Prolog

Refleksi Refraksi – Prolog BangbangWetan September 2021.

Refleksi Refraksi

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

“Thus, in finding solutions to this pandemic, the choice will be between life, the resurrection of the people, and the god of money. If you choose money, you choose the way of hunger, slavery, wars, arms factories, uneducated children… there is the tomb”

–  Sri Paus Fransiskus (April, 2020)

REFLEKSI

Pandemi Covid-19 menyingkap begitu banyak hal yang sebelumnya sengaja atau tidak sengaja kita sembunyikan. Atau  bahkan membuka kenyataan akan betapa rapuhnya peradaban mutakhir ini. Meskipun harus juga secara adil diakui, kemajuan teknologi juga memudahkan  banyak  hal  dalam penanganannya  sehingga  mengakselerasi  orkestrasi penanganan pandemi yang mustahil bisa dilakukan tanpa peran kemajuan teknologi.

Covid-19 yang sejatinya dikompres dalam sosok renik bernama virus, dalam percepatan eksponensial mendobrak semua aspek hidup manusia. Mulai yang paling privat dalam sel-sel tubuh manusia, hingga yang paling wadak dalam rupa struktur ekonomi, sosial, budaya, dan hampir seluruh aspek hidup manusia tidak luput dari pengaruh langsung maupun tidak langsung dari sang jasad renik bernama virus ini. Di samping pengaruhnya yang disruptif, hal lain yang Rabbana maa khalaqta hadza bathilan atas jasad renik ini adalah kecepatan dan percepatan persebarannya. Ia menduplikasi dirinya, menyebar dengan medium fitrahnya tidak secara linear, melainkan secara eksponensial dengan pangkat “n” yang mengagumkan. Persebaran eksponensialnya seringkali mengecoh kita sehingga “selalu terlambat” melakukan penanganan semestinya. Pengaruhnya pada seluruh aspek hidup juga menegaskan betapa sangat terkait dan kompleksnya kehidupan manusia itu.

Kompleksitas kehidupan manusia inilah yang pada kurun 1969–1972, setengah abad lalu, coba di-oversimplifikasi, disederhanakan dalam sebuah model komputasi dengan sistem dinamik yang dikenal dengan model World3. Semua parameter hidup manusia dimasukkan sebagai input. Misalnya tingkat kesuburan, kematian, modal kapital, laju investasi,  lahan,  industri,  dan  ratusan  parameter  yang  dikenal  saat  itu.  Parameter – parameter tersebut kemudian dikelompokkan dalam lima parameter makro yakni, (1) populasi, (2) laju industrialisasi, (3) sumber daya alam, (4) polusi (lingkungan), dan (5) ketersediaan pangan. Dengan data setengah abad yang lalu, kemudian dianalisa dengan model World3 dan laporan analisa tersebut diringkas dalam sebuah buku berjudul Limits to Growth. Analisa komputasi ini tidak pernah ditujukan sebagai sebuah perkiraan atau ramalan, melainkan sebuah upaya (over)simplifikasi atas kehidupan di planet Bumi ini untuk mempelajari (kecenderungan) perilakunya. Ada 13 skenario yang disajikan dalam buku tersebut. Namun, yang menarik adalah satu skenario yang disebut kemudian dengan BAU-2 (Business As Usual – 2). Menarik karena pada pemutakhiran data primer atas pemodelan ini pada 1992, 2004, 2012, 2014, dan 2020, menunjukkan skenario BAU-2 ini yang paling mendekati kesesuaian dengan kenyataan di dunia.

Skenario BAU-2 dalam Limits to Growth ini menunjukkan bahwa dengan perilaku manusia saat ini, khususnya dengan laju pertumbuhan industri dan memburuknya kapasitas lingkungan, kemungkinannya adalah dalam satu–dua dekade mendatang akan mengarah pada menurunnya kualitas dan kuantitas hidup secara umum. Yang paling mencolok adalah menurunnya secara drastis pertumbuhan populasi manusia. Oleh karenanya skenario ini kemudian disebut skenario overshoot-AND-collapse. Pada beberapa parameter, pertumbuhannya akan naik tinggi secara eksponensial (overshoot) dan kemudian tiba-tiba menurun dengan drastis dalam waktu yang sangat singkat (collapse).

Tak ayal sajian dalam buku ini memicu perdebatan panjang dan secara umum terpolarisasi menjadi dua kutub: pendukung dan penyangkal teori ini. Yang mendukungnya kemudian dikenal dengan pertumbuhan nol, karena salah satu antitesisnya adalah menurunkan pertumbuhan beberapa aspek untuk menjaga keberlangsungan kehidupan (manusia) di bumi. Sedangkan yang menyangkal teori ini menyebut bahwa teori ini hanya menebarkan ketakutan dan kepanikan di seluruh dunia. Di samping itu, penyangkal menyebut bahwa teori ini menafikan kemampuan adaptasi manusia akan  keadaan  yang paling buruk sekalipun. Terlepas  dari keduanya, sajian Limits to Growth ini tetaplah salah satu milestone penting dalam usaha mempelajari dan memetakan pola perilaku kehidupan manusia yang mengejar pertumbuhan di atas planet bumi yang memiliki keterbatasan.

REFRAKSI 1

Peradaban teknologi dan kebudayaan dibangun dengan pilar angka, padahal toh lenyap di infinitas. Tuhan menganugerahkan kemerdekaan seolah tanpa batas, padahal kemerdekaan adalah alat untuk menentukan batas, tapi kemudian batas-batas dibatalkan oleh ketidak-terbatasan atau ketiadaan batas.”

(Emha Ainun Nadjib)

Di dalam Maiyah, salah satu nilai mendasar yang diperkenalkan adalah kesadaran tentang batas. Tidak terhitung Mbah Nun dan Mas Sabrang mengudar tentang batas dan batas  akan  “batas”  itu  sendiri. Rentangnya,  dialektika  dan  konteks -konteksnya  yang otentik. Elaborasi tentang batas di Maiyah, dengan mudah diurut lahirnya dari rahim tauhid akan Tuhan yang baqa’, dus manusia di sisi lain adalah fana’. Kalimat “Peradaban teknologi dan kebudayaan dibangun dengan pilar angka, padahal toh lenyap di infinitas” seolah menggambarkan dengan presisi pencapaian peradaban saat ini di mana di sisi lain manusia seolah menelantarkan “kemerdekaannya” dalam pengertian bahwa “kemerdekaan adalah alat untuk menentukan batas”.

Dari  pemodelan  pola perilaku  skenario  BAU-2  dalam  Limits  to Growth, akan  sangat bermanfaat untuk sinau bareng apakah nilai Maiyah mengenai “batas” bisa menawarkan intervensi atas pola perilaku yang semata mengejar pertumbuahan (seolah) tanpa batas yang digambarkan. Sehingga pada satu titik tertentu pertumbuhan ini “dipaksa” harus turun secara drastis tanpa bisa dicegah (overshoot and collapse). Atau didekati dari sudut pandang penyangkal teori tadi, menarik untuk sinau bareng apakah nilai Maiyah mengenai “batas” ini adalah salah satu bentuk tawaran agility manusia sebagai upaya adaptasi atas perubahan-perubahan.

Mutiara  Maiyah  lainnya  mengenai  batas  yang  menggambarkan  peradaban  mutakh ir untuk sinau bareng adalah “Ummat manusia terlalu mantap dengan pencapaian peradaban mutakhirnya, yang mereka banggakan sebagai Revolusi Industri ke-IV, dengan gelimang kemewahan ‘maharaja IT’, tanpa pernah mendayagunakan pencapaiannya itu sebagai ‘thariq’, ‘shirath’, ‘syari’’ untuk menuju sesuatu yang sesungguhnya dibutuhkan secara hakiki oleh perjalanan kemanusiaannya.”

REFRAKSI 2

Salah satu hal yang diungkap oleh pandemi Covid-19 adalah mekanisme responsif, defensif, dan adaptif yang efektif dalam memperlambat laju pertumbuhan lebih terlihat pada level komunitas, alih-alih level individual ataupun regional. Bagaimana inisiatif warga sebagai komunitas ternyata menjadi emergence tersendiri dalam struktur sosial masyarakat. Menempatkannya dalam konteks “laju pertumbuhan” dalam pandemi Covid-19 dan Limits to Growth, komunitas lebih efektif dalam menumbuhkan resiliensinya terhadap perubahan-perubahan termasuk dalam membantu mengurangi meredam collateral damage sebagai dampak dari pandemi.

Selain Maiyah sebagai nilai mengenai batas dalam konteks ini, akan sangat menantang untuk “menguji” apakah komunitas-komunitas Maiyah yang mulai merebak mampu merespons pola perilaku kehidupan sebagaimana disajikan dalam skenario BAU-2. Kecenderungan realitas yang menunjukkan kesesuaian dengan skenario ini sepertinya akan mengubah kata kunci keberlangsungan (sustainable) menjadi kebertahanan (resilience). Sinau bareng bagaimana komunitas-komunitas Maiyah bisa menumbuhkan dan mengasah resiliensinya dalam upayanya “menanam benih meskipun esok hari kiamat”.

Semua akan bersama-sama kita sinaoni dalam 15 tahun BangbangWetan pada purnama September 2021.

Jika prolog ini diawali kutipan Sri Paus Fransiskus yang menyinggung mengenai kuasa uang (god of money), bekal kita untuk sinau bareng 15 tahun BangbangWetan adalah apa yang ditulis Letto, 12 tahun yang lalu:

MONEY gives you ALMOST everything you need

LOVE gives you ALMOST all the peace you’ll ever seek

FAME gives you ALMOST every pride you can crave

FREEDOM gives you the ILLUSION of being brave

How far will you go for ALMOST?

We’ll know in a few years

Mungkin saat inilah bagian paling awal dari “in a few years” tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *