantara melanjutkan perjalanan dari Makassar menuju Tinambung. Berat rasanya untuk memejamkan mata karena kesempatan langka ini tak pasti datang 5 tahun sekali. Remang jalanan dan syahdunya suasana menahan untuk tetap terjaga, namun tetap lelah yang menang. Pejam telah mengalahkan jaga.

 

Kediaman Mbak Hijrah

 

Sampai di Tinambung, kami beristirahat di kediaman Mbak Hijrah yang pernah ngenger di KiaiKanjeng semasa kuliah di Yogya. Rumah yang khas dengan tampilan adat Mandar ini dekat dengan Masjid Besar Al-Huriyyah. Masjid berkubah hijau putih ini pernah menjadi lokasi pengajian Mbah Nun. Dekat dengan masjid dan rumah Mbak Hijrah berdiri pula Sanggar Teater Flamboyan yang juga merupakan rumah dari Bang Abu Bakar, salah satu pandega Teater Flamboyan. Rumah Bang Abu Bakar sekaligus menjadi markas simpul Papperandang Ate. Di tempat inilah kami dijamu bak saudara jauh yang tak pernah bertemu. Cerita di antara kami tak ada habisnya.

Matahari mulai muncul, kami disambut oleh Pak Tamalele dan Pak Hamzah. Beliau berdua adalah Jamaah Maiyah yang pertama dilantik oleh Bunda Cammana dan Mbah Nun sekitar tahun 1985. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Masjid Shadiq, Sepang, Tinambung. Ketika kami datang ke masjid ini sedang berlangsung pula muludan yang diselenggrakan warga sekitar dan keluarga Imam Lapeo. Sebagai sikap sopan-santun kami selaku tamu di Tanah Mandar, tak kuasa kami menolak hidangan muludan seraya bermunajad dengan getaran atau gelombang batin yang khusus untuk bisa saling salam, mendoakan, dan berbagi getaran-aliran Nur Muhammad yang dititipkan kepada kami. Makan berkah berkat bersama yang telah disediakan oleh masyarakat dalam acara muludan setempat juga merupakan rangkaian rasa cinta kepada Kanjeng Nabi.

 

Dari kiri Bpk. Hamzah & Bpk. Tamalele

 

Salah satu hal lain yang unik dan menjadi perhatian kami di Tinambung adalah kebiasaannya. Di tanah ini, yang sibuk melayani dan menyediakan makanan adalah wanita di samping juga mendapat tugas memasak. Pria-pria Tinambung tinggal duduk bershalawat, menjalani perjalanan khusyuknya acara. Setelah acara ramah tamah disertai hidangan selesai, yang mengambil piring dan mencuci piring serta segala yang disediakan adalah wanita. Wanita sangat spesial di Tanah Tinambung. Inilah kesan saya terhadap peran dan loyalitas wanita Tinambung.

Tradisi dari acara maulid di Tinambung terbilang unik. Setiap jamaah yang datang diberi satu telur rebus yang sudah dihias sangat indah. Tadabbur kami dari telur tersebut yaitu, kita disangoni berkah syafaat yang terus berusaha kami lahirkan dan tetaskan untuk menjadi berkah diri dan lingkungan sekitar kita.“Mbah Nun seng nandur dan poso nek kene, awakdewe seng panen dan ngunduh panganane.” begitulah ungkapan Mas Akbar dari SabaMaiya. (AU)

 

Masjid Shadiq, sepang, tinambung, 21 November 2019