Oleh: J. Rosyidi

Les maupun bimbingan belajar, yang konvensional dengan metode tatap muka maupun online–saat ini–seperti telah menjadi kebutuhan primer bagi pelajar-pelajar kita. Tuntutan akademik, baik dari sekolah maupun orang tua membuat anak-anak   merasa kian membutuhkan  tambahan jam belajar. Orang tua, karena begitu mendewakan prestasi akademis,  tak jarang mewajibkan anaknya mengikuti les. Meski sang anak pada akhirnya menjalani dengan nada keterpaksaan.

Beberapa kali, saya menerima orang tua, biasanya ibu-ibu, yang meminta saran untuk ikut bimbingan belajar atau minta dicarikan guru les. Beberapa kasus memang anaknya benar-benar butuh belajar tambahan, tapi tak jarang pula yang ternyata hanya masalah metode belajar yang kurang tepat.

Satu ketika, saya pernah mengobservasi seorang anak kelas 4 SD. Prestasinya di sekolah yang cukup bonavide tidaklah bisa dibilang membanggakan, bahkan orang tuanya malu. Gimana tidak malu -menurut orang tuanya, dari 28 peserta didik, dia menempati peringkat dua tapi dari bawah. Hasil observasi saya apa? Ternyata anaknya tidak cocok dengan metode belajar di sekolah tersebut. Setelah saya berbicara dan melihat pola belajarnya di rumah, ternyata anak ini memiliki daya tangkap yang baik dan cukup cerdas. Akhirnya setelah diskusi dengan orang tuanya, anak itu dipindahkan ke sekolah bonavide yang lain dan hasilnya cukup menggembirakan. Walhasil anak tersebut tidak lagi mendapat kewajiban belajar tambahan atau les.

Tapi les atau belajar tambahan menurut saya memang dibutuhkan, jika : (1) Terkait dengan life skill, semisal kemampuan berbahasa asing seperti Bahasa Inggris ; (2) Materi les berupa pemantapan bakat-bakat anak. Misalnya anak berbakat menggambar bisa diikutkan les menggambar. Atau kemudian jika terkait dengan materi pelajaran, ya materi atau bidang studi yang disenanginya. Tidak seperti saat ini yang les berdasarkan nilai terjelek. Padahal bisa jadi nilai jelek karena anak memang tidak suka; (3) Materi les berupa ketrampilan atau ilmu yang memang tidak didapatkan di bangku sekolah.

Terus bagaimana kalau nilai anak memang jelek? Sabar ayah bunda. Jangan panik dulu. Toh sekali lagi nilai akdemis yang tertuang dalam kertas-kertas tersebut bukanlah satu-satunya parameter kesuksesan. Kemudian dijawab pertanyaan berikut, pernahkah ayah-ibu membantu anak-anak belajar? Ataukah menyerahkan sepenuhnya proses belajar mereka kepada guru-gurunya saja, baik yang di sekolah maupun tempat les. Loh-loh… bukankah yang memiliki tanggung jawab mendidik adalah orang tua ? Kalau toh alasannya materi, bisa googling, toh ? Kalau kemudian masalah tidak ada waktu, itu masalah kemauan untuk memberi porsi  waktu tertentu dan menuyusun agenda keseharian saja sebenarnya.

Berikut, saya berikan beberapa tips untuk membantu anak-anak belajar dengan lebih baik -yang saya sarikan dari buku karya Munif Chatib, “Orang tuanya Manusia.” Tips pertama adalah bantu anak untuk melakukan refresh brain ketika anak pulang sekolah. Ketika anak pulang sekolah biasanya anak mengalami “penyusutan” kemampuan otak atau downshifting, karena anak sudah terforsir untuk belajar seharian. Sehingga orang tua bisa membantu anak untuk menyegarkan otaknya kembali. Caranya bisa bermacam-macam, seperti memberikan waktu istirahat atau memberikan anak kesempatan melakukan hal yang disukainya barang 15 sampai 30 menit.

Yang kedua, biarkan anak belajar dengan gaya belajarnya sendiri. Untuk anak yang kecerdasan kinestetiknya tinggi biasanya tidak bisa diam. Saya ingat mempunyai teman yang belajar sering  sambil berjalan mondar-mandir bahkan terkadang sambil memantul-mantulkan bola basket. Tapi nilainya juga bagus, bahkan jadi dokter. Kalau lihat model begini, orang tua biasanya langsung marah, karena mengira anak-anak tidak serius dalam belajar. Padahal anak-anak sedang mengaitkan apa yang dipelajari dengan momen-momen kegiatan fisiknya. Oleh karenanya, orang tua perlu mengetahui gaya belajar anak. Kalau belum tahu, ya dicari tahu lah. Benar begitu, bukan?

Yang ketiga, bantu anak  mengetahui konteks materi yang dipelajari. Apa manfaatnya dalam kehidupan sehingga mereka merasa tidak akan sia-sia mempelajari materi tersebut. Kalau sudah tahu manfaatnya, insyaAllah akan muncul motivasi belajar pada anak. Dan yang terakhir, sesekali, lakukan “pengujian” terhadap hasil belajar anak. Tentu saja tidak harus seperti guru yang melakukan tes. Pengujian bisa dilakukan dengan suasana santai tapi tetap serius.                            Selamat mencoba !

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi