Oleh: Rio NS

Masa-masa ketika pembacaan deklamasi, buku-buku sastra dan puisi menjadi anasir penyubur tumbuh kembang saya di masa muda, nama Sapardi Djoko Damono (selaniutnya, pak Didi) begitu lekat di impresi. Satu yang membayangi sekian langkah itu adalah karyanya bertajuk “Berjalan Ke Barat di Waktu Pagi Hari”. Ini satu puisi yang begitu lengkap. Formula strukturalnya kokoh dan muatan kesannya menyentuh banyak sisi.

Saat etape kehidupan memungkinkan saya bisa membeli buku, satu yang saya buru adalah kumpulan puisi beliau berjudul “Mata Pisau”. Demikian halnya saat undangan pernikahan mesti kami distribusikan, bersama calon isteri–waktu itu–kami torehkan nukilan master piece Pak Didi “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana”. Satu upaya yang gagal menjadi unik karena banyak pesohor juga mengutipnya.

Pak Didi bagi saya adalah anugerah Tuhan dimana fenomena lyris mampu hadir secara pejal dengan resonansi yang bergema dalam takaran waktu sepanjang usia. Tensi beliau untuk terus menulis, menekuni pilihan dan mencurahkan tenaga tersimpan rapi dalam arsenal kebersahajaan nan tak terusik irama zaman.

Berita tentang berpulangnya Pak Didi saya dengar Minggu pagi ini. Saat mana gejala musim seolah mendukung ribuan tanya yang termampatkan di “Hujan Bulan Juni”. Yups, inilah Juli saat mana mendung menggantung di siang hari bersama berita banjir di beberapa tempat yang sungguh anomali.

Di sana, dalam waktu tak lama lagi, Njenengan akan segera bercengkerama dengan para Maestro, pak Didi. Puluhan perahu kertas, daun-daun kering atau cuma sebentuk kecil awan di langit pagi bisa kau gulirkan di endapan rasa tanpa bunyi. Tak jadi soal bila cuma pedih rindu kami yang bisa mengulas, atau membacakannya di relung sunyi.

Pak Didi, tak ke barat lagi jalanmu pagi ini
Di haribaanNya-lah, partitur rasamu membatu,
prasasti.