Oleh: J. Rosyidi

 

 

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Demikianlah petuah dari salah satu sahabat Nabi, yang berjuluk pintu ilmu pengetahuan, Ali bin Abi Thalib r.a. Sebuah nasihat yang harus kita pegang agar kita mampu mempersiapkan anak-anak kita menghadapi tantangan zamannya.

Saat ini kita hidup dalam dunia digital. Dengan kemajuan teknologi informasi, banyak orang tua merasa gagap dalam mengikuti kecepatan perkembangannya. Bayangkan seperti apa kelak, ketika anak anak kita tumbuh dewasa. Tentu akan semakin sophisticated bukan.

Di satu sisi, tentu kita sadari manfaat gawai bagi anak-anak kita. Dalam suasana seperti saat ini misalnya, ketika semua aktivitas dipaksa untuk kembali ke rumah, manfaat gawai tentu sangat dirasakan. Contohnya saja dalam melakukan pembelajaran daring. Namun kita, sebagai orang tua tentu paham betul bahwa gawai laksana pisau bermata dua, yang siap melukai diri kita sendiri apabila tidak pandai memanfaatkannya.

Oleh karenanya, yuk kita pahami prinsip-prinsip pengasuhan dalam dunia digital saat ini.

Pertama. Pahami kapan waktu yang tepat memberikan gawai kepada anak. Kita tidak perlu silau dengan merek gawai dengan segala promosi kelebihannya. Apapun itu yang penting bisa dimanfaatkan oleh ananda dan berikan kepadanya pada saat yang tepat. Apakah ananda sudah memang benar-benar membutuhkannya? Jangan-jangan ananda masih bisa sesekali meminjam gawai milik kita tanpa harus memilikinya? Cuma seringnya, kita yang gak mau repot dan bisa pula karena kita tidak tahan dengan rengekan anak kita. Ingat, orang tualah yang memegang kendali. Sekali salah memberi, akibatnya bisa panjang.

Prinsip yang kedua adalah lebih penting kualitas daripada kuantitas. Maksudnya bagaimana? Ketika kita sudah memberikan gawai kepada ananda, maka perlu dibuat peraturan yang jelas kapan ananda bisa menggunakannya. Misalnya ananda bisa menggunakannya ketika sudah selesai belajar dan atau menyelesaikan tanggung jawabnya.

Berikan pilihan pula, apakah ia boleh menggunakan gawai tiap hari atau di akhir pekan saja. Dalam hemat saya, memberikan hak pakai gawai hanya di akhir pekan lebih baik untuk menghindari kecanduan.

Dalam konteks ini pula, tak perlulah kita mengingatkan tentang seberapa lama anak bermain dengan gawainya, karena pada prinsipnya anak akan sadar kok. Lebih baik tanyakan apa yang dilakukan dengan gawainya tersebut. Lebih baik tentukan apa yang boleh diakses anak dan apa yang tidak sehingga anak mempunyai panduan.

Prinsip selanjutnya adalah tentukan sanksi ketika anak melanggar prinsip penggunaan gawai yang telah disepakati. Tentu saja dengan terlebih dahulu orang tua dan anak membuat kesepakatan bersama tentang aturan main penggunaan gawai. Jangan lupa pula dijelaskan kepada anak kenapa aturan main itu harus ada. Sehingga anak tidak merasa terpaksa untuk mengikuti aturan tersebut. Upayakan ketika menjelaskan aturan tersebut dengan bahasa yang logis dan mudah dimengerti anak.

Dalam konteks ini seluruh anggota keluarga harus berpartisipasi aktif. Maksudnya semua anggota keluarga menaati peraturan yang disepakati bersama. Peraturan jangan hanya untuk anak, tetapi tidak untuk orang tua. Di mana teladannya kalau begitu?

Keempat. Berbagilah pengalaman dengan anak tentang penggunaan gawai. Selain menciptakan keterbukaan orang tua dan anak, ini bisa meningkatkan ikatan loh. Bisa jadi dengan pengalamannya orang tua mengerti sesuatu hak daripada ananda, jadi bisa membantu kesulitan ananda. Di sisi lain ananda pun bisa jadi memiliki sesuatu terkait gawai yang tidak diketahui ayah dan bunda.

Dari berbagi ini, ayah bunda pun bisa mengulik ketertarikan anak. Nah dari ketertarikan anak tersebut kan bisa dibuat semacam program untuk mengetahui apakah ketertarikan itu hanya sesaat atau itu merupakan minat dan bakat ananda.

Kelima. Jangan lupa untuk menanamkan konsep pengawasan Allah pada ananda, agar ia bertanggungjawab terhadap gawai yang dipegangnya. Bukankah kita tidak selalu membersamai ananda? Nah, coba baca lagi tulisan yang lalu-lalu tentang bagaimana menanamkan konsep agar ananda senantiasa merasa “dibersamai” Allah.

Terakhir, bila ayah bunda merasa tidak sanggup, jangan sungkan-sungkan untuk melibatkan ahli, psikolog.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi