KATA PENGANTAR

 

Dulur-dulur bangbangwetan.org, akhir Maret ini Progress mensyukuri berkah usia ke-16 tahunnya. Geliat aktivitas lembaga manajemen dan penerbitan ini seperti tidak pernah berhenti. Putaran roda itu sejalan nyaris 100% dengan irama dan dinamika pancaran kasih dan keilmuan yang juga terus Mbah Nun lakoni.

Terkait apa dan bagaimana Progress, berikut ini tulisan yang pernah kami muat di Buletin Maiyah Jatim edisi April 2017. Berharap dengan sedikit catatan ini semakin kita pahami lembaga yang senantiasa kita cinta dan hormati.

 

Salam

Redaksi bangbangwetan.org

 

 

PROGRESS; “ORGANISASI” YANG BUKAN ORGANISASI

Wawancara langsung bersama Pak Toto Rahardjo. Pendiri sekaligus “Dirut” Progress.

 

Ditemui secara khusus di kediamannya di Kompleks Sanggar Anak Alam (SALAM), Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, sebagai pendiri dan salah satu yang telah ikut berproses bersama Progress selama 13 tahun. Maka, belum sah rasanya apabila Pak Toto Rahardjo belum secara langsung membeberkan pandangannya mengenai banyak hal tentang Progress.

Berikut intisari wawancara antara reporter BMJ dengan beliau.

 

Progress yang secara resmi terbentuk pada Maret 2004 juga menandai kembali aktifnya Pak Toto Rahardjo di Kadipiro. Beliau intens kembali setelah sebelumnya pada awal 2000an mengembara ke berbagai daerah di Indonesia Timur.

 

Menurut Pak Toto, tugas utama Progress adalah mengelola hal-hal yang berkaitan dengan Cak Nun, Kiai Kanjeng, terutama dalam hal dokumentasi, baik berupa visual, audio, maupun reportase, serta penyebarannya melalui web dan atau akun media sosial resmi. Hal tersebut ditambah lagi dengan hiatusnya Cak Nun dari media massa Nasional serta perkembangan era dunia maya yang begitu pesatnya.

 

Peran Progress sendiri berkembang sedemikian rupa, dari yang pada awalnya pernah juga menjadi penerbit, sekarang dengan segala pertimbangannya memutuskan bekerja sama dengan penerbit yang telah ada untuk menerbitkan buku-buku Cak Nun. Untuk selanjutnya Progress lebih memperkuat fungsi serta lebih ke pengembangan unit yang telah ada (Caknun.com dan Perpustakaan EAN) dan belum berencana membentuk unit-unit baru.

 

Tugas dan tantangan Progress cukup berat. Karena bisa dikatakan bahwa sebenarnya Progress merupakan suatu organisasi. Namun, tidak bisa sepenuhnya berjalan seperti organisasi pada umumnya. Tidak dikenal adanya SOP selayaknya organisasi pada umumnya di dalam Progress. Tidak dikenal adanya rencana kerja, sumber budget yang jelas, dll di Progress. Itu pula yang bagi Pak Toto menjadi hal paling berkesan selama 13 tahun. “Progress hidup sebagai organisasi tapi menghadapi manusia yang bermacam-macam dan tidak terorganisir”, tutur Pak Toto.

 

Secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa Progress merupakan manager Kiai Kanjeng. Sehingga hal-hal yang harus dikelola Progress juga sampai berhubungan dengan orang-perorang. Apalagi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar anggota Kiai Kanjeng sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Berbeda dengan grup musik lain, menurut Pak Toto, tidak semudah itu melakukan pengaderan bagi Kiai Kanjeng. Bahkan bisa saja hanya akan ada satu Kiai Kanjeng, yaitu Kiai Kanjeng yang sekarang kita kenal. Karena Kiai Kanjeng tidak hanya berhubungan dengan kemampuan bermusik. Itu bisa menjadi nomer dua, karena yang utama adalah relasi kemanusiaannya.

Dalam perjalanannya kebelakang, seiring berkembangnya Maiyah, dan karena CNKK juga berhubungan dengan Maiyahan, Acara Sinau Bareng, atau acara-acara lain, maka Progress secara langsung juga mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan acara-acara tersebut. Sehingga Progress juga bersentuhan langsung dengan simpul-simpul Maiyah dan para Jannatul Maiyah (JM) dari berbagai daerah.

 

Hal tersebut juga menjadi tantangan lain bagi Progress karena banyak JM atau pihak yang ingin mengadakan acara ingin bertemu secara langsung dengan Cak Nun. Sehingga kehadiran Progress tak jarang justru menjadi semacam penghalang dan penghambat bagi mereka. Umpatan pun bukan hal yang jarang Progress dapatkan. Menurut Pak Toto, sebenarnya Cak Nun tidak mempermasalahkan apabila ada orang yang ingin bertemu dengannya, namun terkadang kesibukan Cak Nun-lah yang membuat hal tersebut tidak memungkinkan. Justru disinilah posisi Progress untuk membantu agar simpul-simpul Maiyah, JM, dan pihak yang ingin mengadakan acara bisa lebih terorganisir. Semakin JM mandiri dan dewasa semakin ringan beban Progress, begitu pula sebaliknya.

 

Progress berada bersama diantara para JM dan Cak Nun Sang pemersatu mereka. Kedepannya mari dukung untuk bersama-sama kita lihat seberapa jauh Progress mampu survive menjawab tantangan jaman dan JM. Karena Progress hidup dari keyakinan bukan kepastian.

 

[Tulisan ini merupakan hasil jurnalisme dua reporter BMJ (Danang Riadi dan Wahyoko Fajar) untuk sedikit menguak lebih dalam tentang Progress. Pernah pula dimuat di BMJ edisi khusus Progress, April 2017]