Kolom Jamaah

Pseudo-Hasta Brata ala Begawan Antaga

Sinau Wayang #5

Oleh: Rahadian Asparagus

 

Karepmu kono, Su!! Modar mbok ben…”

“Kamu itu lho kenapa, Lung?

datang-datang bukannya uluk salam, malah ngedumel sendiri.” “Nggondok hatiku, Gog. Kudu tak kruwes ae lambene!

“Hehe… Mbilung… Mbilung. Kamu itu kalau marah bukan tambah serem, tapi malah tambah lucu. Hehehe…”

“Woo… Dasar ndower! Aku tuh lagi kesel, Gog. Bukannya dihibur, malah diejek.” “Hehehe… Suaramu itu lho yang buat aku kemekelen, Lung. Udah cempreng, ndakbernada pula.”

“Maksud perkitiinmu???”

“Perkataan!!!”

“Oh iyo. Maksud perkataanmu, suaraku seperti gembreng diseret gitu, Gog!”

“Makanya Lung, kalau punya gigi itu yang rukun. Gigi kok singkur-singkuran seperti orang pacaran pas lagi ngambek. Pantes aja kalau bicaramu pating pecotot.

“Kalau bukan temenku, tak cucup ubun-ubunmu, Gog!” “Hehehehe… marah nih ye.”

” Mboh!!!”

***

Dua jam sebelumnya, Mbilung menghadap ke junjungannya, Prabu Duryudana. Tak seperti biasanya, dia menghadap tidak bersama sahabat karib satu-satunya, Togog. Jelmaan Betara Antaga atau Betara Tedjomantri alias Sang Hyang Puguh itu sedang kurang enak badan. Malam sebelumnya, Togog sebenarnya sudah berpesan berkali-kali ke Mbilung agar menunggu dirinya sembuh dulu baru bersama-sama menghadap Raja Kurawa itu. Togog paham betul apabila Mbilung dibiarkan sendirian menghadap, jelmaan Batara Sarawita itu pasti akan mengacau dan membuat kuping sang junjungan akan panas mendengarkan ocehan si Mbilung, dan biasanya setelah itu mereka berdua dipecat dari tugasnya sebagai pamomong. Ya meskipun jika mereka maju bersama pun, sang junjungan tetap akan panas kupingnya dan ujung-ujungnya dipecat juga. Hehe…

Tapi seperti kita tahu, kebiasaan mereka mengkritik disertai oleh omongan pedasnya itu susah sekali hilang. Sebelas dua belas lah dengan keponakannya, Bagong. Gara-gara dua sifat itu pula, Mbilung yang dulu bernama Batara Sarawita dihukum dalam bentuk turun ke bumi atau Arcapada karena melawan perintah Batara Guru.

Baiklah, kembali ke cerita awal. Mbilung sebetulnya ingin mengingatkan Prabu Duryudana agar mengurungkan niatnya untuk melamarkan anaknya, Raden Lesmana Mandrakumara dengan Dewi Pergiwa, putri sang penengah Pandawa, Raden Arjuna, satria dari Madukara. Bukan tanpa alasan Mbilung memperingatkan junjungan Astina tersebut, pertama; pesaing utama Raden Lesmana Mandrakumara itu bukan laki-laki sembarangan, dia tidak lain dan tidak bukan anak kedua penegak Pandawa Raden Werkudara atau Bima Sena yaitu satria Pringgodani, Raden Gatotkaca alias Si Jabang Tetuko. Konon katanya, dia juga terkenal dengan satria otot kawat, balung wesi, lan driji gunting-nya. Kalaupun sampai beradu tanding, bukannya kembali ke Astina membawa Dewi Pergiwa yang kabarnya cantik jelita, salah-salah kepala sang anak kesayangan yang dielu-elukan menjadi pewaris tahta Astina itu yang akan menjadi cinderamata Prabu Duryudana. Semua  kalangan  juga  tahu,  bahwa  kegemaran  Raden  Gatotkaca  kala bertarung ialah  mluntir atau memelintir kepala musuh-musuhnya sampai lepas dari tubuhnya. Kedua, Mbilung meminta agar Prabu Duryudana lebih sadar diri dengan keadaan fisik dan mental sang putra mahkota. Mohon maaf, Raden Lesmana Mandrakumara itu terkenal owah pikir alias agak idiot, pemalas, dan manja. Pesona Dewi Pergiwa sudah terkenal di seluruh pelosok dunia pewayangan karena selain paras wajahnya memancar bagai sinar purnama, dia juga perempuan yang amat cerdas, dan cekatan, sifat itu kemungkinan diturunkan dari sang ayah, Raden Arjuna. Apa nanti tidak akan memalukan seluruh Astina, apabila Raden Lesmana Mandrakumara berulah ketika jadi menikah  dan  menjadi  suami  dari  Dewi Pergiwa?  Bukannya  kebanggaan  yang didapat, malah wirang isin yang akan di petik kelak oleh Raja Astina tersebut.

Mendengar celotehan Mbilung yang semakin ke sini semakin panas seperti bara api, Prabu Duryudana pun muntab bukan kepalang. Darahnya berdesir dengan hebat, mukanya berubah menjadi merah padam. Tak ayal lagi Mbilung pun tak bisa luput dari cercaan, makian, dan umpatan Raja yang bergelar Gendariputra tersebut. Bahkan Prabu Duryudana tak segan-segan berkata bahwa derajat Mbilung tidak lebih tinggi dari sandal selop yang Duryudana pakai saat itu. Dengan derajat yang rendahnya bukan kepalang itu, tidaklah elok bagi Mbilung menasihati orang lain, terlebih lagi yang dinasihati adalah raja yang menjadi pusat junjungan seluruh rakyat Astina. Parahnya lagi, amarah Raja Astina tersebut dibumbui dengan sedap dan gurih oleh omongan dan bisikan dari sang tangan kanan, Patih Sengkuni dan Guru Durna. Lengkap sudah.

Mbilung yang di Astina hanya abdi kelas bawah pun akhirnya diusir bahkan diseret oleh para punggawa dari Balairung istana karena nasihat pedasnya. Setelah peristiwa penghinaan luar biasa itu, dengan hati dongkol, Mbilung pun pergi menemui sahabat sejatinya,Togog. Harapannya ialah dia bisa menumpahkan isi hatinya yang berkecamuk pada karibnya tersebut. Selain sebagai sahabat, Togog merupakan tipe pendengar yang baik sekaligus pemberi solusi yang sangat mumpuni, kemampuan itu tak berbeda jauh dengan  sang  adik, Semar  Badranaya atau Batara  Ismaya.  Banyak  kalangan  yang bertanya mengapa Togog itu disebut sahabat sejatinya Mbilung, bahkan ada sumber yang berkata bahwa Mbilung sebenarnya adalah anak dari Togog itu sendiri. Konon, dahulu kala ketika Togog yang saat itu masih bernama Batara Tejomantri atau Batara Antaga akan menerima hukuman dari ayahnya yaitu Sang Hyang Tunggal untuk turun ke bumi, dia meminta batur atau teman kepada sang ayah agar dia tidak pernah kesepian ketika berada di Arcapada. Yang pada akhirnya, Sang Hyang Tunggal pun mengabulkan permintaan sang anak, dan menciptakan Mbilung dari bayang-bayang Togog. Itulah mengapa di mana ada Togog, pasti ada Mbilung. Laiknya makhluk yang tak bisa lepas dari bayangannya sendiri.

***

Oalah, gitu to ceritanya, Lung.”

He’eh, Gog. Aseli, mangkel aku, Gog.”

“Kamu tau sendiri kan Lung, kalau setiap junjungan yang kita ikuti itu, kalau ndak sumbu pendek ya ngeyelan...”

“Iya juga sih, Gog. Ya aku pikir Prabu Duryudana ini beda. Karena ada Guru Durna di situ. Dia kan seorang resi agung istana, pendiri sekaligus guru besar padepokan Sokalima yang terkenal itu. Apa gak pernah diajarin Asta Brata sama Durna ya, Gog?”

“Siapa maksudmu yang diajarin, Lung?”

“Ya Ndoro Duryudana, Gog. Dia adalah raja, pemimpin besar Astina, harusnya dia diajari dong sewaktu berguru pada Guru Durna tentang falsafah kepemimpinan Asta Brata. Yaa… minimal dikasih tahu dikit-dikit lah sama patih kesayangannya, Sengkuni. Mosok yo blas, Gog. Raja kok anti kritik!”

Biyuhhh… bahasamu, Lung… pakai istilah minimal dan anti kritik segala. Apik tenan Je.

Hahaha…”

Yo ben, Gog. Daripada gak ngomong.”

“Gini Lung, kamu kan tahu apa itu Asta Brata. Ilmu kepemimpinan yang terkenal itu terinspirasi dari delapan unsur kehidupan. Di falsafah Asta Brata itu para pemimpin haruslah mencontoh dari unsur-unsur tersebut agar menjadi pemimpin yang disayang Tuhan dan dicintai seluruh rakyatnya.”

“Bener, Gog. Asta Brata itukan cara bagaimana menjadi pemimpin yang benar dengan meniru matahari, bulan, bintang, mendung, tanah, air, api, dan angin. Kalau aku ndak salah ingat, ilmu itu pertama kali diturunkan oleh Prabu Ramawijaya ke adiknya Raden Barata sewaktu hendak menjadi raja di Kerajaan Ayodhya dan Raden Gunawan Wibisana ketika naik tahta sebagai pewaris Alengka menggantikan kakaknya, Prabu Dasamuka ya, Gog?”

Widih… Habis kerasukan apa kamu, Lung? tumben cara pandang dan jangkauan pengetahuanmu luas hari ini. Kosik… kosik… Ini Mbilung bener kan?”

Asui... Bukan!!! Aku itu aslinya Barry Prima!!! Puas kamu Wer… Ndower…” “Hehehehe… Bercanda, Lung… Bercanda.”

Lambemu… Tapi gini, Gog, ilmu Asta Brata itu kan diturunkan salah satunya ke Raden Barata waktu jaman Ramayana dulu, sedangkan Raden Barata itu adalah kakek moyangnya Pandawa dan Kurawa. Harusnya keduanya menerapkan ilmu itu. Tapi kok yang dapat ilmu itu kenapa hanya Pandawa ya, Gog?”

“Begini, Lung. Ada dua jawaban untuk pertanyaanmu itu, Pertama; yang menurunkan ilmu itu haruslah seorang titis Wisnu, kita semua tahu bahwa Prabu Ramawijaya adalah titisan Dewa Wisnu. Maka dari itu ilmu Asta Brata kelak juga akan diturunkan dan diajarkan oleh titisan Wisnu setelahnya, yaitu Prabu Sri Batara Kresna, Raja dari Negara Dwarawati yang terkenal itu. Semua pun tahu, Prabu Kresna memihak ke Pandawa. Tentu saja yang dapat ilmunya ya para Pandawa, bukan Kurawa. Yang kedua; apabila semua mendapatkan ilmu itu, baik Kurawa maupun Pandawa akan jadi pribadi yang baik semua, lha perang Bharatayudanya nanti ndak jadi digelar, Lung. Bisa kacau nanti keseimbangan semesta.”

Woalah… iya ya, Gog… betul juga ucapanmu. Ndak rugi bibirmu ndower, Gog. Otakmu encer ternyata… Hihihi.”

Dengkulmu mlocot… Tapi jangan salah, Lung. Kurawa itu diam-diam juga menerapkan Asta Brata, tapi versi gagalnya.”

Kosik… Kosik… Maksudmu gimana, Gog? Aseli njepat otakku sama pernyataanmu ini. Versi gagalnya itu gimana? Terus di bagian apanya yang gagal itu, Gog?”

“Begini. Coba kamu sebutkan unsur-unsur dari Asta Brata yang harus ditiru untuk para pemimpin itu, Lung. Nanti aku jelaskan versi gagalnya.”

“Oke, Gog. Yang pertama pemimpin itu harus meniru matahari.”

“Matahari. Panasnya hanya di pusat, mereka yang ada di lingkup penguasa bisanya hanya memaki dan mencaci teman sendiri demi untung pribadi. Kerjanya hanya mengeringkerontangkan sawah di negeri sendiri dan air mata kepercayaan rakyatnya.”

Weladalah… Yang kedua, Gog; Bulan.”

“Bulan. Setiap kritik dan saran dari oposisi selalu ditanggapi dengan emosi. Sudah begitu, para penguasa berlomba-lomba merasa yang paling jadi penerang di negeri gelap nan gulita ini.”

Ediann… Yang ketiga, Gog; Bintang.”

“Bintang. Pemimpin bukan lagi penunjuk arah, musim, dan tujuan. Mereka terlihat jauh oleh rakyatnya karena sudah dibutakan oleh nikmatnya singgasana.”

Bihh… Yang keempat, Gog; Mendung.”

“Mendung. Yang tampak pada mereka hanya gelap, tanpa teduh. Selain itu, mereka menjadi tabir yang sangat pekat untuk para pengkhianat.”

Duh… Yang kelima,Gog; Tanah.”

“Tanah. Tugasnya melongsorkan. Melongsorkan apa? Melongsorkan cita-cita negerinya lalu kelak longsoran tersebut menjadi kuburan massal untuk para kawula. Mereka kerap menampakkan diri sebagai humus, tapi pada kenyataannya tandus.

Biyung… Yang keenam, Gog; Api.”

“Api. Siapa yang pintar membakar, silakan melamar jadi pemimpin. Tugasnya saling menyulut sana sini sepanas-panasnya biar matang. Bukannya matang, yang ada malah gosong di luar, tapi mentah di dalam.”

Haduh… Yang ketujuh, Gog; Air.”

“Air. Mari saring sungai bersih itu untuk kita teguk sampai kembung. Sisakan air muntahan dahak dan kotoran manusia dan hewan untuk jelata. Motonya para penguasa di sini ialah, jadilah akibat tanpa terlibat. ”

Hoalah… Yang terakhir, Gog. Kedelapan; Angin.”

“Angin. Mari ciptakan kabar sekabur-kaburnya. Jangan biarkan sepoi-sepoi bertahta. Setelahnya, kita anyam badai dan beliung, agar topan menyelimuti buwana.

“Cukup Gog, cukup… Aku kok ngeri ya mendengarnya. Pantas saja jika Kurawa seperti itu ya, Gog.”

“Iya, Lung. Semoga tidak menular ke negeri lain.”

“Sepertinya Asta Brata palsu itu sudah menular ke suatu negara deh, Gog. Hmm… sebentar… sebentar… Ah, aku ingat. Perlu aku sebutkan negaranya, Gog?”

Hush… Jangan, Lung. Aku sudah tau negara mana yang mau kau sebutkan itu.” “Hehehe…  Tapi,  kasian  rakyatnya  ya,  Gog  kalau  ada  negara  yang  pemimpinnya menerapkan Asta Brata versi gagal itu.”

Hey.. kamu jangan salah sangka, Lung. Biasanya jika pemimpinnya menerapkan Asta Brata gagal yang aku sebutkan tadi, rakyatnya malah semakin tangguh, trengginas, dan cerdas.”

Weh… Kok bisa gitu ya, Gog. Apa mungkin sebabnya mereka sudah tidak berharap apa- apa lagi sama penguasa dan pemimpin ya. Jadi mereka berusaha sendiri agar lebih mandiri. Bukan begitu, Gog?”

“Betul, Lung. Aku seneng kalau kamu pinter gini. Hehe…”

Semprul… Eh, Gog, ngomong-ngomong tugas kita kan sebagai pamomong dari pemimpin yang keras kepala, sumbu pendek, dan gampang emosian seperti yang kamu bilang tadi. Terus apa langkah kita untuk menghadapi pemimpin yang seperti itu, Gog?”

“Gampang, Lung. Jika bisa kita ingatkan, ya kita ingatkan. Kalau tidak bisa, kita jerumuskan saja sekalian. Setelah mereka semua mati, kita cari bos baru lagi. Gimana?”

Mashhukk Gog!!!”

—tancep kayon—

 

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic