Prolog

Pintar di Langit, Pintar di Bumi-Prolog BangbangWetan Juni 2021

Pintar di Langit, Pintar di Bumi

Sebagai sebuah majelis ilmu, BangbangWetan terus berupaya menjadi universitas pembelajaran bersifat kuliah. Satu persekolahan dengan penolakan pada gejala pengajaran juziyah yang parsial, tak saling terkait, dan tercerabut dari akar hidup sosial kemasyarakatan.

Pada bulan Juni ini, Sang Rektor–Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh– memasuki dengan penuh sukacita hitungan umur 42 tahun. Kita ikut bersyukur dan gembira karenanya. Berharap kian matang dan bernas setiap ucapan, pikir, dan tindakan beliau; sebagai persona maupun lubuk referensi dan keilmuan.

Menyambut dies natalis itu, Mbah Nun memberikan kata sambutan yang beliau tuangkan ke dalam serial Tajuk berjudul “Profesor Doktor Jalan Ramai”.

“Sabrang sudah lumayan “pinter langit”, sekarang harus berproses memastikan dia juga “pinter bumi”. Sebagaimana Maiyah sudah berlatih “pinter akhirat” tapi belum kunjung “pinter dunia”. Mestinya Sabrang adalah bagian dari tim Maiyah yang memandu proses menutupi lubang kekurangan dan kelemahan Maiyah itu.”

Demikian kutipan dari sebagian inti ucapan selamat Mbah Nun yang sangat berimbang antara muatan syukur dengan kandungan harapnya.

Pada idiom percakapan klasik, perguruan tinggi sering diistilahkan sebagai “menara gading”. Sebutan yang menunjukkan betapa institusi ini menjulang tinggi dengan segala kemewahan dan privilege namun tidak lagi memiliki kohesivitas dengan tanah tempatnya berpijak. Ia asyik dan sibuk membangun kemegahannya dengan tanpa keterlibatan lingkungan.

Dari pembacaan penuh presisi Mbah Nun atas posisi Maiyah yang dipersonifikasikan pada sosok Mas Sabrang, kita seolah diminta untuk tiada henti berkaca, mengukur, dan menala sedang di mana posisi dan sejauh mana jalan telah kita lalui. Jawab atas kedua pertanyaan ini secara singkat mengungkapkan bahwa kita harus lebih intensif meningkatkan prestasi belajar sehingga bukan hanya lulus namun juga “pintar” mengenai hal ihwal “bumi”.

Langkah awal yang diamanatkan adalah mempelajari kembali infrastruktur inklusivitas. Seperti disampaikan di awal, perguruan tinggi BangbangWetan adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya dekat tetapi juga inheren dengan dinamika kehidupan sosio-antropologisnya. Pintu masuk ke arah itu adalah bersungguh-sungguh menekuni rancang bangun keterlibatan.

Terlibat sejauh mana? Terikat di pokok-pokok persoalan apa saja? Bagaimana metode masuk dan keikutsertaannya? Siapa bertugas di mana? Di pertengahan bulan Zulkaidah, di tengah riuh rendah Piala Eropa, mari kita bicarakan bersama. Infrastruktur inklusivitas sebagai upaya untuk menyejajarkan pintar tentang, di, dan untuk langit dengan kepintaran mengenai, kepada, dan terkait bumi.

—oOo—

Oleh: Team Tema BangbangWetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *