PERNIAGAAN DENGAN ALLAH

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (yaitu) kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. (Ash-Shaf 10-11)

Allah menawarkan pembebasan dari api neraka, dan kita bisa membelinya dengan iman dan jihad. Tapi barangkali tidak banyak orang di zaman sekarang yang tertarik kepada tawaran Allah, karena sorga akhirat itu nun jauh di sana dan tidak kasat mata. Sedangkan sorga dunia ada di depan mata. Tapi bagi orang yang sungguh-sungguh beriman, dunia ini hanyalah setetes air, sebagaimana Rasulullah mengatakan: “Bandingan dunia dan akhirat adalah, seperti ketika kamu celupkan jarimu ke lautan, kemudian kamu angkat jarimu, dan lihatlah, apa yang menetes dari jarimu dan kembali ke laut, itulah dunia”. (HR Muslim)

Kita telah memiliki modal iman untuk membeli sorga. Iman ini sangat mahal harganya. Iman ini tidak bisa diganti dengan emas sepenuh bumi. Seperti firman Allah dalam surat Ali-Imran 91 “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari satu orang dari mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. Bagi mereka siksa yang pedih dan mereka tidak akan memperoleh penolong”.

Tapi menurut tuntunan Islam, iman tidak sekedar kata-kata, iman tidak cukup hanya dengan pernyataan lisan. Iman sejati harus menghujam di dalam hati, dan membuahkan amal kebaikan. Bagaimana iman yang sejati itu? Dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, salah satunya bisa kita baca dalam surat Al-Hujurat 15:  “Orang-orang yang sungguh-sungguh beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya”.

Di dalam ayat ini Allah SWT menegaskan ciri-ciri penanda keimanan yang hakiki. Yang pertama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu-ragu (dengan imannya itu). Di sini ditegaskan soal keteguhan dalam iman. Keimanan yang tidak dibayangi oleh keragu-raguan. Keimanan yang konsisten dan konsekuen. Keteguhan dan konsistensi ini di dalam ayat lain disebut dengan istiqamah. Yang kedua, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa berjihad adalah sebuah keniscayaan bagi orang beriman. Kita tidak perlu berdebat tentang pengertian jihad apakah jihad itu identik atau sama dengan perang. Yang pasti bahwa di dalam ayat ini, dan juga di dalam ayat-ayat lain, ditegaskan bahwa jihad yang diperintahkan oleh Allah adalah jihad dengan harta dan jihad dengan jiwa.

Penting untuk digarisbawahi ialah bahwa perintah berjihad di dalam Al-Qur`an selalu dengan urutan ”bi amwalikum wa anfusikum”, dengan harta kemudian dengan jiwa. Ini menunjukkan bahwa berjihad dengan harta merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan orang beriman. Jihad dengan harta adalah jihad melawan kemiskinan dan keterbelakangan. Jihad dengan harta adalah jihad untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat, kualitas pendidikan umat, kualitas kesehatan umat, kualitas lembaga-lembaga keagamaan, termasuk kualitas masjid-masjid kita yang merupakan pusat pembangunan peradaban. Maka jihad dengan harta menghadapi musuh-musuh yang tak pernah ada habisnya sepanjang masa.

Manifestasi dari jihad dengan harta adalah dalam bentuk infak. Di dalam Al-Qur’an bertebaran ayat-ayat yang menganjurkan dengan sangat kepada umat untuk berinfak. Ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat orang bertakwa, pasti di dalamnya ada infak. Memberikan infak tidak didasarkan pada kelapangan dan kecukupan, karena pada dasarnya manusia tidak pernah merasa cukup. Manusia memiliki kecenderungan at-takatsur yaitu keinginan untuk menambah dan menambah, menumpuk dan menumpuk. Ketika gajinya 3 juta, orang merasa itu pas-pasan, tapi ketika gajinya meningkat menjadi 12 juta, malah merasa kurang karena dia punya program mengganti mobil, membeli rumah yang lebih baik, atau mungkin naik haji lagi. Maka bisa jadi infaknya tidak meningkat malah menurun. Infak lahir dari semangat pengorbanan dan iitsaar yaitu menekan kepentingan diri sendiri dan mendahulukan kepentingan orang lain.

Faktor yang menyebabkan orang bersikap kikir dan enggan berinfak adalah, karena dia berfikir bahwa infak itu akan mengurangi hartanya bahkan akan membuatnya menjadi miskin. Maka harus kita tanamkan dalam diri kita keyakinan bahwa infak itu tidak akan mengurangi harta kita. Rasulullah SAW menyatakan: Sedekah tidak akan mengurangi harta, Allah menambah kemuliaan orang yang suka memaafkan, dan Allah mengangkat derajat orang yang tawadhuk (rendah hati)”. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW bersabda yang maknanya ”barang siapa bersedekah seberat biji korma dari penghasilannya yang halal, maka Allah akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah akan mengembangkan sedekah itu untuk orang yang menyedekahkannya, seperti seseorang mengembangkan modalnya sampai sebesar gunung”.

Adapun berjihad dengan anfus (jiwa), adalah dengan tenaga, waktu, pikiran, termasuk nyawa, jika memang diperlukan terjun ke medan perang. Orang Jawa mengatakan ”banda, raga, nek perlu sak nyawane pisan”. Berjihad dengan jiwa, adalah mengerahkan segenap potensi yang telah diberikan oleh Allah untuk melaksanakan fungsi dan tugas manusia dalam kehidupan dunia sebagai hamba dan khalifah Allah.

Inilah harga yang harus kita bayar untuk memperoleh kapling di sorga jannatun na’im dalam perniagaan dengan Allah subhanahu wata’ala.

 

Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai anggota Majelis Ummana ( Board of Trustees) di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.