Merdeka

Antara Pesta dan Batas yang Nyata

“Rakyat Indonesia Berpesta”, begitu bunyi headline salah satu surat kabar nasional yang sedang saya baca. Ia terbit selang sehari setelah momentum puncak perayaan hari paling bersejarah bagi bangsa kita. Sebagaimana layaknya judul berita pada umumnya; ringkas, padat dan merupakan inti perasan dari narasi berita. Subyeknya jelas; rakyat Indonesia. Predikatnya pun tegas; berpesta. Melalui judul tiga kata itu, seolah sedang dikirim pesan secara lugas kepada khalayak pembaca bahwa segenap rakyat Indonesia (kemarin telah) berpesta. Benak saya pun terusik membangun tafsir begini: tidak (mungkin/boleh) ada (satupun) rakyat indonesia yang tidak (sedang) berpesta. Ya begitu, segenap rakyat itu artinya ya seluruhnya, tak terkecuali. Yang bernama pesta, pasti suasana yang meliputinya adalah sejenis rasa suka cita, bahagia, gembira dan semacamnya. Jika dalam berpesta kemudian terhanyut pada situasi hura-hura, itu bisa dianggap wajar saja, karena demikianlah lazimnya. Menjadi hal yang tak biasa, adalah ketika berpesta kita memasang wajah duka.

Maka ketika untuk menggelar pesta perayaan kemerdekaan di istana, diperlukan uang sebesar hampir dua belas milyar, saya menyarankan Sampeyan untuk menganggapnya biasa saja. Menghamburkan uang negara Sampeyan bilang? Ah, ini kan pesta, Bung. Meski kita sama-sama tahu bahwa negara masih menanggung hutang setinggi gunung, sekali-kali bergembira boleh kan?.

Sampeyan juga pasti setuju bahwa belumlah sah disebut pesta jika tak ada acara makan bersama. Ya, untuk itu disiapkan satu koma dua milyar demi menyediakan jamuan makan, dari yang ringan hingga yang berat, sejak makanan pembuka sampai penutup. Berlebih-lebihan kata Sampeyan? Ah, jangan lebay, Bung. Walau saya paham, bahwa uang segitu cukup untuk makan pecel plus teh hangat kesukaan Sampeyan yang seharga limas ribu itu, jangkep sehari tiga kali, selama tujuh puluh tiga tahun.

Satu hal lagi, semua pihak yang hadir berpesta sebisa mungkin dipastikan hatinya berbunga-bunga sepulang acara. Maka empat setengah milyar harus disiapkan untuk membeli suvenir alias cinderamata. Itu hal gila kata Sampeyan? Woi, woles dikit, Bung. Tapi memang jika duit itu dibelikan bola futsal, saya hitung cukup lho untuk seluruh desa se-Jawa Timur. Bahkan setiap desa bisa mendapatkan empat bola. Lumayan untuk meramaikan ambisi bal-bal’an kita.

Barangkali, dewan redaksi surat kabar nasional tadi betul-betul telah melakukan riset mendalam, sebelum menjatuhkan pilihan pada tiga kata itu sebagai headline. Betapa tidak, atmosfer pesta memang hadir benar di seantero negeri, di segala lapisan masyarakat. Aneka kegiatan digelar di mana-mana. Di salah satu gerai makanan cepat saji, ada pesta diskon. Beli satu gratis satu. Di berbagai pusat perbelanjaan, pesta potongan harga juga gila-gilaan. Saya sebut demikian sebab harga yang perlu dibayar, tak sampai sepertiga dari harga banderolnya. Tujuh puluh dua menjadi keyword untuk disandingkan dengan lambang persen.

Sementara itu, tepat pada tanggal tujuh belas Agustus, juga digelar grand launching sebuah megaproyek, Meikarta namanya. Sampeyan tahu kan Meikarta? Nama ini merujuk pada sebuah kota yang lahir dari rahim Grup Lippo. “Kota” yang berlokasi antara koridor Jakarta dan Bandung itu, laris manis terjual di hari teristimewa bangsa kita. Sembilan puluh sembilan ribu tiga ratus unit hunian telah dipesan, pada Kamis pagi, tepat berbarengan ketika Sampeyan melaksanakan upacara tujuhbelasan. Daya tarik Meikarta memang kian memesona, apalagi enam megaproyek infrastruktur prioritas dari pemerintah, siap mengelilinginya. Dari pelabuhan, bandara internasional, kereta cepat, LRT, monorel, hingga jalan tol layang. Pesta nan nyata…

Sehari sebelumnya, Kepala Negara menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan para Wakil Rakyat. Dalam pidato berdurasi tiga puluh lima menit itu, Presiden mengangkat tema pemerataan ekonomi yang berkeadilan. Jika tidak sibuk, silakan Sampeyan mempelajari isi pidatonya dan menakar komitmennya untuk mewujudkan apa yang dicanangkannya. Saya hanya ingin mengganggu pikiran Sampeyan dengan mengajukan informasi bahwa pada tahun lalu, satu persen orang terkaya di negeri ini menguasai hampir separuh dari seluruh kekayaan yang dimiliki bangsa ini. Jangan lupa tetap bergembira yaa… kita sedang berpesta, Bung.

Di kantor-kantor, di kampung-kampung, aroma pesta juga terasa. Beragam lomba digelar. Berbagai hadiah disiapkan. Tak perlulah Sampeyan berpusing-pusing mencari relevansi antara adu kecepatan makan krupuk dengan khusuknya proklamasi kemerdekaan. Buang-buang waktu jika Sampeyan hendak meneliti hubungan antara lari sambil kaki disrimpung karung, dengan perang sepuluh Nopember yang konon banyak anggota pasukan dari kalangan rakyat dan pemuda kala itu bersarung. Nikmati saja kawan, sekali lagi, ini pesta.

Bagaimana, Sampeyan menginginkan jenis pesta yang seperti apa? Dipenuhi atau setidaknya diselingi suasana permenungan nan kontemplatif ? Jangan keliru. Di tiap-tiap RT, pada Rabu malam kemarin masyarakat berkumpul, melingkar, bikin acara yang mereka sebut tirakatan. Di kampung saya juga demikian adanya. Tumpeng disajikan, doa bersama digelar, arwah para pahlawan disapa dan perjuangannya dikenang. Setelahnya, panggung gembira digelar. Anak-anak gadis kelas lima-enam SD didandani cantik, naik panggung dan fasih meliuk melantunkan dangdut koplo bertajuk “Kelingan Mantan”. Tepuk tangan bergemuruh sahut-sahutan. Agak malam, ganti grup elekton dengan penyanyi seksi dari kampung sebelah beraksi. “Pancene kowe pabu, nuruti ibumu, jare nek ra ninja, ra oleh dicinta…”, semua kompak serempak, penonton mengikuti komando dari atas panggung. Sambil manggut-manggut mengikuti irama koplo, beberapa orang asyik dengan gadget-nya. Mengirim pesan kemerdekaan di grup-grup WA, sambil menenggak vodka. Pesta yang paripurna.

***

Bagaimana, Bung? Mari kita lanjut saja mencecap ampas kopi kita yang tersisa, selagi masih hangat, sambil terus meresapi dhawuh Sang Ngai Ma Dodera, “Kemerdekaan adalah jalan yang mengantarkan pengetahuanmu pada batas-batas”.

 

 

Ahmad Irham Fauzi

JM tinggal di Cerme, Gresik. Sedang belajar bersama JM Damar Kedhaton.