Pertautan Rindu Bernama BangbangWetan

 

Cerita seorang sahabat tentang pikiran-pikiran nakalnya berhasil membuat saya tertarik untuk sekedar mbleber kloso dan bersila mendengar ceritanya. Sahabat saya ini piawai menimbulkan benih-benih rasa penasaran ketika mulai bercerita. Banyak pikiran nakal muncul dari dirinya diantaranya tentang kecenderungan Nabi Muhammad keturunan Jawa, manfaat kretek bagi kesehatan, masa-masa penciptaan manusia, Azazil sang bendahara surga, dan masih banyak cerita-cerita aneh lain. Timbul pertanyaan dari diri saya, “Dari mana dia mendapatkan informasi-informasi aneh itu?”

Pertanyaan yang selanjutnya terjawab sejak mengikuti event bertajuk Kenduri Kebudayaan di kota tempat saya menempa ilmu akademis. Kalender menunjuk angka 14 November 2013 ketika saya dipertemukan dengan Maiyah. Pertemuan biasa namun berkesan yang membawa saya menuju perjalanan diperjalankan. Masih sangat muda kalau ditarik garis waktu ke belakang.

Seperti candu, sejak pertemuan itu saya terlena untuk mengikuti berbagai event Maiyah di Jawa Timur. BangbangWetan Surabaya menjadi pemuas dahaga di bulan berikutnya dengan rangkaian gerbong Penataran sebagai pengantarnya. Tentu saja masih ditemani oleh sahabat saya yang lebih berpengalaman melanglang pergi-pulang dari Malang-Jombang-Surabaya dengan Jupiter MX-nya.

BangbangWetan sama dengan forum Maiyah di kota-kota lain. Forum pencerahan yang membahas majelis multi-ilmu dalam lingkaran Maiyah. Membahas berbagai bidang namun tujuannya tetap satu, manunggal dengan Allah dengan hantaran cinta kepada Kanjeng Nabi. Perbedaan yang amat mencolok dari maiyahan di kota lain adalah atmosfir paseduluran-nya yang heterogen. BangbangWetan yang dipenuhi karyawan dan mahasiswa dari berbagai kampus menjadikan forum ini heterogen. Kerasnya pola komunikasi arek Surabaya, arek bonek yang sakkarepe dewe, serta tingginya suhu udara Kota Pahlawan menambah keberagaman BangbangWetan.

Pertama kali datang di forum ini pandangan saya berkeliling ke  jargon –yang ternyata adalah baris-baris puisi– di sekeliling terop. Ilmu awang-awang seketika muncul untuk menyatukan baris-baris itu menjadi bait.

Matahari memancar dari timur

Yang dinanti-nanti akan muncul dari timur

Orang-orang perlu berkumpul di timur

Untuk menguak rahasia, bangun bersama dari tidur

Hingga akhirnya disimpulkan bahwa BangbangWetan adalah malam yang menanti matahari terbit. Kondisi gelap yang senantiasa istiqamah mencari atau bahkan menjemput cahaya matahari terbit. Gelap yang selalu menantikan bahkan menjemput kedatangan Sang Cahaya Maha Cahaya dengan terus-terusan memujinya dalam keterjagaan setiap salawat. Terus-menerus mencari rahasia bangun dari tidur.

Cinta tak memerlukan alasan, begitu pula cinta saya kepada BangbangWetan yang akhirnya membuat hati dan pikiran saya tertaut di Surabaya. Sejak kesan pertemuan pertama yang penuh ilmu itu BangbangWetan bertransformasi sebagai rumah lain bagi saya. Tempat yang terus-terusan menawarkan kerinduan untuk sekedar melingkar, menunggu, dan menjemput Sang Cahaya Maha Cahaya.

Terima kasih saya haturkan kepada sahabat saya yang kini berada di pulau seberang. Jarak geografis yang jauh senantiasa mendekatkan kita dalam frekuensi lingkaran kerinduan. Selamat berusaha untuk manunggal kepada Yang Tunggal dalam welas asihNya di tahun yang ke-11 untuk BangbangWetan. Cahaya Maha Cahaya akan datang.

 

Oleh : Danang Y. Riadi

Penulis sehari hari bisa ditemui di twitter @DanangJunior