KATA PENGANTAR

 

Dulur-dulur bangbangwetan.org, akhir Maret ini Progress mensyukuri berkah usia ke-16 tahunnya. Geliat aktivitas lembaga manajemen dan penerbitan ini seperti tidak pernah berhenti. Putaran roda itu sejalan nyaris 100% dengan irama dan dinamika pancaran kasih dan keilmuan yang juga terus Mbah Nun lakoni.

Terkait apa dan bagaimana Progress, berikut ini tulisan yang pernah kami muat di Buletin Maiyah Jatim edisi April 2017. Berharap dengan sedikit catatan ini semakin kita pahami lembaga yang senantiasa kita cinta dan hormati.

Salam

Redaksi bangbangwetan.org

 

 

Progress, Unit Kerja yang Sangat Aktif

(Catatan dari Kadipiro tentang 13 tahun Progress)

 

Munculnya poster bertajuk ’13 Tahun Progress’ yang tersebar di jagad media sosial Jannatul Maiyah (JM) pada akhir Maret 2017 kemarin melatarbelakangi BMJ untuk menggali informasi yang berkaitan dengan Progress langsung dari sumbernya. Minggu, 3 April 2017 berangkatlah reporter BMJ ke Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta untuk menggali informasi yang berkaitan dengan Progress. Pertemuan di Rumah Maiyah tersebut menjadi awal penggalian sejarah dan semua yang berkaitan tentang Progress Management.

 

Ditemui langsung oleh hampir semua personel Progress, reporter BMJ melakukan penggalian awal melalui Cak Zakky dan Mas Helmi di Pendopo Rumah Maiyah. Sebuah Pendopo yang menjadi “kantor” bagi awak Progress dalam menjalankan tugasnya. Berikut informasi yang didapat oleh reporter BMJ.

Pada medio 2003, Cak Nun dan Ibu Novia membangun sebuah ruangan yang cukup megah di lantai dua Rumah Maiyah, Kadipiro yang awalnya belum jelas tujuan pembangunannya. Istilahnya, Cak Nun dan Ibu Novia membangun garasi tanpa tahu nantinya mampu membeli mobil atau tidak. Setahun berselang, Pak Toto Rahardjo mengajak Cak Zakky untuk membentuk sebuah manajemen yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Dasar dari ajakan Pak Toto adalah karena saat itu mulai dirasa perlu untuk membuat manajemen pertunjukan yang dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Selain itu, diperlukan juga dokumentasi berupa audio visual maupun tulisan terkait dengan keilmuan yang diberikan Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Dengan terbentuknya Progress, akhirnya berfungsilah ruangan yang dibangun tadi menjadi ruang kerjanya.

 

Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya Progress pada tahun 2004, dokumentasi pertunjukan yang dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng lebih tertata. Sejak itu pula ada standard bahwa dalam setiap acara harus ada rekaman audio visual dan dicatat sebagai berita maupun reportase.

 

Progress pernah pula menjadi penerbit yang menerbitkan karya-karya dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Buku-buku yang telah diterbitkan sendiri oleh Progress antara lain Puasa Itu Puasa, Folklore Madura, Kafir Liberal, Orang Maiyah, dan beberapa buku karya Cak Nun lain. Selain berupa buku, diterbitkan pula VCD dan DVD album shalawat maupun video pertunjukan yang dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

 

Menurut data Progress, hingga CNKK Sukoharjo pada 1 April 2017, pertunjukan yang telah dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng sudah mencapai angka 3788 sejak pertunjukan pertama yang dilakukan pada awal 90an. Bagi Cak Zakky, semua konser yang dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng tidak ada yang tidak berkesan. Semuanya memiliki kesan yang berbeda-beda. Ukuran sukses pertunjukan yang dilakukan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng tidak berdasarkan ukuran kuantitas tentang jumlah jamaah yang hadir namun lebih kepada kualitas keilmuan yang disampaikan dalam setiap pertunjukan. Asalkan segala yang disampaikan di atas panggung bisa diterima oleh jamaah, pertunjukan dianggap berlangsung sukses.

 

Selain mengatur pertunjukan dan dokumentasi, Progress juga merupakan jembatan untuk menyambungkan kebutuhan masyarakat terhadap Cak Nun dan Kiai Kanjeng, tentunya termasuk juga JM. Namun, tidak semua urusan harus melalui jembatan Progress karena Cak Nun bukan sepenuhnya milik Progress. Progres juga tidak memiliki Cak Nun dan Kiai Kanjeng sepenuhnya, Progress hanya mengatur perjalanan dan acara-acara yang berhubungan dengan pertunjukan Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

 

Sangat disadari oleh JM bahwa Cak Nun bukan sekedar tokoh biasa, beliau adalah multi talent yang di dalam prakteknya membutuhkan banyak staf, walaupun sebenarnya beliau tidak butuh staf untuk mencatat dan mendokumentasikan seluruh kegiatan yang dilakukannya. Cak Nun bukan sekedar penceramah, beliau memiliki peran sebagai penulis, pelaku drama, konsultan, hingga tabib.

 

Peran Progress yang lain adalah menampung segala hal yang berhubungan dengan Cak Nun. Dalam perkembangannya, Maiyah memiliki simpul-simpul di berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai di luar negeri yang dibentuk oleh kumpulan JM. Peran Progress yang juga sangat vital bagi “perahu” yang bernama Maiyah ini adalah sebagai jembatan antara Simpul Maiyah dengan Cak Nun. Namun juga sebaliknya, semua hal yang berkaitan dengan Cak Nun tidak harus melewati Progress karena Cak Nun juga memiliki kedaulatan sendiri. Dalam hal ini, Progress lah yang membutuhkan Cak Nun, bukan sebaliknya. Progress adalah kumpulan staf yang membantu kebutuhan dan apapun yang disampaikan oleh Cak Nun. Progress bukan orang terdekat Cak Nun sehingga orang-orang Progress tidak boleh merasa paling dekat ataupun Ge-eR terhadap kedekatannya dengan Cak Nun.

 

Melihat JM yang memiliki berbagai macam karakter, mulai yang patuh dan bisa memahami Progress, hingga ada pula yang tidak mau berurusan dengan Progress dalam kaitannya untuk berhubungan langsung dengan Cak Nun. Menurut Cak Zakky, ada beberapa JM yang menyebut Progress diktator dan lain sebagainya. Semua anggapan miring tersebut tidak Progress anggap sebagai kebencian ataupun hal untuk meremehkan Progress, namun lebih karena saking cintanya mereka kepada Cak Nun.

 

Progress tidak memiliki ikatan atau struktur penyebutan seperti organisasi atau lembaga pada umumnya. Tidak ada jabatan struktural dalam Progress, namun bidang kerjanya tetap sangat jelas. Lebih kepada apa yang dikerjakan bukan siapa yang mengerjakan. Rekrutmen di dalam Progress pun tidak terstruktur seperti rekrutmen perusahaan pada umumnya. Semua orang yang ada di dalam Progress sudah se-frekwensi. Tidak ada bimbingan khusus dalam setiap bidang kerja.

Ada empat bidang yang tergabung dalam Progress yakni pihak yang menangani acara, dokumentasi, perpustakaan, dan urusan “dapur”. Setiap bidang bisa ditangani oleh orang yang sama ataupun beberapa orang sekaligus. Selain itu Progress juga mempunyai unit berupa web caknun.com dan Perpustakaan EAN yang sistem kerjanya juga dibawah Progress. Organisasi di dalam Progress adalah suatu sistem yang memegang teguh norma sekretariat bersama. Progress tidak tergantung individu yang ada di dalamnya. Keputusan yang dirumuskan oleh Progress bersifat bersama. Cak Nun juga memiliki keterlibatan untuk memutuskan acara yang disusun oleh Progress, utamannya acara-acara yang berhubungan dengan politik dan konflik sosial.

 

Nama Progress sendiri adalah ide dari Mas Sabrang. Ide ini berasal dari pikiran Mas Sabrang yang sukur njeplak. Menurut Cak Zakky, sukur njeplak-nya Mas Sabrang pasti sudah melalui pemikiran yang matang. Progress sendiri memiliki makna sebagai tenaga kerja yang sangat aktif. Makna ini terbukti hingga perjalanannya yang ke-13, Progress tetap bekerja sangat aktif dan multitasking seperti halnya Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam menemani masyarakat yang membutuhkan ketataan hati dan kejernihan pikiran.

 

 

[Tulisan ini merupakan hasil jurnalisme dua reporter BMJ (Danang Riadi dan Wahyoko Fajar) untuk sedikit menguak lebih dalam tentang Progress. Pernah pula dimuat di BMJ edisi khusus Progress, April 2017]