Manusia dengan segala keunikannya memberi banyak peluang untuk terus menerus menjadi bahan studi. Lihatlah, dari sekian banyak percabangan ilmu serta rerantingnya, telaah tentang manusia melingkupi tidak hanya satu kutub eksak atau sosial saja. Dari satu obyek ini bermunculan berpuluh bahasan yang dalam perkembangannya saling bersinggungan.

Demikian halnya dengan manusia itu sendiri. Berawal dari semangatnya untuk bisa bertahan dan melanjutkan pohon silsilah, mereka secara simultan mengupayakan dan terbukti menjadi pemenang atas eksplorasi alam, langit dan bumi. Keunikan yang dimaksud adalah bagaimana makhluk yang berbahan dasar tanah liat ini merebut dan mempertahankan posisinya sebagai numero uno.
Walhasil, premis awal bagi kita adalah betapa manusia sangat unik dan (mungkin) karena itu pula studi tentangnya terus bertambah seolah deret ukur yang memberikan banyak pengali.

Menelisik ke fase awal proses keberadaannya, manusia diciptakan untuk tujuan yang sederhana. Bersama jin sebagai “kawan sejalan” Allah menciptakan mereka untuk mengabdi kepadaNya [QS Al Dzariyaat 56]. Adagium ini seharusnya melahirkan kenyataan bahwa segenap perilaku, arah dan tujuan, mimpi dan harapan hingga yang paling ultima: tempatnya kembali adalah dan hanyala Allah. Dalam pernyataan yang bersahaja, manusia pada hakikatnya hanya punya hak untuk ta’at, patuh dan berkhidmad kepada penciptanya.

Ibnu Athoilah, dalam salah satu master piecenya, “Al Hikam”, mengatakan bahwa ketaatan adalah satu bentuk karunia dari Allah. Seperti halnya keimanan, ketaatan menjadi otoritasNya untuk menentukan siapa, kapan dan bagaimana seseorang bisa taat pada ketiga pihak yang secara substansial harus dipatuhi.

Tetapi nampaknya, kilau pesona dunia, tekanan hidup keseharian dan bayangan akan pencapaian-pencapaian menjadikan manusia tidak lagi atau tidak hanya menjadikan Tuhan sebagai patronnya. Serbaneka sesuatu dalam kategori makhluk dinobatkannya menjadi panutan, messias atau ratu adil.

Manusia yang galibnya tunduk kepada Allah, Tuhan semesta alam, justru menunjukkan deviasi perilaku dimana mengikuti kemauan dan ambisi diri menjadi gaya hidup yang lumrah dan sewajarnya. Bukannya taat kepada Tuhan, dzat yang mencipta dan pasti tempatnya kembali, manusia tampak kian taat pada dirinya sendiri, kepada diri pribadi.

Dalam bahasa yang lain, Cak Nun di “Daur”nya pernah mengemukakan istilah “agamaterialisme”. Ini pula yang perlu ditelisik sebagai pangkal dari pembiasan kepatuhan. Kriteria keberhasilan berdasarkan kepemilikan membuat khalayak ramai berduyun-duyun menuju satu predikat bertajuk “terhormat” dan “terpandang” hanya dari satu cara pandang.

Bila kita menghitung waktu, mungkin masa ini adalah “kalatidha”. Periode yang sungguh vivere pericoloso bagi martabat manusia dan harkat kemanusiaan. Inikah fragmen eskalasi dari satu pertunjukan kebodohan bangsa yang mudah tertipu lagi dan lagi bernama Indonesia?

Dari profesor, doktor sampai rakyat jelata, dari pak lurah sampai petinggi negara, terbuai taat pada junjungannya. Taat hanya pada  tumpukan keinginan yang diajarkan sekaligus disediakan pemenuhan pasokannya oleh manifestasi kuasa jahat dengan mana sang naga menjadi salh satu aktor pentingnya.

Sang Guru tak henti mengingatkan mulut naga bukanlah surga sejati. Ia hanyalah bualan pencari rente ekonomi untuk perutnya sendiri.

Apa daya, taat pada diri sendiri,  taat pada naga dan ragam ketaatan tidak kepada Allah Azza wa zaala lebih menggoda. Bukan hanya karena tawaran instannya namun juga karena hembusan media dan pemangku amanah yang ambil bagian menjadi corong pengeras suaranya.

Tepat sehari seusai Padhang mBulan mensyukuri perjalanan tiga windunya, mari kita urai paparan di atas dalam suasana yang tetap “Surabaya punya”: hangat, spontan, boleh kemana-mana namun tetap di lintasan cinta ke-Maiyah-an kita semua.

#Redaksi: BBW