Petahana Tahun Imun

Yang pertama, tentu masih ada gunanya kita saling mengucapkan Selamat Memasuki (hitungan) Tahun Baru. Kepada segenap pemangku harap, masa lalu dan daulat BangBang Wetan, mari kita ulang kembali tekad usang yang terus berulang agar yang baru bukan saja hitungan waktu.

 

Ini kali kita tak bicara resolusi. Bukan karena satu kepastian bahwa ia tak akan mewujud melainkan lebih karena akan lebih asyik-seperti biasanya-kita pantik diskusi dengan deskripsi keadaan. Gambar besar yang memantik munculnya ide dan gagasan.

 

Hari-hari ini hingga, 25 Januari, ditetapkan sebagai masa Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Satu langkah nyata kesekian yang diambil Pemerintah agar persebaran virus SARS-COV-2 bisa dibatasi. Sebuah program kerja yang diambil setelah data statistik menunjukkan angka masifnya jumlah pasien baru dan pasien wafat karena Covid-19.

 

Sepuluh hari sebelumnya, vaksinasi massal mulai dilaksanakan. Dimulai dengan tangan gemetar dokter kepresidenan yang menginjeksikan cairan di spuit ke lengan atas orang nomor satu Indonesia, seperti memang telah direncanakan, program ini terus bergerak. Seiring dengan residu saling silang persoalan yang secara komplementer lahir bersamanya.

 

Akankah cukup dengan langkah-langkah di atas dan sekian aksi lainnya problematika tuntas kita selesaikan ? Kita dengan sadar tidak hendak mengupasnya dengan segala piranti keilmuan. Bahkan kesengajaan yang struktur utamanya sekedar obrolan warung kopi pun tak sudi kita sentuh. Alasannya jelas karena formula tercanggih dengan akurasi se-presisi apapun akan sampai ke tebing karang dimana kita sendiri saja yang akan mendengar gaung gema resonansinya.

 

Di forum rutin perdana dua ribu dua satu ini kita hendak menata ulang beberapa hal. Pertama, kalkulasi pencapaian yang telah kita raih dan bagaimana itu semua kita dapatkan. Menyelesaikan tugas dalam kondisi normal dimana rumus dan teorema disusun adalah bentuk kewajaran. Namun di tengah serba terbatasnya sumber daya, dukungan dan support lingkungan kita bisa pertaruhkan tingkat kependekaran dan kepakaran.

 

Kedua, meminjam terminologi dari konsep seleksi alam, kita adalah mereka yang mampu bertahan. Berangkat dari survival for the fittest, dengan perkenan Allah Swt Sang Maha Perkasa, patut kita syukuri bahwa masih bisa kita selenggarakan rencana-rencana, kita rekonstruksi mimpi-mimpi dan tak kalah penting, masih mampu kita hirup semanak dan semaraknya bincang rutin bulanan ini.

 

Kedua hal di atas adalah keadaan faktual dalam hubungannya dengan situasi pandemi. Pada saat yang sama–di bulan Januari saja–terjadi kejadian yang kita sebut sebagai bencana di 185 titik lokus peristiwa. Kesemuanya adalah nomena yang mengejawantah menjadi gejala kasat mata berbentuk situasi hilangnya harta, benda bahkan nyawa. Insiden yang menimpali pageblug, isuk lara sore mati sore lara bengi mati yang masih berlangsung sampai waktu yang terbilang entah.

 

Sebagai petahana yang menurut KBBI berarti “pemegang suatu jabatan politik tertentu (yang sedang atau masih menjabat)” kita punya kelebihan utama berupa pengetahuan peta dan medan pertempuran. Berikutnya, karena telah melewati rentang waktu tertentu, kita punya bekal sedikit di atas cukup untuk bersikap dan mengambil tindakan terbaik bagi situasi serupa; walau beberapa varian masih sangat mungkin terus bermunculan.

 

Namun dalam setiap kompetisi maupun kontestasi, petahana memiliki peluang menang-kalah yang sama dengan penantangnya. Keadaan arena yang situasional dan kondisi petarung itu sendiri menyangkut kesiapan dan daya juang menjadi penentu utama. Last but still the first, qudrat dan irodah Tuhan di atas segala yang ada.

 

Secara faktual harus kita akui keberadaan Covid-19 dengan segala akibatnya. Meski hitungan statistikal masih perlu kalibrasi ulang karena angka sejatinya menyangkut banyak kepentingan, fokus kita tak lagi ke arah sana. Segala tenaga juga daya upaya harus kita pusatkan pada keberhasilan melaluinya dengan tanpa kemudharatan yang sia-sia belaka.

 

Memasuki tahun kedua masa pageblug pada bulan yang hujan menjadi agenda sehar-hari ini ayo kita cacah kembali perbekalan dan amunisi. Informasi lengkap tentangnya menjadikan langkah terasa ringan dan gembira terus menyertai. Penyertaan sebangun dan seruang dari Allah dan RasulNya serta Maha Guru kita, Mbah Nun dengan cinta tak berujung yang kita yakini.

 

—oOo—

Oleh: Team Tema BangbangWetan