Oleh : Prayogi R Saputra

Sukardji duduk tenang di beranda rumah. Dia menghisap sebatang rokok kretek tjap DJiTu. Suara cengkeh yang terbakar gemeretak memecah kesunyian pagi hari. Subuh baru saja lewat. Suasana masih samar-samar. Sebagian lampu-lampu di depan rumah tetangga belum dimatikan. Sesosok bayangan berkelebat di samping rumah, secepat kilat, lantas  menghilang dibalik pepohonan. Meninggalkan jejak kaki di tanah yang basah. Ranum aroma tanah yang baru diguyur hujan bulan Oktober menguar di udara. Sukardji menghirup segarnya udara dalam-dalam.

Laki-laki berbadan kokoh dan berkulit legam itu sedang dilanda bahagia. Bagaimana tidak? Dua hari lagi,  anak sulungnya, Puteh,  akan menikah. Mantu anak perempuan tentu beda rasanya dengan mantu anak laki-laki. Bagi orang-orang desa, mantu anak perempuan ibarat etalase. Untuk mantu anak perempuan, mereka selalu mengupayakan dengan berbagai cara agar acara berlangsung besar, megah, dan banyak tamu. Walaupun seringkali dibiayai dengan hutang kanan-kiri. Harapannya hanya satu: tidak membuat tuan rumah merasa wirang dan harus menanggung malu.

Begitu pula keluarga Sukardji. Mereka sudah mempersiapkan segala kebutuhan resepsi dengan baik. Kayu bakar sudah ditimbun di kandang belakang rumah sejak 6 bulan lalu. Enam buah gulungan daun jati yang dipesan dari hutan jati Dungus sudah dikirim ke rumah. Lima buah pawon sudah dibuat dari bata merah dilumuri dengan tanah liat. Terop 4×24 meter sudah terpasang di sepanjang jalan depan rumah. Hari ini, kursi tamu, meja tamu, kuade pengantin, dan semua perlengkapan dekorasi akan tiba.

Sukardji mempekerjakan tiga orang tukang adang, 2 orang pembuat minuman, dan 3 orang untuk memasak lauk-pauk. Biasanya, para tetangga akan datang untuk membantu mengiris sayuran, membungkus berkat, menerima dan mencatat buwuhan, atau membantu pekerjaan ringan yang lain.  Tidak lupa, Sukardji juga sudah minta tolong kepada Mbah Mangun, pawang hujan, untuk menyingkirkan hujan dari Tjigrok agar hajatan Sukardji berjalan dengan lancar. Bahkan, dia merelakan seekor sapi yang telah dirawatnya selama bertahun-tahun untuk disembelih.

Untuk memeriahkan resepsi, Sukardji mengundang perias pengantin terbaik di Tjigrok: Ibu Sri Sulandjari. Berpasangan dengan dalang pemandu acara dengan suara bariton: Ryan Kusuma. Untuk sound system, Sukardji memilih mendatangkan dari kota dibanding menggunakan milik tetangga. Ongkos yang lebih mahal tak apa, asal suaranya memuaskan telinga, begitu katanya. Sukardji juga nanggap kledek dan perangkatnya. Sekelompok nayogo dan gamelan akan menghibur para tamu undangan. Bahkan, siap melayani jika mereka ingin bekso. Semua itu sudah dibayar lunas oleh Sukardji. Agar tak ada beban dan omongan tetangga setelah resepsi.

Istri Sukardji, Mbok Mitun menyajikan segelas kopi. Lantas duduk di samping Sukardji.

“Bagaimana, Mbok dengan urusan dapur? Apakah masih ada yang kurang?”tanya Sukardji.

Mbok Mitun membetulkan ikatan rambutnya.

“Itu loh Pak. Kayu bakarnya ada yang basah sebagian, terkena tempias hujan.”kata Mbok Mitun.

“Oh ya? Padahal sudah kuatur dengan baik. Biar nanti aku suruh mBendol menata kembali. Agar  aman.”

“Sama daunnya. Yang satu gulung jelek-jelek.”

“Oalah! Bagaimana sih, Jiyo. Biasanya kalau beli daun jati ayu-ayu kok.”

“Ya itu. Kalau sudah mepet begini kan jadi repot semua.”

“Njaluk dikenthes bocah kuwi,” Sukardji nampak menahan emosi,”Biar nanti kupanggil dia!”

Obrolan tentang kesibukan persiapan pernikahan berlanjut. Suasana pagi sudah terang benderang. Beberapa ekor ayam mulai berkelana mencari makan. Suara bebek riuh wek-wek-wek di kejauhan. Maryam, si tukang adang, sudah tiba untuk melakukan persiapan. Dia menemui Sukardji dan Mbok Mitun sejenak, mengutarakan kebutuhan-kebutuhannya, lantas berjalan menuju dapur terpal yang dibangun di belakang rumah.

Tak lama kemudian, Yati, rekan satu  tim Maryam, datang. Dia membawa beberapa perlengkapan masak untuk peralatan kerjanya. Yati hanya menyapa Sukardji dan Mbok Mitun, dan langsung menuju ke dapur lewat samping rumah. Pohon-pohon singkong di kebun samping rumah Sukardji sudah mulai lebat daunnya. Yati memetik beberapa helai sambil lewat, lantas berlalu.

Anak-anak SD sudah mulai berangkat ke sekolah. Berjalan kaki. Mereka membentuk rombongan-rombongan kecil. Kadang 2 anak. Kadang 3 anak. Sebagian mengenakan sepatu. Sebagian yang lain pergi ke sekolah tanpa sepatu. Beberapa nampak bersisir rapi, dengan minyak rambut wangi. Tapi beberapa hanya mengguyur rambutnya dengan air sewaktu mandi. Narti, adik Puteh yang duduk di bangku SMA juga sudah hendak berangkat ke sekolah. Begitu pula Hartini yang masih SMP.

“Puteh kok belum bangun ya, Mbok?” kata Sukardji.

“Coba, lihat ke kamarnya. Jangan-jangan sakit. Mau jadi manten kok sakit.”

Tanpa menjawab, Mbok Mitun masuk ke dalam rumah. Sukardji menghirup kopinya. Beberapa saat berlalu, sampai ada teriakan Mbok Mitun memanggil-manggil Sukardji.

“Pak!Bapak! Cepet mreneo! Cepet!!!!” suara Mbok Mitun terdengar panik.

Kontan Sukardji lari ke dalam rumah.

“Mitun dipanggil-panggil ndak menyahut. Kamarnya dikunci.”

“Ndukkk!!!! Ndukkl!!!!!” seru Mbok Mitun.

Sukardji bergegas menggeser meja, lantas mengangkat kursi dan meletakkannya di atas meja. Narti mendekat, Hartini juga. Tapi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara, Maryam dan Yati bergegas masuk.

“Ada apa, Yu?”

“Ada apa?” tanya mereka.

Tak ada yang menjawab.

Sukardji naik ke kursi, melongok ke dalam kamar Puteh yang berdinding tripleks. Kosong. Bantal, selimut dan seprei diatur rapi. Sukardji melompat ke dalam kamar dan membuka gerendel pintu dari dalam. Mbok Mitun menghambur masuk. Disusul Maryam dan Yati.  Sementara, Narti dan Hartini menunggu diluar kamar sambil berpelukan. Mereka berdua menangis.

Sukardji mengecek jendela yang tertutup, ternyata tidak dikunci. Mbok Mitun menemukan sesobek kertas di atas bantal. Maryam dan Yati saling berpandangan. Mbok Mitun menyodorkan kertas itu pada Narti dan menyuruh Narti membacanya. Narti ketakutan. Wajah Sukardji merah padam.

“Mbak pergi Mbok,”kata Narti terbata-bata,” Mbak ndak mau dijodohkan sama Kang Noto.” Lalu tangisnya meledak. Hartini ikut menangis. Maryam dan Yati mbrebes. Sementara, Sukardji melompat keluar dan pergi ke dapur.

“Anak ora ngerti dididik!!!!” lolong Sukardji sambil mengayunkan parangnya ke tumpukan kayu bakar.

Seketika, perasaan bahagia yang mengguyur Sukardji dan Mbok Mitun lenyap, berubah menjadi bencana. Undangan sudah disebar, terop dan pawon sudah dipasang, perias, kledek, nayogo, sound system, semua sudah dipesan dan tinggal datang.

Sukardji duduk mengguguk-guguk di dapur.

“Piye olehku nandang wirang,”[i] gumamnya.  

112019

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra

*Puteh:  baca seperti membaca “sate”

[i] Bagaimana aku harus menanggung malu.