Pencapaian peradaban mutakhir saat ini, secara wadag dan kasat mata menumbuhkan kekaguman dan ketakjuban. Produk fisik kebudayaan gilang gemilang berlomba menggapai langit. Gedung tinggi dan infrastruktur mengundang decak kagum. Kemajuan dan percepatan teknologi dan informasinya menghabiskan kata untuk mengungkapkan ketakjubannya. Pencapaian peradaban semacam itu dilandasi satu keinginan instingtif manusia untuk memudahkan hidupnya, menggampangkan urusan-urusannya, meningkatkan produktifitasnya, setidaknya menurut pengertian yang disepakati, yakni kepemilikan.

BbW Mar 16

Setiap segala sesuatu ada harganya. Pencapaian itu berhasil memudahkan hidup, sehingga saking mudahnya, setiap kesulitan menjadi pantangan, disambati habis-habisan, dihibur dengan kesuksesan. Pencapaian itu berhasil menggampangkan urusan, sehingga saking gampangnya, perjuangan dan proses panjang seolah tak mendapat tempat. Pencapaian itu benar-benar meningkatkan produktifitas yang diukur dari banijirnya komoditas dan produk yang dikonsumsi, sehingga saking meningkatnya, dunia seolah hanya berisi mesin dan robot penghasil produk, dunia tak ubahnya mulut menganga yang menelan apapun yang dilemparkan ke dalamnya.

Sementara di sisi lain, mereka yang terdesak ke pinggiran zaman menghuni ruang-ruang sempit, menjadi maf’ul bih bagi peradaban ini. Mengutip catatan dari pojok sejarah tahun 80an: bahwa orang-orang miskin dan kemiskinan tak henti menjadi bahan kajian, melahirkan ilmuwan-ilmuwan baru, mengakselerasi program-program baru, mencairkan dana-dana pemberdayaan – sambil di saat yang sama: orang miskin dan kemiskinan tetap nasibnya.

Maka pencapaian itu sempurna menjadi gerhana bagi peradaban yang dibangunnya. Gerhana total. Dan dalam kegelapan, semua yang buruk terjadi. Meskipun pada kulit terluar kehidupan berjalan baik-baik saja, namun di dasarnya manusia semakin kehilangan kemanusiaannya. Semakin senja peradaban, semakin kikis kemanusiaanya. Kemudahan, kegampangan, mesin produksi paket-paket budaya menyisakan manusia sebagai barisan robot yang diseragamkan inputnya, hanya untuk menjamin output sesuai standard yang ditetapkan entah oleh siapa. Saking seragamnya, setiap anomali dan fenomena non-mainstream dianggap sebagai benalu.

Maka sebuah keniscayaan jika manusia merindukan kembalinya kemanusiaan, jika ingin kembali disebut manusia yang jangkep. Inilah proses pemberadaban (kembali): proses menemukan kembali kemanusiaan dan menjadi manusia. Sebuah proses panjang, berliku, zigzag, spiral, bahkan siklikal. Sebab silang sengkarut dan pengaburan yang terjadi kian tak terumuskan. Begitu samar sehingga semua tampak “baik-baik saja”. Dan dalam proses pemberadaban ini, niat saja sepertinya tidaklah cukup. Ia memerlukan konsistensi luar biasa, kesabaran tiada tara, kejernihan fikir sebening kaca, endapan kerendahan hati hingga daya tahan tak berbatas.

Inilah sebuah laku tirakat, Tirakat Pemberadaban. Sebuah laku tirakat, sebab -merujuk pada “Belajar Alif Ba Ta Agamaku” menyebutkan bahwa- laku tirakat ini pasti tidak kompatibel dengan arus peradaban saat ini. Nilai-nilai yang mendasarinya bukan sekedar tidak sama dengan keyakinan dan pilihan sikap kebanyakan orang, bahkan banyak yang bertentangan dan sebagian lainnya malah amat sangat berkebalikan. Pilihan laku tirakat ini hampir semuanya bertentangan dengan kelaziman sikap hidup manusia modern yang mengutamakan perjuangan mencapai eksistensi, pembangunan citra, pengagungan kehidupan yang ini dengan skala prioritas kemenangan, kejayaan, kesejahteraan dan kebahagiaan dunia.

Sungguh begitu absurdnya jaman. Begitu tak terumuskan lipatan-lipatannya. Alangkah tak terungkapkan pembiasannya. Alangkah derasnya hujannya, kencang anginnya. Butuh kuda-kuda mental dan sikap yang kuat, bahkan untuk sekedar bertahan. Apakah lagi untuk terus berjalan menyetiai laku tirakat pemberadaban ini.

Kuda-kuda dan sikap mental seperti apa dan bagaimana yang paling tepat untuk menjalani tirakat ini. Bagaimana meneguhkan keyakinan dengan memiliki pengetahuan, pemahaman, pengertian yang kuat tentang mengapa dan kenapa memilih dan melakukan tirakat sampai tuntas tanpa mrotholi. Tak berhenti disini, melainkan meneguhkan langkah melakukannya sampai ikhlas menjadi ruhnya. Sehingga segala kegelapan mampu kita olah menjadi cahaya yang terus memancar.

Muwajjahah, kebersambungan hati dan keselarasan rasa pada BangbangWetan Maret ini adalah majelis untuk bersama-sama belajar mengenai itu semua.