FORUM BANGBANG WETAN Juli 2016 , BALAI PEMUDA , SURABAYA

bbw-juli01

Kamis malam, 21 Juli 2016, langit Kota Surabaya yang beberapa hari terakhir mendung dan diikuti hujan, malam ini terlihat cerah. Cahaya bulan terang tak terhalang oleh awan. Malam itu di pelataran Balai Pemuda, dilangsungkan BangbangWetan (BBW) edisi bulan Juli. Tema BBW Juli kali ini adalah “Salah Mongso, Moso’ Salah?” yang sangat berkaitan dengan tema BBW edisi Juni lalu “Berbukalah Dengan Ke-ADIL-an”.

Mas Sabrang kembali hadir menemani jamaah setelah absen di BBW bulan sebelumnya. Turut menemani juga adalah Kyai Muzammil, serta tamu istimewa yaitu Sang Celurit Emas, Kyai D. Zawawi Imron .

Kyai D. Zawawi Imron menjadi magnet tersendiri bagi Jamaah Bangbang Wetan Surabaya. Beliau adalah Penyair nasional kelahiran Sumenep yang beberapa kali ikut maiyahan di Surabaya. Kyai D. Zawawi Imron pernah melejitkan beberapa kumpulan sajak, Salah satu yang terkenal adalah “Celurit Emas” yang membuat beliau dijuluki Si Celurit Emas.

Tiga puisi dibawakan oleh Kyai D. Zawawi Imron malam itu, salah satunya adalah “Ibu”. Lewat puisi ini beliau menghantarkan jamaah memasuki kembali  gua garba Ibunda. Dalam wejangannya, Kyai Zawawi Imron berpesan kepada para jamaah agar menghormati dan memuliakan orang tua, terutama ibu.

“Telantarkan ibumu, maka bersiaplah engkau kelak ditelantarkan anakmu. Hormatilah ibumu, nanti akan selalu ada jalan terang dalam hidupmu”.

Walaupun hanya sebentar, kehadiran penyair asal Pulau Garam ini  memberikan kesan mendalam dan energi berlebih bagi jamaah. Puisi-puisi yang dibawakan dengan penuh energi, uraian, wejangan, serta guyonan yang dilontarkan menambah taburan cahaya di pelataran Balai Pemuda malam itu semakin terang.

Salah mongso karena ketidakadilan manusia.

Dalam Prolog BBW Juli (link : http://www.bangbangwetan.org/prolog-bangbangwetan-juli-2016/), tema yang diangkat dilandasi terutama oleh ketidakadilan manusia pada dirinya sendiri, pada sesamanya, dan pada alam sekitarnya yang menyebabkan salah satunya adalah “Udan salah mangsa”.

Kyai Muzammil mengawali pemaparannya dengan menceritakan anomali cuaca di Indonesia. Beliau menyitir QS Ar Rum : 41(Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia….), menegaskan bahwa “Salah mongso” yang terjadi adalah karena alam menerapkan prinsip keadilan.

Kyai Muzammil kemudian memberi contoh kepemimpinan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Di era pemimpin ini alam pun ikut “tenang” karena beliau memimpin dengan prinsip keadilan.

“Bahkan sampai serigala pun tidak mau memakan kambing”,

“Jangan dikira gunung, ayam, manusia, laut, pohon, dan lain-lainnya itu berdiri sendiri. Semua itu adalah satu kesatuan.  Jika ada perubahan di salah satu bentuk pasti akan berakibat pada yang lainnya”, tegas Kyai Muzammil.

Ketika dipersilakan untuk berbicara, Mas Sabrang langsung mengkritisi tentang kata “salah” dalam tema. “Kesalahan terjadi karena kebelumpahaman kita terhadap kebenaran.”

Keadilan erat kaitannya dengan keseimbangan. “Salah mongso” adalah reaksi karena alam berusaha menemukan keseimbangannya kembali. Demikian uraian tambahan dari Mas Sabrang.

“Saat alam berusaha menemukan keseimbangannya, pasti akan timbul gejolak. Seperti Pokemon Go sekarang ini”.

Dalam setiap acara Maiyahan, pembahasan sering sekali bergeser, bahkan yang rasanya jauh dari tema, namun bila mampu menemukan paradoks hulu-hilirnya, sebenarnya semua hal tak ada yang tidak berkaitan satu sama lain. Dalam hal ini berlaku hukum aksi-reaksi. Termasuk menemukan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam Pokemon Go, game augmented reality yang sedang booming saat ini.

Panjang lebar uraian yang disampaikan tentang tema malam ini masih berkaitan erat dengan keadilan, tema BBW bulan lalu. Mas Sabrang dan Kyai Muzammil bergantian memaparkan pendapat dan elaborasi ilmunya yang dipandu langsung oleh oleh Pak Suko. Diselingi juga oleh penampilan UKM Surban, Banjari dari Universitas Airlangga.

BBW edisi Juli diakhiri pada pukul 03.00 pagi, setelah sebelumnya ditutup dengan sholawat dan doa oleh Kyai Muzammil.

Pastinya bukanlah kebetulan semata, disaat BBW membahas “Salah Mongso, Moso’ Salah?”, tidak turun hujan di bulan yang seharusnya kemarau ini.  Justru sebaliknya langit tampak cerah, memaksimalkan keindahan cahaya bulan malam itu.

*Red: bbw