Kolom Jamaah

Puasa dan Argentina

Oleh: Fajar

Kalau mendengar kata puasa, apa yang pertama kali anda pikirkan? Bisa jadi yang pertama terpikir adalah Ramadhan, atau menahan hawa nafsu dari subuh hingga maghrib. Lalu, kalau mendengar kata Argentina, apa yang pertama kali anda pikirkan? Evita Peron-kah!? Hmm…mungkin lebih tepat kalau sepakbolalah yang pertama kali terpikir. Pertanyaan berikutnya adalah apa korelasi antara puasa dan Argentina?

Argentina's Lionel Messi goes for the ball during a group A Copa America soccer match against Costa Rica in Cordoba, Argentina, Monday, July 11, 2011. Argentina won 3-0. (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Setiap orang bisa jadi memiliki jawaban masing-masing terhadap pertanyaan di atas. Tapi bolehlah saya menjawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat tersebut. Namun sebelumnya, mari kita sedikit flashback terlebih dahulu. Dalam 3 tahun belakangan, Ramadhan kita ditemani oleh sajian pertandingan sepakbola kelas wahid. Mulai dari Piala Dunia 2014, Copa America 2015, serta duet Piala Eropa dan Copa America Centenario 2016. Sebuah hal yang mengasyikkan bagiku, karena setidaknya saya tidak telat bangun dan tidak aras-arasen saat makan sahur.

Kita persempit cakupan pembahasannya dengan hanya membahas Copa America Centenario 2016. Ajang kejuaraan tertua sepakbola antar negara tersebut baru saja menyelesaikan gelarannya, dengan Chili sebagai kampiun. Sang runner-up, tak lain adalah Argentina.

Bagi para penyuka sepakbola, mungkin banyak yang setuju kalau saya bilang bahwa Argentina adalah salah satu negara besar dalam dunia sepakbola. Nama-nama seperti Mario Kempes, Diego Maradona, Gabriel Batistuta, hingga Lionel Messi merupakan sedikit dari banyak pesepakbola hebat yang lahir di negara tersebut. Untuk prestasi, ukiran 2 bintang sebagai tanda dua kali menjadi juara Piala Dunia, serta 14 kali menjadi juara Copa America sudah cukup rasanya untuk menjadi bukti bahwa Argentina memang negara besar dalam dunia Sepakbola.

Tapi tahukah kalau sekarang Argentina juga sedang melakukan puasa!? Tentunya puasa disini bukanlah puasa selayaknya puasa Ramadhan di Indonesia. Namun, puasa gelar di level timnas senior. Bukan hanya puasa 1 bulan penuh, namun mereka telah berpuasa selama 23 tahun, dan belum tahu kapan akan berhari raya.

***

Pasar, food court, mall, dan padat arus jalanan semakin menampakkan wajah khas tahunannya sebagai pertanda hari raya Idul Fitri akan segera tiba dalam hitungan hari. Setelah itu, apakah puasa kita akan berakhir!? Ya, apabila kita melihatnya dari sudut pandang puasa Ramadhan. Namun, jawaban bisa berubah menjadi ‘tidak’ apabila kita melihat puasa dari sudut pandang shaum.

Dalam Bangbang Wetan Juni 2016, Cak Nun menjelaskan tentang perbedaan siyam dan shaum yang beliau sadur dari Cak Fuad pada Padhang mBulan Juni 2016. Siyam adalah tidak makan dan minum sejak subuh hingga maghrib baik di bulan Ramadhan maupun bulan lainnya. Shaum adalah pemaknaan dan aplikasi siyam di segala bidang dan aktivitas hidup. Cak Nun menambahkan bahwa Ramadhan itu sekolah. Tempat atau waktu untuk belajar. Metode kurikulumnya adalah siyam. setelah Ramadhan, prakteknya adalah shaum.

Jadi, setelah berakhirnya bulan Ramadhan, justru saat itulah kita memulai puasa yang sebenarnya. Puasa yang lebih besar. Memang kita diperbolehkan untuk makan dan minum di siang hari. Namun, bukankah ada yang lebih besar dan lebih sulit untuk dikendalikan dari sekedar makan dan minum!?

Kalau cuma menahan makan dan minum saja, hewan dan tumbuhanpun juga bisa. Namun justru disitulah letak keunggulan manusia yang sebenarnya. Manusia juga dibekali akal nurani. Tidak seperti hewan dan tumbuhan yang hanya dibekali naluri. Kalau puasa kita hanya terletak pada makan dan minum, lalu apa bedanya kita dengan hewan dan tumbuhan.

Tentunya kita tak perlu harus berpuasa selama 23 tahun, kalau dalam konteks siyam. Cukup 1 bulan wajib di bulan Ramadhan. Namun, dalam konteks shaum, kita tidak boleh kalah sama Argentina. Kalaupun godaan yang menggoda kita sehebat Maradona dan Messi-pun, kita jangan sampai tergoda untuk membatalkan shaum kita. Kita harus berpuasa bahkan lebih lama dari yang dilakukan Argentina. Yaitu puasa sepanjang zaman. Seperti kata Cak Nun bahwa yang terpenting dalam hidup itu adalah nge-rem-e (penahanan atau pengendalian diri) bukan nge-gas-e (pelampiasan diri).

Bagi penggemar Argentina jangan marah terhadap tulisan saya ini. Doakan saja semoga mereka juga bisa merayakan hari raya secepatnya. Dan, untuk teman-teman yang sedang menjalankan ibadah puasa, ojo kakean mokel rek, tirulah Argentina yang keukeuh dan masih betah untuk tidak membatalkan puasanya walau godaan final datang berkali-kali. Hehehe….