Oleh: Wida Purnama*

 

Satu hari yang cerah, usai menjemur pakaian, Pipit Pratiwi nyaris membanting ponselnya ke lantai. Namun dia urungkan, karena ingat bahwa harga ponselnya tidaklah murah. Lagipula ponsel itu merupakan hasil jerih payahnya menabung berbulan-bulan. Dia mengubah niatnya dengan meng-unfollow beberapa following-nya di Instagram sambil mengoleskan parem kocok ke lengannya yang pegal karena mencuci baju tiga ember.

 

Pipit adalah satu dari berjuta-juta manusia yang puyeng dengan kehadiran dan tingkah polah manusia di media sosial. Membayangkan kondisi batin seorang Pipit mengingatkan saya pada perbincangan dengan seorang kawan baik yang baru pulang dari Inggris tahun 2016 silam. Kawan itu cukup membuat saya terhenyak. Katanya, bahwa dia meng-unfollow semua yang dia ikuti di Instagram kecuali suaminya. Berarti, saya, kawan kami yang lain, pun saudaranya tidak lagi menjadi circle following-nya di Instagram. “Lho, kenapa?”, tanya saya penasaran. “Capek, Mbak. Aku merasa hidupku tidak untuk menikmati pencapaian dan framing orang lain atas dirinya sendiri. Di medsos itu, orang-orang pasti sedikit banyak mengatur citra diri mereka, dan aku lelah mengetahui itu. Toxic!”, jawabnya.

 

Mulai saat itu, saya resah dengan fenomena ini, bagaimana hubungan cinta tapi benci antara manusia dengan media sosial terjalin? Dari yang awalnya merasa terbantu dan bahagia dengan adanya fitur-fitur media sosial hingga kemudian mendapat kesadaran baru bahwa media sosial ini banyak dhemit-nya juga; bikin stress, bikin tidak bersyukur, bikin standar hidup mejadi sangat ndakik, dan ujung-ujungnya pada bilang media sosial itu toxic. Tapi, tunggu dulu, saya akan mencoba menguraikan.

 

Bukankah sejak dulu kita tahu bahwa hubungan antar manusia tak pernah selalu harmonis? Bedanya, jika dulu interaksi antar manusia terjalin langsung—tatap muka, saat ini “tercipta” dunia maya, yang memungkinkan interaksi tanpa bertatap muka. Masih segar dalam ingatan saya, Mbah Sentik dan Swargi Mbah Jinem yang saling melabrak hingga tudhing-tudhingan pisau hanya karena pakan ternak. Di masa kecil saya, konflik antar manusia dihadapi secara langsung. Sekarang, makin pandai seseorang, makin variatif pula cara berkonfliknya. Bikin sindiran di status, curhat di story WhatsApp, blokir kontak si A, B, C, hingga Z. Tak sedikit juga teman-teman yang di-mute dari kehidupan maya. Apakah kita lebih maju dari Mbah Sentik dan swargi Mbah Jinem yang membela ternak dan harga diri dengan baku hantam face to face?

 

DOKTRIN INSTAGRAM

Sudah cukup lama saya memiliki love-hate relationship dengan Instagram. Love-nya, ya, tentu saja untuk mengetahui postingan terkini seorang lelananging jagad bagi kita semua: Nicholas Saputra. Atau mengintip katalog pergombalan terbaru, atau menyimak hari ini Suhay Salim bikin huru-hara apa dengan make-up dan skincare-nya. Alasan dua dan tiga sejatinya lebih bikin puyeng bojo, sih. Sisi lain dari itu, Instagram juga membawa ke-hadeh-an yang luar biasa untuk jiwa saya yang lemah, melankolis, dan overthinking ini.

 

Kalian pernah baca, ndak, quotes aneh-aneh yang bertebaran di Instagram tentang kegalauan dan kenestapaan? Dengan postingan-postingan seperti itu, pengikut akun ini mencapai enam ratus dua puluh tujuh ribu akun. Saya berpikir, apa, ya, faedah dan motivasi yang ditimbulkan bagi quotes kenestapaan macam begitu? Otak udang saya tentu saja tidak pernah menemukan logikanya.

 

Selanjutnya, selebriti instagram. Dalam hal gaya busana, bidadari Instagram kecintaan saya—Mega Iskanti, selalu membuat heran. Apapun yang dipakai Mbak Mega ini selalu tampak trep mantep juga layak puji. Ya, karena memang Mbak Mega cantik, sih. Tetapi, style-nya itu lho, membuat diri ini menginginkan barang-barang yang dia pakai. Saya belum pernah menemukan postingan Mbak Mega yang ndak ciamik. Angle-nya tepat, cahaya dan editingnya timeless, pakaiannya serasi, kerudungnya tegak paripurna. Kalaupun mletot, kerudung mletot-nya seorang Mega Iskanti tetap terlihat cantik—yang tentu saja tidak membuat keanggunannya minus barang sedikitpun, malah tampak natural dan manusiawi. Dengan kemampuannya mengatur feed secara menarik, tak heran jika Mbak Mega termasuk salah satu selebriti instagram “racun” di mata pengguna instagram. Sebab, tak sedikit barang endorse-an Mbak Mega yang kemudian diborong habis oleh warganet. Seandainya tidak malu dengan usia, mungkin saya juga sudah posting foto-foto dengan bermacam angle dan editan edgy seperti Mbak Mega. Untungnya saya masih diberi kesadaran bahwa wajah saya tidak camera face seperti beliau. Terlahir cantik, anggun, dan menjadi selebriti instagram populer tentu bukan salah seorang Mega Iskanti sama sekali. Mental receh macam saya saja yang mudah ter-framing dan terpengaruh ndak ada saringan.

 

Yang berikutnya—ini keluhan dari ibu-ibu muda harapan bangsa yang kebetulan sampai di telinga saya—yakni tentang standar pengasuhan bayi yang instagramable. Ada dua mata pisau yang saya tangkap dari merebaknya akun parenting di media sosial. Kadang, konten seperti itu banyak memberi edukasi dan inspirasi. Namun, dalam kondisi tertentu juga mendoktrin sebuah standar yang membuat para orang tua insecure, terutama ibu. Sudah menjadi keniscayaan bahwa seorang ibu pastilah ingin yang terbaik untuk buah hatinya. Maunya, ya, mendampingi tumbuh kembang anak di usia emas, membelikan mainan berbasis edukasi, menyajikan MPASI homemade yang story-able, tidak galau memilih prioritas; pekerjaan atau anak, memberikan ASI eksklusif, juga ikut arisan buku belajar hafidz yang mahal itu. Banyak juga ibu-ibu yang terhipnotis oleh akun—saya menyebutnya selebriti instagram parenting. Akun ini mengunggah model pengasuhan ideal. Bahkan menurut saya, amat ideal sekali. Semua kegiatan positif anaknya diunggah. Gawatnya, kadang orang yang terbius tidak berpikir bahwa semua anak juga punya sisi rewel dan tidak kooperatif terhadap pola asuh orangtuanya. Lha, pas rewel itu seringnya ndak diunggah. Jadi, orang akan berpikir anaknya ini lucu, baik, tak pernah rewel. Padahal? Ada, lho, kawan saya yang merasa sangat berdosa sampai stres karena tidak bisa menjadi ibu seperti Ibunya bayi A, B, C, dan D di Instagram. Padahal, keadaan kita tak pernah sama dengan orang lain, terlebih dengan akun Instagram yang memang bermain framing demi endorsement.

 

CERITA MAYA: HASRAT NARSISTIK DAN SEBUAH HUMBLEBRAG

Semua hal memang bergantung niatnya, namun prasangka bisa menjadi milik siapa saja” adalah kata mutiara bikinan kawan yang saya pikir masuk akal. Sejatinya, ada banyak tipe orang update story atau membuat status. Ada yang tipikal kegiatan harian, hobi, masakan, dagangan, isi perasaan, kejengkelan, ke-baper-an, sambatan, sindiran, hingga hujatan. Atau yang isinya hanya omong kosong panjang lebar macam saya. Seberagam niatnya, efek prasangka dari orang lain pun juga beragam. Ada yang gayung bersambut yang kemudian tepat sasaran. Ada yang meleset jauh, inginnya menyampaikan kebaikan tapi malah ada yang ke-trigger gara-gara status belaka.

 

Oh, iya! Fenomena nggapleki selanjutnya adalah humblebrag. Sepertinya, merendah untuk meroket memang sudah menjadi kebiasaan.

 

MEMBANGUN SELF DEFENSE DAN TOLERANSI BERMEDSOS

Sejak istilah toxic populer akhir-akhir ini, rasa-rasanya semua di sekeliling kita berpotensi untuk menjadi toxic. Status dan unggahan teman, lingkup pertemanan, lingkup pekerjaan, keluarga, maupun pasangan kita dapat sewaktu-waktu menjadi “racun” kehidupan. Sebab konsep toxic saya rasa saat ini sedang mengalami generalisasi. Jadi apapun yang bukan sudut pandang kita, siapapun yang tidak memahami kita adalah toxic. Siapapun yang tidak sepakat dengan keyakinan kita adalah toxic. Segala hal yang ada di seberang sana adalah toxic.

 

Mau tidak mau, membangun self defense adalah kunci utama. Dalam sebuah kesempatan yang saya simak di youtube, Mas Sabrang pernah ngendikan yang intinya, biar tetap waras dalam bermedia sosial, lakukan seperti memilih makanan di prasmanan. Kita memilih lauk mana yang pas untuk kita, seberapa porsinya juga kita sendiri yang tentukan. Kita berhak menentukan akun mana yang layak follow, akun mana yang layak diabaikan, dan akun mana yang sewajibnya kita block. Itulah guna media sosial menciptakan fitur tersebut. Gunakanlah demi kewarasan dan keseimbangan hidup di media sosial.

 

Kita juga berhak, kok, menyimpan atau menghapus kontak seseorang kalau memang menurut kalian sudah amat toxic—dalam artian secara esensi dan substansi. Kadang orang memang tidak menyadari  bahwa saat mereka update status, sebetulnya mereka sedang berhadapan dengan dunia. Jadi, mereka kurang mempertimbangkan perasaan orang lain atas unggahan mereka. Efek dari ketidaksadaran itulah yang kemudian kita terjemahkan sebagai toxic. Padahal, mungkin sebetulnya bukan hal di luar diri kita yang toxic tetapi siapa tahu, jika sesungguhnya konsep toxic hasil terjemahan kita itu hanyalah penyakit hati kita sendiri.

 

Saya pikir sudah cukup jelas pengejawantahan di paragraf-paragraf yang saya tulis. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di ruang rindu selanjutnya.

 

*Penulis berasal dari Magetan. Bisa disapa lewat IG @purnamawida.