Kolom Jamaah

Persemian Cinta dalam Pencarian dan Perjumpaan

Oleh: Mashita Charisma Dewi Eliyas

Hampir dua tahun berlalu sejak 27 Februari 2016, awal perjumpaan saya –atau lebih tepatnya bertatap muka secara langsung– dengan Beliau yang saya menyebutnya Sang Maha Guru Emha Ainun Nadjib. Saya merasa itu adalah awal titik balik dalam menghadapi segala macam kegelisahan dunia. Awalnya saya sering mendengar nama Beliau dari teman-teman sebaya di komunitas, musik-musik yang teman-teman saya mainkan pun berkiblat kepada KiaiKanjeng. Lebih dari itu, pernah pula saya mendengar tentang Beliau dari orangtua saya.

Bebedapa orang pernah mengatakan kepada saya, “Cak Nun iku gak sholat loh, Ta. Kok yo mbok eloki?” (Cak Nun itu tidak sholat loh, Ta. Kok kamu ikuti?). Untunglah saya bukan termasuk orang cekak akal yang gampang menelan mentah-mentah sebuah kalimat yang bisa menimbulkan persepsi negatif kepada Beliau. Untuk menepis rasa ragu dan memuaskan rasa ingin tahu, saya mulai merambah informasi melalui Google. Satu demi satu informasi tentang Beliau mulai saya baca. Dari hasil stalking, saya dapati bahwa Beliau adalah suami dari Mbak Via (Novia Kolopaking) yang lagu-lagunya tidak asing di telinga, karena ibu saya salah satu pengagum Mbak Via. Yang tidak saya sangka-sangka, Beliau adalah bapak dari vokalis sebuah band yang lagu-lagunya menemani keseharian saya sejak duduk di bangku SMP. Pengetahuan yang saya dapat semakin memacu saya untuk terus mencari segala informasi tentang Beliau.

Tibalah suatu hari, ketika saya melihat sebuah baliho di jalan raya yang menginformasikan tentang acara peluncuran produk kosmetik yang dihadiri oleh Umi Pipik Dian Irawati (istri Alm. Jefri Al Buchori) dan Cak Nun dan KiaiKanjeng. Tidak berfikir panjang, langsung saya tulis catatan pengingat di smartphone dan segera meminta izin kepada orang tua, “Bu, saya mau datang ke pengajiannya Umi Pipik, tapi ada Cak Nun juga”. Tepat pada tanggal yang telah saya tandai dan berbekal izin dari orangtua, saya pun berangkat ke lokasi acara di Puspa Agro, Sidoarjo yang kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Hujan lebat tak mampu menyurutkan tekad untuk tetap berangkat menuju lokasi.

Ketika acara berlangsung, saya merasakan “keanehan” yang belum saya temui sebelumnya. Pertama, ketika Umi Pipik masih berada di panggung, ada penonton dari arah belakang yang berteriak, “Cak Nun!!!”. Ternyata mereka datang hanya karena ingin melepas rindu pada satu sosok, Cak Nun. Kedua, saat Cak Nun datang dan berjalan dari belakang, seketika jamaah maju berdesakan mendekat ke arah panggung dan tidak ada pemisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Dewi Fortuna menaungi malam itu, saya duduk tepat di depan Beliau.

Dari apa yang dibicarakan Beliau saat acara itu, yang paling saya tangkap adalah ketika Cak Nun berkata, “Sak elek-eleke uwong iku pasti onok apike. Sak apik-apike uwong iku pasti ono eleke. Aku duduk wong apik, dadi masio aku elek jupuken apikku, lek gak ono sing apik yo guwaken gak popo” (Sejelek-jeleknya orang pasti ada bagusnya. Sebagus-bagusnya orang pasti ada jeleknya. Saya bukan orang yang –selalu– baik, jadi pilah dan ambillah kebaikanku, kalau tidak ada bagusnya ya jangan diambil). Seketika kalimat itu menjawab apa yang ada dalam pikiran saya tentang Beliau. Ilmu lain yang saya dapat ketika duduk sampai pukul 00.31 adalah ketika Beliau membacakan salah satu ayat surat Al-Insyirah yang artinya, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Jalan Allah yang mempertemukan saya kepada sosok Cak Nun adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Sangat banyak pelajaran yang sudah saya ambil sampai saat ini. Semoga Beliau, Maha Guru Emha Ainun Nadjib memaafkan apa yang pernah saya pikirkan tentangnya dan selalu dilimpahi kesehatan untuk mengiringi perjalanan cinta kami, Jamaah Maiyah.

 

Mashita Charisma Dewi Eliyas, Jamaah Maiyah asal Sidoarjo yang kerap hadir seorang diri saat Maiyahan. Bisa disapa di akun instagram @sitaeliyas