Oleh: J. Rosyidi

 

Tetiba aku merasa terhentak mendengar teriakan, sebut saja Rafi, anak tetangga dalam satu kompleks kami. Dengan nada yang tinggi, dia meneriaki teman bermainnya. Suaranya memecah keheningan pagi menjelang siang.

Secara pribadi, aku percaya anak tidak ada yang dilahirkan dengan karakter yang suka marah, suka membentak. Pasti ada pengaruh dari luar dirinya yang memicu itu terjadi. Bisa jadi pola asuh, atau lingkar pergaulan anak tersebut.

Tonggak paling kuat bgi anak adalah pola asuh. Memang orang tua tidak mungkin mengajarkan anak untuk mahir marah. Tapi ingat, anak adalah peniru ulung. Bisa jadi ketika kita bertengkar dengan pasangan kita anak ikut melihat dan itu terekam dalam memorinya. Atau bisa jadi ketika kita tidak bersabar terhadap “kesalahan” anak, kita terp weicu marah dan itu membekas dalam kejiwaan ananda.

Terlebih di tengah situasi yang serba sulit ini, dalam suasana yang memaksa kita untuk lebih banyak beraktifitas di rumah kalau kita tidak membekali diri dengan stok kesabaran yang melimpah bisa jadi kita akan mudah terpicu untuk mudah melampiaskan kekesalan (kemarahan) kita kepada anak. Bisa jadi hanya karena “kesalahan” kecil ananda kita yang tidak mampu bersabar menjadi naik pitam.

Sengaja, dalam kata kesalahan, saya kutipkan tanda petik, karena hakikatnya anak belum mengerti benar kesalahan yang mereka lakukan. Bukankah mereka masih dalam tahap mencari tahu dan belum matang proses berpikirnya. Coba kemudian kita bayangkan, kalau kita melakukan kesalahan dalam proses belajar, terus kemudian kita disalahkan, apa enak rasanya? Tentu kita berharap permakluman bukan? Kalau kiga berharap permakluman, kenapa anak kita tidak boleh meminta hal yang sama?

Matthew McKey, Ph.D., seorang profesor psikologi klinis di wright Institute Berkeley California, dalam penelitiannya selama dua tahun mendapati hampir 70 persen orang tua memarahi, membentak anaknya lima kali dalam seminggu. Artinya hampir tiap hari anak menerima input negatif dari orang tua. Hampir tiap hari orang tua, tanpa disadari, melukai hati ananda, dan sekaligus memberikan contoh perilaku buruk kepada anak.

Meski penelitiannya di Amerika sana, hasil penelitian tersebut, kiranya bisa menjadikan bahan refleksi kita. Mari kita tengok kembali kepada cara asuh kita kepada anak. Apakah kita masih sering marah marah kepada anak kita? Kenapa sih orang tua suka marah kepada anak? Kebanyakan alasannya adalah menerapkan disiplin serta sebagai bentuk hukuman. Memang tidak ada cara mendisiplinkan dengan tanpa marah? Ada dong! InsyaAllah kapan-kapan ditulis. Kalau hukuman apa harus dengan marah? Kan tentu tidak. Coba lihat tulisan saya yang lalu-lalu rasanya saya pernah sedikit menyinggung masalah ini.

Oke. Sekarang mari kemudian kita bincangkan dampak buruk anak yang diasuh dan dibesarkan dalam iklim atau suasana yang penuh dengan kemarahan. Agar kedepan kita tidak lagi mudah marah kepada anak anak kita.

Anak yang dibesarkan dengan suasana penuh kemarahan akan cenderung menjadi anak yang minder. Tidak percaya diri. Banyak dicela atau dimarahi orang tuanya akan mengakibatkan konsep diri anak rusak. Dia akan merasa selalu melakukan kesalahan.

Kalau anak sering dimarahi, anak pun bisa berubah menjadi anak yang apatis. Nasihat nasihat orang tua tidak sekedar masuk telinga kiri keluar telinga kanan, malah belum sempat masuk telinga pun sudah menguap, hehehehe… Memang mau ayah bunda punya anak yang demikian?

Sampai pada akhirnya anak yang dibiasakan dimarahi oleh orang tuanya akan cenderug menjadi pribadi pemberontak. Memiliki tabiat yang kasar yang kemudian salah satunya diwujudkan dalam ekspresi suka marah pula. Bukan kepada orang tuanya, karena saat ini ia masih merasa inferior, tapi marah kepada teman temannya.

Lantas, bagaimana sih agar kita tidak mudah marah terhadap anak? Ayah bunda pasti tahu jawabannya. Sabar. Memang mudah diucapkan ataupun dituliskan tapi susah dipraktikan. Tapi sungguh itulah yang utama yang mampu mencegah rasa amarah kita. Yuk kita berlatih sama sama.

Kemudian, yang bisa kita lakukan adalah mendata hal hal apa sih yang biasanya membuat kita marah kepada anak. Nah dari sana kita bisa melakukan rasionalisasi, apa pantas kita marah terhadap hal itu. Cobalah untuk mengurangi ekspektasi kepada anak. Terimalah anak apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi