Prolog

PROLOG BangbangWetan Juli 2016

Salah Mongso, Moso’ Salah ?

bbw juli

Puasa satu bulan sebagai piranti penyucian dilanjut riyadloh saling memaafkan telah kita jalani bersama. Pertanyaannya kemudian, cukup adilkah semua lelaku kita itu di mata Tuhan dalam mengeliminasi segala khilaf dan salah?

Melihat betapa dzolimnya kita kepada diri sendiri, sesama dan semesta, cukup kuatkah porsinya sebagai upaya kuratif atas segala nista? Dari sudut pandang remeh temeh kemanusiaan kita, tentunya, menahan lapar dan dahaga adalah upaya luar biasa yang bisa kita lakukan dan akibat logisnya adalah bahwa sudah selayaknya bila Tuhan membalasnya dengan kelahiran kembali kita di hari nan fitri.

Memperbincangkan keadilan memang tak akan pernah ada habisnya. Di dalamnya tersangkut secara nyata kepentingan, referensi pribadi, cara pandang dan ambisi atas pokok-pokok persoalan. Hukum yang berlaku positif beserta kelengkapannya pun tak bebas dari unsur-unsur polutan. Sehingga, menyandarkan harap pada hukum itu sendiri dalam beberapa hal menjadi perilaku yang keadilannya perlu dipertanyakan.

Kemacetan berujung maut di jalur mudik massal, pengampunan pajak yang sudah jadi keputusan, ratusan orang tua yang risau akan keaslian vaksin yang disuntikkan ke anaknya, istilah “tumpul ke atas, runcing ke bawah”, mereka yang tetap bisa melenggang dalam kesewenangan,  serta sekian banyak contoh lain adalah metafora dari kondisi keadilan yang masih memeras air mata kita, mbrebes mili meratapinya.

Adil, keadilan, seperti juga hujan,kemarau dan musim tidak pernah salah. Mereka adalah makhluk yang hanya menjalankan Sunatullah. Siasat, nilai dan “vested interest” mereka tak punya. Manusialah, yang di awal penciptaannya dikatakan oleh iblis hanya akan menjadi perusak semata, aktor utamanya. Jelas sudah,  bukannya “salah mongso” melainkan “salah menungso” yang menjadikan adil kian terkucil dan keadilan hanya ada di khayalan.

Di hari kelima belas bulan Syawal ini, mari kita omongkan kembali topik adil dan keadilan itu. Pembahasannya bulan lalu memang belum usai. Tanpa berharap tuntasnya persoalan, dengan panduan nara sumber yang bisa diandalkan, ayo teriakkan lagi kata itu: ke-ADIL-an!

Red : ISIM BangbangWetan