Pertemuan Karena Rasa Persaudaraan

 

Pada akhir-akhir ini, yang sedang hangat adalah seruan atau panggilan berkumpul untuk menyuarakan kritikan terhadap suatu hal yang kurang tepat. Contohnya seperti beberapa waktu lalu ada gerakan Gejayan Memanggil. Kami pun menyuarakan panggilan berkumpul bukan hanya sebuah tagline memanggil tetapi lebih mengajak untuk berkumpul. BangbangWetan edisi Maret 2020 yang diselengarakan  pada Rabu, 11 Maret 2020 di Taman Budaya Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85 Genteng, Surabaya  mengambil sebuah tajuk yakni “Self Expedition”. BbW mengajak semua Jamaah Maiyah hadir melingkar meneruskan nafas rutinan kita yang sudah terjaga 13 tahun.

 

BangbangWetan mengajak kita yang hadir malam itu untuk nderes Al-Qur’an serta wirid yang ditemani Mas Ajib dan diakhiri sholawat yang dipimpin oleh Cak Lutfi guna nyicil pemberadaban; menambah manusia yang mencintai Allah dan Allah mencintainya.

 

Sholawat yang dipimpin oleh Gus Lutfi

 

Turut membersamai malam ini yakni, grup musik Brajjasena mangantarkan jamaah yang hadir dari sublimasi spiritual: nderes, wirid dan sholawat menuju ke sesi diskusi dengan nomor “Kangen” yang dipopulerkan oleh Dewa 19. Satu nomor lagu mencairkan suasan gerak dengan bernyanyi bersama sambil mengenang masa indah yang tersiratkan dalam lantunan lagu tersebut. Ada satu hal yang menarik setelah Brajjasena membawakan nomor “Kangen”. Ada salah satu anak dari jamaah hadir maju dan naik ke panggung oleh sebab kepingin nyumbang kegembiraan semalam dengan menyanyikan lagu khas anak-anak yakni balonku ada lima dan pelangi. Adik kecil tersebut berhasil mencairkan suasan dan mengundang tawa jamaah dengan kejenakaannya dalam bernyanyi.

 

Satu Nomor dari Brajjasena

 

Selanjutnya sesi diskusi dipandu oleh Mbak Tama dan Mas Yasin yang mengajak beberapa perwakilan jamaah untuk maju dan naik ke panggung. Diskusi dimulai guna mengungkapkan pengalamann bertemu Mbah Nun dan Jamaah Maiyah. Diskusi ini diselingi workshop wirid yang dipandu oleh Mas Acang dan Cak Lutfi. Mas Acang menyampaikan dasar workshop wirid untuk lebih melembutkan hati agar dapat menyambut hidayah Allah ditengah zaman yang mengajak semua berlomba-lomba meraih kemenangan.

 

Selanjutnya, Cak Lutfi mengajak semua mewiridkan : Rabbana atina qodrata lutfi, Muhammadin fi qolbi, Muhammadin fi jasati, Muhammadin fi ruhi, Muhammadin fi hayati yang disuarakan bersama untuk menyelerasakan frekuensi diantara kita serta memohon anugerah kelembutan hati. Diskusi kudian dilanjutkan oleh Cak Amin sebagai moderator untuk memantik diskusi dari apa yang disampaikan Mbah Nun. Mbah Nun punya pandangan mengenai  keimanan kita kepada Allah. Bahwa yang lebih diutamakan itu kita bisa dipercaya Allah, bukan percaya Allah.

 

Sholawat Qotrota Lutfi Muhammad

 

Kyai  Muzammil menyampaikan pandangannya mengenai fenomena virus yang sedang mewabah hampir di seluruh wilayah. Beliau menjelaskan bahwa hadirnya virus itu bukan karena Allah murka, tetapi itu bagian dari detergen yakni cara mensucikan Allah untuk diri kita. Sebab Allah tidak pernah menyiksa hambaNya, Yang ada adalah ungkapan kasih sayang Allah kepada kita sebab kesalahan sikap dan perilaku kita selama ini.

 

Menurut mas Acang Bahwa sekelas Al-Ghazali mengalami self expedition dalam pencerahan hidupnya sehingga melahirkan  Kitab Ihya’ Ulumuddin. Menurut penuturan Kyai Muzammil, Kitab Ihya’ Ulumuddin lahir ketika Al-ghazali merenung di suatu menara, sehingga mengalami kedekatan rasa dengan Rasulullah SAW.

 

Cak Amin menyampaikan pengalaman pertemuannya dengan salah satu Jamaah Maiyah BangbangWetan ketika antre di ATM. Salah satu orang yang antre dan yang mengaku jamaah BangbangWetan titip pesan kepada Cak Amin untuk tetap menjaga Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan agar tetap ada. Sebab salah satu jamaah itu mengalami self expedition: Suatu perubahan hidup semenjak hadir di BangbangWetan ia menjadi lebih tenang dan neriman terhadap segala ketetapan Allah kepada dirinya

 

Cak Amin menyampaikan cara pandangnya dalam self expedition. Cak Amin menekankan bahwa yang terpenting adalah mengekspresikan jatidirinya semaksimal mungkin sebab manusia sejak lahir diciptakan otentik. Perenungan atau kontemplasi merupakan hal wajib bagi kita yang sedang mengalami self expedition.

 

Kyai Muzammil mempertegas self expedition kita. “Justru dengan agama memang mengantarkan manusia mengenali jati dirinya. Tetapi Islam disampaikan tidak sebagai mana mestinya, maka Islam dinilai sebagai ancaman bagi orang yang tidak mengenal Islam. Menegakkan Islam mestinya sejarahnya yang ditegakkan.”  Tegasnya.

 

Bentuk dari self expedition kita dalam bermaiyah menurut Ustaz Fuad adalah pertemuan dua hati atau dua insan di Maiyah karena Allah sendiri yang mempertemukan sehingga tak ada unsur transaksional selain ketulusan rasa persaudaraan diantara kita dan rasa cinta kita kepada Allah.

 

Puncak dari self expedition kita malam ini terbaca dari Kyai Muzammil mengajak kita bersholawat: menyapa Rasulullah dengan mahallul qiyam yang dipimpin oleh Cak Lutfi. selanjutnya doa dipimpin oleh Kyai Muzammil: dengan mengantarkan gelombang ketulusan dan kerendah hati kita atas ketidakberdayaan hidup dalam bulatan cinta Allah yang menghidayahi kehidupan kita ke depan.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]