Puasa Shiyam, Puasa Shaum dan Muatan Medsos Kita

Oleh : Ahmad Fuad Effendy

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (Al-Baqarah 183)

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. (QS-Maryam:26)

Di dalam bahasa Arab, padanan kata puasa bisa Shiyâm atau Shaum. Ayat yang seringkali diucapkan atau kita dengar di bulan Ramadhan adalah ayat 183 di dalam surat Al-Baqarah, “Ya ayyuhal ladzîna âmanû kutiba ‘alaikum ash-shiyâm”. Di dalam ayat yang memerintahkan kepada orang-orang beriman agar berpuasa tersebut, Allah menggunakan kata Shiyâm. Sementara di dalam surat Maryam ayat 26, Allah subhanahu wata’ala mengajarkan kepada Maryam ibunda Nabi Isa ‘alaihis salam satu kalimat untuk menyatakan bahwa dirinya sedang berpuasa, dengan menggunakan kata Shaum, yaitu “Fa qûlî innî nadzartu li Ar-Rahmâni shauma”.

Menahan, Mengendalikan, dan Meninggalkan

Puasa yang diperintahkan kepada kita menggunakan kata shiyâm. Artinya puasa perut dan di bawah perut: puasa makan, minum, dan seks. Demikianlah yang ditetapkan di dalam hukum fiqih. Sebutir nasi atau setetes air yang dengan sengaja dimasukkan melalui kerongkongan akan membatalkan puasa. Sedangkan berbicara bohong dan menggunjing sepanjang hari tidak membatalkan puasa. Adapun  puasa yang diperintahkan kepada ibunda Nabi Isa ‘alaihis salam adalah puasa berbicara. Ini bisa dipahami dari lanjutan ayat tadi, “fa lan ukallima al-yauma insiyya” (maka saya pada hari ini tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun).

Tapi apakah itu berarti bahwa selama kita berpuasa, di bulan Ramadhan ini, kita boleh berbicara semau kita tanpa batas? Tentu tidak. Berbicara bohong, dusta, kotor, memfitnah, memecah belah, jelas mengurangi nilai puasa. Bahkan sampai ke titik nadir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan kebatilan dalam perkataan dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari). Maka hakekat puasa yang disyariatkan dalam Islam pada dasarnya mencakup pengertian Shiyam dan Shaum. Bertumpu pada pengendalian diri dalam arti luas. Ini sesuai dengan makna dasar secara etimologis verba Shâma – Yashûmu adalah amsaka wa taraka, yang bermakna menahan, mengendalikan, dan meninggalkan.

Di era sekarang, media sosial menguasai pikiran sebagian besar manusia dan menyelinap ke setiap detik kehidupan mereka. Merenggut bukan saja waktu senggang, tapi juga waktu sibuk mereka. Orang-orang beriman perlu mulai berpikir untuk mengendalikan diri, menahan keinginan untuk berbicara, terutama melalui media sosial. Apalagi di bulan Ramadhan sekarang ini, kita benar-benar perlu menahan diri.

Berbicara bukan saat kita ingin bicara, tapi berbicara hanya jika kita perlu bicara. Menulis bukan karena kita ingin menulis, tapi menulis jika memang diperlukan untuk menulis.

Belajar Memahami Khair dan Ma’ruf

Bukan berarti haram menggunakan berbagai aplikasi media sosial, meskipun boleh jadi itsmuhu akbaru min naf’ihi (dosa atau bahayanya lebih besar daripada manfaatnya). Kekuatan kita untuk menahan diri dan mengendalikan jari lah yang akan menentukan apakah medsos membawa manfaat atau mudharat.

Dalam hal ini perlu kita simak firman Allah dalam surat An-Nisa 114: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan (obrolan) mereka (baik di dunia nyata maupun di dunia maya), kecuali bisikan-bisikan dari orang yang mengajak memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberikan kepadanya pahala yang besar”. Alangkah indahnya, dan alangkah besar manfaatnya jika isi media sosial kita menyangkut tiga hal yang disebutkan di dalam ayat ini.

Pertama, mengajak bersedekah. Dalam perspektif Islam, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedekah memiliki makna yang luas. Bukan hanya memberikan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan, tapi kepedulian sosial dalam arti yang lebih luas. Kata Beliau “Senyumanmu di hadapan temanmu adalah sedekah”. Menyapa, memberi salam, berkata-kata yang positif, menyatakan simpati dan empati, mencerahkan pikiran, menggembirakan dan membahagiakan hati orang lain dan sejenisnya adalah juga sedekah. Bahkan berdzikir dengan mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir adalah sedekah. Kemampuan setiap orang, konteks, situasi dan kondisi, tempat dan waktu, menentukan jenis sedekah mana yang baik dan bisa dilakukan.

Kedua, mengajak kepada yang ma’ruf, atau kebaikan. Berbeda dengan khair yang merupakan nilai kebaikan universal, ma’ruf adalah kebaikan berdimensi kultural. Menghormati tamu, sebagai contoh, atau berbakti kepada orang tua adalah khair karena merupakan nilai kebaikan yang bersifat universal. Nah, bentuk penghormatan kepada tamu dan kebaktian kepada orang tua adalah ma’ruf karena berdimensi kultural. Maka dari itu, ma’ruf bisa berbeda bentuknya antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, bahkan antara suku atau komunitas satu dengan lainnya.

Ajakan kepada ma’ruf ini tidak akan ada habis-habisnya, tapi harus dijaga agar media sosial tidak hanya dipenuhi nasehat-nasehat apalagi nasihat klise dan terkesan menggurui. Akan lebih enak dibaca kalau isinya bukan taushiyah (memberi nasehat) tapi tawâshî (saling menasehati), diambil dari surat Al-Ashr “wa tawâshaû bil-haq wa tawâshaû bish-shabr” (saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).

Berlomba-lomba Merukunkan, Memperluas, dan Mengajak Pada Kebaikan

Poin ketiga dari tadabbur ayat di atas adalah, mengajak kepada kerukunan, ishlâhun bainan nâs. Butir ketiga ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Alangkah baiknya jika obrolan, pembicaraan, perbincangan, postingan di media sosial dan semacamnya mulai dibersihkan dari konten yang mempersempit pikiran. Apalagi menebar kebencian, mempertajam perseteruan, mengadu-domba, memfitnah, memalsu identitas atau menisbatkan satu tulisan kepada bukan penulisnya, merekayasa gambar, menyerang lawan atau membela kawan secara berlebihan, dan sejenisnya.

Alangkah indah kalau diisi dengan pembicaraan yang mencerahkan, meluaskan pikiran, mengedepankan husnuzhan, mengembangkan pikiran yang syâmil-mutawâzin – konprehensif dan berimbang, menilai secara adil dan fair, dan sejenisnya. Al-Qur`an mengingatkan bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan bil-‘adli wal qisthi (Al-Hujurat, 9), yaitu dengan keadilan yang dinamis (al-‘adlu) tapi juga dengan parameter yang jelas (al-qisthu).

Jika ini bisa dilakukan oleh sebanyak mungkin orang, dengan momentum bulan puasa Ramadhan 1438H ini, maka pembicaraan di media sosial yang menyejukkan dan merukunkan, tanpa mengabaikan kebenaran dan keadilan, akan menjadi arus kuat yang semoga bisa mengalahkan, atau mengimbangi, atau setidaknya mengurangi arus negatif yang mendominasi lembaran-lembaran di media sosial akhir-akhir ini. Semoga.

 

Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai anggota Majelis Ummana ( Board of Trustees) di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.

  • Pernah diterbitkan di Buletin Maiyah Jatim edisi Juni 2017