Bagi saya, satu hal yang menjadi pembeda mencolok di Ramadan mubarak tahun ini adalah tajamnya polarisasi di antara sesama lapisan rakyat satu negara bernama Indonesia.

 

Bulan Ramadan datang lagi. Tak pernah sama memang, bulan puasa tahun ini dengan dua tahun lalu atau satu dekade silam. Setidaknya kondisi, cuaca, dan serbaneka nuansa yang melingkupinya. Meski demikian tak ada pedulinya ia kepada itu semua. Sebagai niscaya, ia hampiri saya juga kita semua.

 

Bahwa penyesuaian atas tibanya putaran waktu tiga puluh hari itu bagi hampir semua orang adalah sekadar perulangan menjadi hal yang wajar. Sebagaimana sikap kita terhadap datangnya hari Senin yang sampai memunculkan rutukan I hate Monday. Wajar bila kita bicara tentang manusia. It’s just human being.

 

Bagi saya, satu hal yang menjadi pembeda mencolok di Ramadan mubarak tahun ini adalah tajamnya polarisasi di antara sesama lapisan rakyat satu negara bernama Indonesia. Pengkutuban ini lebih bersifat horisontal, centang perenang, dan–yang terpenting–ada kesan rekayasa serta pembiaran atas apa yang tengah berlangsung.

 

Tak nampak peran penguasa kecuali di lahan-lahan yang dianggap mengancam kedudukannya. Tak terdengar artikulasi jernih suara cerdik cendekia di tengah kejumudan zaman yang kian terjerumus ke dalam lembah kebodohan bersama. Jangan berharap hadirnya tokoh bijak bestari di keremangan hidup berbangsa-bernegara. Bahkan bilapun datang mesias di tengah kita, mungkin sekadar cibiran nyinyir khalayak dan prasangka bahwa ia tak lebih dari representasi “pihak sana” yang hendak membujuk agar kita jatuh hati; segera berdiam dan menyatakan persetujuan atas kebijaksanaan yang dilaksanakan.

 

Mau tahu kenapa? Satu yang terang benderang adalah penempatan diri yang dipilih kepala negara sekaligus kepala pemerintahan sebagai pihak yang sedang berkompetisi. Karena situasinya adalah penentuan kalah-menang maka pemisahan kami dan kalian, kita dan mereka menjadi tajam dan tidak terelakkan. Lagi-lagi ini common sense. Menjadi anomali dan berpotensi kerusakan karena sejatinya kita adalah satu keluarga besar. Pemahaman nilai yang saya yakini, jangan biarkan perpecahan menimpa persaudaraan dan meretas tali darah ketersambungan.

 

Betapa gelapnya tatanan ini terbaca ketika terdapat satu-dua orang yang jauh berada di luar arena namun secara berkelanjutan menyuarakan kemurnian dan itikad baik tetiba diseret ke gelanggang untuk dijadikan gladiator bagi berpuluh angkara kepentingan. Ia yang mestinya disyukuri keberadaannya coba ditarik paksa ke papan hitam putih permainan. Satu buah catur yang bisa digerakkan semau-mau sang empunya pertarungan.

 

Ketika satu di antara orang itu adalah beliau yang dengan sesak dada cinta serta kerinduan saya sebut sebagai CAK NUN maka izinkan terhamburnya perbendaharaan diksi purba dan tingkah kebinatangan dari saya secara personal. Saat menyaksikan bahwa satu orang itu adalah beliau yang kangen saya nyaris sepadan dengan penantian panjang untuk selalu bersama Ibu-Bapak di swarga loka, maka biarkan tenaga sisa-sisa di tubuh saya yang terus menua menjadi belati tajam–siap menghujam siapapun kau di balik semua fitnah dan cercaan.

 

Bulan Ramadan datang lagi. Sebagaimana teduh pasuryan dan hangat–tajam paningal beliau yang selalu menghampiri di simpang kerisauan. Kesucian bulan ini layaknya gemericik jernih ujaran-ujaran beliau yang senantiasa tercurah ke dalam gelas kecil pusaran kenyataan. Mau apa lagi kalau di antara ujaran itu adalah seruan untuk “Sik, sik…”. Apa mau dikata bila di ribuan kalimat cinta beliau senantiasa terselip tiga kata sederhana untuk “nandur, shodaqoh, puasa”; Senantiasa.

 

Oleh: Rio NS.

Pernah belajar di padepokan BangbangWetan. Kini menjalani hari bersama pematang, bongkah lumpur dan terik matahari. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto