Segitiga cinta berperan sebagai pusaka, atau pedoman buat menemukan lingkaran-lingkaran permasalahan yang tak mampu dicairkan oleh akal manusia.

 

 

Oleh : SW. Mahendra

Sebuah warisan dalam laku gelombang pergerakan jiwa yang sebenarnya telah digadang-gadang kelahirannya sebagai bentuk dasar prinsip fundamental atau metode cara pengambilan keputusan. Sebagai gondelannya perbaikan dialektika antar lingkaran kepuyengan-kepuyengan sosial dan kejungkirbalikan bidang-bidang lain.

Warisan yang bukan akhir dari sebuah warisan getaran gelombang, memang dijadikan lebih terprogram, dan kayaknya semakin tegas dalam mengingatkan dan membimbing para manusia-manusia yang memang mencari, mengais-ngais rasa ke-manusia-annya, berharap menemukan keping-keping nilai yang diusahakan untuk dibangun kembali melalui jalan-jalan trabasan rokaat pendek, atau jalan rokaat panjang pada ukurannya masing-masing.

Sebuah warisan yang sebenarnya tertanam pada wadah kepribadian masing-masing manusia, namun memang perlu adanya rumus yang lebih kongkrit serupa peta konsep untuk menjernihkan niat, laku niat, buah niat yang telah diturbiditasikan oleh niat-niat lain (baik dalam wilayah ke-individu-an, keluarga, kampung, provinsi, negara atau lingkup dunia) yang ada kecenderungan berniat menghabisi satu sama lain.

  • PUSTAKA SEGITIGA CINTA DAN TEORI CINTA STERNBERG

Pustaka yang berarti buku, kitab, yang menurut tafsiran saya dalam segitiga cinta memang diniati untuk menjadikannya serupa nilai ajek, memiliki sebuah aji, mengandung sangu untuk menjalankan kehidupan dan dibaca-baca untuk menghadapi ketidakpastian kebenaran. Pe-motivasi puasa dalam pengambilan keputusan dengan penuh hati-hati agar bisa ber-haflah setelah imtihan keduniaan.

Hendaknya, jika serupa buku, segitiga cinta pun dapat dibuka, dibawa, dimana dan kemana. Entah dalam bentuk materi atau sudah berbentuk kejiwaan.

Dalam dunia psikologi dan hubungannya dengan dunia percintaan manusia, pakar psikolog Amerika Robert J Sternberg menemukan hasil penelitiannya yang juga dikenal dengan teori “Segitiga Cinta” . Menurut beliau, semua jenis hubungan, baik itu hubungan pertemanan, kekasih, pasangan hidup ataupun belahan jiwa, memiliki salah satu dari tiga elemen ini; KEINTIMAN, GAIRAH dan KOMITMEN.  KEINTIMAN berkaitan dengan kondisi kedekatan emosional, yang melibatkan kadar kepercayaan antar pasangan. GAIRAH berhubungan dengan keromantisan,  ketertarikan secara batin dan lahir KOMITMEN adalah upaya sadar untuk menjaga hubungan.

Jika kita perhatikan, nggatekake teori segitiga cinta RJ. Stetnberg di atas, tiga poin disitu menunjukkan unsur yang berwujud sifat, jadi pak Sternberg punya tafsiran kalau perasaan cinta yang ideal itu mengandung tiga unsur tersebut. Kalau dihubungkan dengan segitiga cinta maiyah bahwa segitiga maiyah menunjukkan unsur subjek, sedang dari tiga subjek tersebut terdapat dialektika yang menurut saya bisa terkandung teori Sternberg. Bahwa untuk mengkhusyukkan keromantisan hubungan hamba dan Tuhannya, maka perlu rasa intim, bergairah dan berkomitmen untuk selalu mempertahankan kesetiaan itu. Tentunya dengan wilayah dan ukuran tertentu untuk juga mengaplikasikannya baik kepada nabi kesayangan dan sesama hamba yang sama-sama merangkak ke jalan-Nya

  • PUSAKA SEGITIGA CINTA DAN ROMANTIS-NYA

Kata pusaka dalam kbbi diartikan sebagai warisan, peninggalan dari moyang. Pada budaya

Jawa kita kenal pusaka tak hanya berarti (hanya) bentuk materi, tapi bisa masuk kewilayah nilai harga diri, kualitas. Mungkin hingga ada yang tak bisa ditukarkan dengan harga materi berapapun (ada juga yang menyebutnya benda keramat kalau tidak dijaga bisa kuwalat). Tapi dalam segitiga yang ini kita dibimbing untuk mengenali penyelesaian masalah dalam lingkaran hidup kita entah yang berasal dati luar atau dalam diri kita, dengan berpedoman pada sang maha pencipta. Tentunya dengan banyak kisah-kisah, pengalaman yang kita lalui, jika orang maiyah yang mungkin baru nyemak diskusi maiyahan itu belum banyak merasakan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman spritual yang istimewa, orang maiyah yang mungkin lebih lama dalam menyimak nilai-nilai kemaiyahan akan merasa seperti ada jawaban atas masalah yang dihadapi entah kapan itu, dimana itu, lewat siapa itu, meskipun sampai misuh, ngumpat, marah sedikit kemudian gligak-gligik,  tersenyum syukur, tetap, mereka meyakini bahwa Tuhanlah sutradaranya, Dialah yang mengirimkan pertolongannya.

Bukannya cobaan dan nikmat-Nya juga itu merupakan ujian dari-Nya untuk kita? Menurut pengalaman spiritual, ketika akal dan nafsu sudah membelenggu dan sampai pada titik batas nyerahnya, maka yang bertindak, berperan menjadi pencari jalan kebaikan (nilai) adalah jeroning rasa, yaitu hati yang bergandeng dengan mata iman.

Dengan segitiga cinta, fungsi kesadaran manusia sebagai hamba sangat di-terang-kan, bahwa dalam hubungannya dengan bergelut, melipattekukkan akal pikiran, ternyata ada garis hubungan yang seharusnya berjalan romantis dan bergairah, tapi pada titik kehambaan yang kadang surut kandungan imannya menyebabkan garis hubung tersebut kadang tak sama sisi atau ada yang mengendor atau menjadi segitiga sembarang atau bahkan tak penuh membentuk segitiga atau bahkan tidak ada konsep segitiga sama sekali karena dalam menyelesaikan masalah hanya dengan menggunakan dialektika lingkaran diluar segitiga tersebut. Linkaran itu bisa tentang masalah kehidupan secara individu, kelompok, negara dan dunia.

Karena di dunia ini, ada masalah yang memang manusia belum atau bahkan tidak bisa menyelesaikannya. Sehingga perlu adanya bantuan. Segitiga cinta berperan sebagai pusaka, atau pedoman buat menemukan lingkaran-lingkaran permasalahan yang tak mampu dicairkan oleh akal manusia.

  •  SEGITIGA CINTA DAN KESADARAN TUAN RUMAH CINTA

Segitiga cinta maiyah mengingatkan kita pada penjelasan cak Nun yang menggambarkan bahwasannya di dalam diri manusia ada tiga software yaitu Akal, Hati dan Syahwat. Syahwat yang sifatnya menyerap, menguasai, dan melampiaskan apa saja yang menjadi keinginan ke-aku-annya. Untuk mengontrol syahwat yang perilakunya mbledhak-mbledhak, Tuhan mengkaruniakan sebuah kalbu atau hati, tapi kalbu itu tidak bisa mengetahui mana batas-batas yang dapat dilampiaskan, dan ada kecenderungan sebuah kalbu untuk juga menuruti bujukan syahwat. sehingga Tuhan menciptakan akal. Akal menemani kalbu untuk bisa menimbang-nimbang keputusan yang diambil. Pun kalbu juga tetap juga bisa tergoda-goda dengan syahwat.

Maka yang diciptakan Tuhan yaitu sistem iman. Dimana ibaratkan iman adalah singgasana (rumah) dalam kalbu, maka siapakah yang benar dan pantas bisa duduk disana? Tidak lain adalah Dia sang yang Wenang yang punya kuasa mewenangkan kebijakan-Nya, kehendak-Nya kepada seluruh wayang-wayang-Nya. Masalah behind the scenes-Nya (balik layar-Nya) biar hanya Dia yang tahu. Dan siapa lagi yang pantas menemani-Nya untuk menjaga pintu singgasana -Nya ? Tidak lain dia sang kekasih Nabi Muhammad SAW. Sehingga ketika manusia telah sadar akan keberadaan Tuan rumah singgasana (Shohibu Baytii) dan siapa yang menjaga pintunya maka tidak ada cara lain agar bisa kembali pulang pada ketenangan, ketentraman, kesejatian, selain menuju ke rumah-Nya melalui pintu yang dijaga oleh kekasih kita.

Kita benar-benar perlu sadar bahwa tak ada solusi lain berkenaan dengan urusan yang melingkari kehidupan kita tanpa meletakkan metode pemecahan masalahnya kecuali kembali dan ingat pada aturan main-Nya yang kita dimudahkan juga dengan adanya jalan solusi segitiga cinta maiyah untuk dijadikan rumus cara mengatasi lingkaran-lingkaran permasalahan kehidupan. Kecuali memang kita manusia yang lalai akan sangkan paraning dumadi, manusia yang lupa akan kampung halamannya.

 

Penulis dapat ditemui di : Fb : Sunu Wahyu M.