Kolom Jamaah

Ramadan: Just Another Indonesian Pop-Culture

Oleh: Budi Rustanto

SEJAK era Rasulullah SAW hingga era digital saat ini, Ramadan bermakna sebagai bulan pelatihan. Melatih bagaimana menahan haus, lapar, serta keinginan melampiaskan syahwat. Lebih dari itu, melatih diri untuk tidak bergantung kepada yang selainNya, tidak berTuhan melainkan padaNya.

Di Indonesia, Ramadan adalah bulan di mana persaksian dan kehadiran umat pada satu peribadatan berada pada titik puncak. Niscaya, petak-petak surga nantinya akan dipenuhi segerombolan orang Batak, Bugis, Aceh, Minang, Melayu, Jawa, Sunda, Dayak, Banjar, Toraja, dan sebagainya. Syahadat, yang merupakan ‘perjanjian awal’, menjadi laku gerak mereka. Ma’iyyatullah—kebersamaan dengan Allah—menjadi unsur-unsur oksigen yang dihisapkan ke dalam rongga paru-parunya.

Ramadhan

Lihatlah! Tebarkan pandanganmu ke kiri-kanan, ke timur-barat, ke utara-selatan. Dengan ijinNya, akan dengan sangat mudah kita temukan spanduk-spanduk, pamflet-pamflet, poster-poster yang mengajak kepada kebaikan beribadah. “Hadir dan Saksikan! Tausiyah Akbar, Bazar Kuliner dan Launching Album Religi Ramadan Yang Akan Disemarakkan Oleh Artis-Artis Ibukota Kesayangan Umat!” Sudut kota maupun lekuk desa tersembunyi bukan menjadi penghalang bagi nabi-nabi konsumerisme untuk melayani ego atas pemuasan keinginan umat.

Bisa kita lihat di kota-kota besar, bagaimana kebudayaan ‘buka bersama’ menjadi satu event besar Ramadan di sekolah, kantor-kantor swasta, maupun instansi pemerintah. Dan sebagai penjajah yang baik, mereka sudah siap dengan paket-paket yang menyediakan lokasi, menu, hingga hiburan saat umat Islam di belahan wilayah lainnya sedang khusyuk dalam tarawih.

Semakin majunya peradaban, akulturasi kebudayaan tidak bisa dihindarkan. Lebih-lebih pada satu negara yang sangat percaya diri bahwa bangsanya adalah penduduk dunia ketiga. Segala pesta pora diselenggarakan menyambut datangnya bulan suci. Marhaban Ya Ramadan menjadi tagline yang tiap tahunnya dikomersialisasi demi pemenuhan nafsu diri.

Kalau-kalau boleh GR (gede rasa), sudah sejak lama, manusia-manusia Indonesia ini diberi peran oleh Gusti Allah sebagai survival. Dilimpahi dengan berbagai macam ujian adalah dialektika antara Pencipta dengan ciptaanNya. Sebagai manusia meh Islam, ujian adalah sarana untuk meningkatkan diri menjadi Islam yang sesungguhnya. Dari makhluk menjadi khalifah, ahsani taqwim. Dan bayaran atas ketahanan diri dalam ber-survival, maka Allah akan menganugerahkan revival. Kebangkitan kembali. Bangkit sebagai manusia, hamba, bangsa, dan negara.

Sedangkan penyakit yang mengendap dan menggerogoti sanubari Indonesia saat ini, apakah bentuk dari ujian survival ataukah azab, mari kita saling menyelidiki. Penyakit ini hinggap dan mendestruksi hampir setiap manusia Indonesia. Penyakit yang timbul sebagai akibat dari perilaku manusianya. Sementara manusia-manusianya tidak merasa sakit, bahkan sehat wal afiat. Sehingga mereka sanggup melakukan perusakan-perusakan di pelbagai bidang.

Ketidaksadaran atas dirinya dan penyakit yang mengendap di dalamnya, memutarbalikkan fakta di hadapan mereka. Yang nyata-nyata adalah penghancuran, dianggapnya pembangunan atas nama peradaban. Peradaban siapa? Seandainya manusia Indonesia tak segera membuka mata, maka kehancuran hanya menunggu hitungan waktu saja.

Tak bermakna apa-apa jika kita hanya mendengung-dengungkan revolusi untuk perubahan jaman. Islam bukanlah kata benda yang diomong-omongkan, Islam adalah kata kerja. Mengerjakan apa saja yang baik, benar dan indah. Bukan dalam takaran diri, tapi sesuai takaran Sang Maha Sejati. Alangkah baiknya jika Ramadan kali ini bukan hanya menjadi popculture yang nanti selepas 30 hari, kita kembali ke keadaan sebelumnya.

Apabila kita masih menjadi maghdlub, orang yang tahu tapi tak mau, semoga di kesempatan Ramadan kali ini Allah menetapkan iman perjuangan sebagai langkah perubahan menjadi tahu dan mau. Semoga Ramadan kali ini adalah benar-benar sebagai dialektika Allah memberikan kita ujian-ujian sebagai ajang survival untuk mencapai revival. Wa Allahu A’lam.