Oleh : Prayogi R Saputra

 

Obituari untuk Cussy

 

Entahlah, sejak beberapa hari lalu jalan sama Brams, Nathalie jadi suka menyendiri. Perilakunya jadi aneh. Kadang senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Berlama-lama menatap langit. Atau tak bosan-bosan memandang bunga jeruk di pekarangan. Dia juga jadi susah tidur malam. Dan, yang paling menonjol, Nathalie jadi senang becermin. Sebentar-sebentar dia akan menatap cermin. Memandangi bayangannya sendiri.

Sore ini, dia kembali akan bertemu Brams. Brams mengatakan dia akan menunggu Nathalie di pojok barat Benteng Brandenberg, di bawah pohon kamboja paling selatan. Yang daunnya rimbun. Karena Brams akan menunjukkan salah satu tempat terbaik menikmati matahari terbenam selain di Gunung Merbabu. Dengan duduk di bawah pohon kamboja tua itu, kata Brams, mereka bisa menatap matahari kemerahan terbenam di puncak Gunung Wilwatikta. Sambil berbincang-bincang, tentang apa saja. Tentang hal-hal yang tak penting. Bahkan, tentang hal-hal yang tak layak diperbincangkan.

Tengah hari baru lewat, tapi Nathalie sudah tak sabar agar hari segera beranjak sore. Dia pun bergegas membungkus tumbler dan beberapa potong kue, memasukkan ke dalam tas, mengambil kunci Navarra warna putih susu, lantas berlalu ke arah timur. Menemui Brams yang sekarang mungkin masih ngamen dari toko ke toko, di sepanjang Jalan Marlboro. Atau sedang membagi-bagikan nasi, yang dibeli dari hasil ngamen dengan kawan-kawannya kepada nenek-nenek atau siapa pun yang terbengkalai di gang utara Pasar Beringhardjo.

Sepanjang perjalanan, Nathalie memutar Magic Moment-nya Mike Rowland. Sinar matahari masih menyiram bumi dengan sempurna. Meskipun, jauh di sana, di langit utara, awan putih tebal nampak merata. Sesekali, sepeda motor, ojek online, menyalip mobil Nathalie. Dari sisi kanan. Maupun sisi kiri. Di lampu merah, Nathalie berhenti. Seorang nenek tua, bungkuk, berjalan pelan-pelan berusaha menyeberang. Dengan cekatan, seorang anak muda bergaya punk bergegas menjemputnya ke tengah jalan, lalu memapahnya. Nathalie tahu anak muda itu, dia sering ngamen bersama Brams.

Sampai di lapangan parkir Benteng Brandenberg, Nathalie sengaja jalan-jalan keliling. Toh Brams juga belum akan datang. Dia berjalan perlahan, mengamati para pedagang, yang begitu saja menggelar dagangannya di pagar. Aneka macam dagangan mereka. Mulai gantungan kunci, gelang kayu, kalung manik-manik, dan aneka kerajinan tangan, hingga jasa tato badan. Para pedagang itu juga tak ada yang tahu sehari akan laku berapa. Tapi, dari Brams-lah Nathalie mengerti, semangat para pedagang itu.

 

Almarhum Wahyu Chabibi “Chussy” dengan anak dan istrinya

 

Bahwa tiap hari, dagangan harus digelar, ada yang akan beli atau tidak, bukan lagi jadi urusan. Karena, menggelar dagangan hanya soal kewajiban. Sementara soal makan, tak usah dipikirkan. “Rezeki tidak hanya datang dari dagangan”, imbuhya. Brams telah membentangkan tjakrawala hidup baru bagi Nathalie. Mungkin itu sebabnya, dia menjadi istimewa, baginya, begitu menancap di hati.

Menjelang sore, Nathalie bergegas pergi ke pojok benteng. Dia menuju pohon kamboja di ujung selatan. Yang rindang. Dia berharap, Brams telah menunggunya di sana. Tapi, begitu sampai di dekat pohon, dia melihat masih kosong. Tak ada siapa-siapa. Nathalie sedikit kecewa. Tapi tak apa. Dia segera ingat, mungkin Brams masih di suatu tempat. Melakukan pekerjaannya. Maka, Nathalie mengeluarkan bekalnya. Menyusunnya sedemikian rupa. Agar ketika Brams tiba, mereka bisa langsung menikmatinya.

Lima menit. Brams belum tiba. Lima belas menit. Belum juga tiba. Lima puluh menit. Tidak ada tanda-tanda Brams akan tiba. Aneh. Tidak biasanya Brams terlambat demikian lama. Nathalie memandang ke langit barat. Matahari bundar kemerahan, seperti bola yang meleleh di langit. Pelan-pelan hendak terbenam di balik Gunung Wilwatikta. Nathalie melepaskan jaketnya. Hanya dengan kaos oblong putih, celana jeans biru dan sepatu kets putih, dia menikmati matahari terbenam dari pojok Benteng Brandenberg. Seorang diri. Tanpa Brams yang janji untuk menemani.

Matahari terbenam sempurna, Nathalie merasa jengkel, dongkol, marah. Dia merasa Brams telah mengingkari janjinya. Matanya menggerabak. Dadanya menyesak. Pundaknya naik turun menahan perasaan yang campur-aduk. Maka, setelah hari gelap sempurna, dia menghubungi Janda. Dia ingin tahu apakah Janda tahu tentang Brams. Telepon berdering, tapi tak diangkat oleh Janda. Jangkung. Demikian pula. Perasaan Nathalie jadi seperti lemari, dibongkar pasang, semakin tak pasti

Ditengah galau yang kian memuncak, tetiba, ada bunyi ting dari HP Nathalie. Pasti bukan dari Brams karena dia tak punya HP. Mungkin dari Janda. Atau, Jangkung. Maka, dia buru-buru membukanya. Rupanya, dari Doktor Panut. Nathalie agak kecewa. Tapi dia memaksakan diri membacanya. ”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah pulang kepada Allah, Brams. Sore ini pukul 17.37, tepat saat matahari terbenam. Semoga …………………………..”

Nathalie tak kuasa melanjutkan membaca. Wajahnya segera berlumur air mata.

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra

 

Catatan:

Brams, salah satu karakter dalam serial Doktor Panut, dkk yang tiap bulan tayang di rubrik Tjakrawala, Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ), adalah karakter yang dibangun dari profil Muhammad Wahyu Habibie (Cussy). Dua hari lalu, Cussy dipanggil pulang oleh Allah. Semoga almarhum khusnul khotimah dan disiapkan tempat terbaik oleh Allah.