bbw surabaya

“Gambuh KAMARDIKAN”

Hari kemerdekaan diperingati sebagai “independence day”. Secara
harfiah, independence adalah antonim dari dependence. Artinya hari
kemerdekaan adalah hari dimana satu negara tidak lagi tergantung,
dependent, kepada negara atau pihak lain. Satu makna yang secara
gramatikal terasa masih sempit bila dibanding “merdeka” dengan beragam
pemaknaannya.

Memperbincangkan Indonesia yang kemerdekaannya diproklamirkan pada 17
Agustus 1945, adalah membicarakan sebuah negara yang wilayahnya
merupakan kesatuan pulau-pulau bekas koloni Hindia Belanda. Romantika
heroik seputar pembacaan naskah Proklamasi serta pengibaran bendera
Merah Putih yang dijahit sendiri oleh ibu negara pertama, Fatmawati,
tidak akan kita bahas disini. Kita akan coba menelusuri kembali makna
kemerdekaan sebagai bangsa dan negara. Mengupas lebih jauh implikasi
telah merdekanya kita sebagai sebuah negara.

Sudahkah buah manis kemerdekaan itu bisa dicecap oleh segenap unsur di
habitat Sabang sampai Merauke? Apakah pembangunan infrastruktur dan
teknologi yang menghiasi kota-kota besar menjadi takaran paling
terlihat untuk keberhasilan kemerdekaan? Keleluasaan kita untuk
memiliki apa saja dengan serbaneka cara, banyaknya pilihan-pilhan
bentuk dan kemasan untuk melepas hasrat avonturir atau wisata, tidak
terbatasnya  lagi jalinan relasi antar manusia, lalu lintas pemikiran
dan ideologi hingga taraf yang meresahkan, itukah “check list”
kemerdekaan? Mungkinkah itu semua justru.gambaran dari keterpenjaraan?

Definisi lebih rasional pernah diungkapkan Cak Nun yaitu bahwa merdeka
adalah pengetahuan dan kemampuan untuk mengenali batas. Dalam bahasa
yang lain, Sabrang MDP mengatakan kemerdekaan sebagai pengetahuan
seputar limitasi. Dari makna ini diharapkan tumbuh keseimbangan yang
bisa diartikan tatanan adil dengan parameter-parameternya.

Benarkah setelah 71 tahun kita jalani kehidupan sebagai sebuah negara,
ketidaktergantungan atau– di wilayah yang lebih luas– kedaulatan
secara nyata melatari setiap perilaku, kebijakan, keputusan dan
program serta agenda?

Mengambil sudut pandang sebaliknya, “merdeka” sebagai kata sifat
sebagaimana halnya “banyak” bila kita sematkan imbuhan “ke” dan “an”
berubah maknanya menjadi sesuatu yang berlebihan, “kelewat batas”.
Artinya, kemerdakaan yang menjadi tujuan luhur segenap bangsa justru
menjadi sarana bagi apapun yang merujuk pada keleluasaan bagi siapa
saja untuk melakukan apa saja.

Bila kemerdekaan diartikan sebagai kebebasan, sungguh kita telah masuk
ke gerbang halamannya. Budaya permisif yang mengiijinkan segalanya
berjalan tanpa rambu adalah penanda termudah untuk meyakinkan bahwa
kita telah bertemu. Hukum memang tersedia namun keberadaannya tidak
menjamin hadirnya keadilan bisa menjadi penala kedua. Cita-cita dan
tujuan bersama sebagai bangsa tetap tertulis namun setiap entitas
berjalan atas nama dan untuk hanya kepentingannya. Ini bisa jadi
hitungan ketiga.

Layaknya sejoli yang dimabuk asmara, banyak orang gandrung kata
merdeka. Merindukan, memimpikan, meneriakkan hingga turun ke jalan
memperjuangkan. Tatanan yang bukan tidak mungkin satu rekayasa BARAT
atau UTARA agar kita maki terasing dari substansi dan kejernihan. Satu
situasi dimana khayalak memilih untuk larut dalam fase “gambuh
kamardikan”.

Bukan hanya karena “mumpung padhang rembulane” atau suasana
penanggalan yang di seputaran semarak “tujuhbelasan”, mari sampaikan
krenteg ati, unek-unek atau harapan tentang kemerdekaan. Sejak awal
dan akan tetap demikian, semua kita dipersilakan menyuarakannya secara
MERDEKA!