“Wahai penguasa dunia,

wahai yang berkuasa atas sejarah,

meskipun engkau letakkan matahari di tangan kananku,

dan rembulan di tangan kiriku,

tidak akan engkau bisa membeliku,

tidak akan engkau bisa menghentikanku,

dari amanah Allah yang dibebankan di pundakku.”

 

“Subasita itu berawal dari hasanah kekayaan Jawa.” begitu Mbah Nun membuka paparannya pada BangbangWetan edisi Maret 2019. Maiyahan rutin bulanan yang telah dilaksanakan pada Rabu, 20 Februari 2019, di halaman Balai Pemuda, Surabaya, memang mengambil tema Subasita sebagai hal yang harus dielaborasi lebih dalam dan tentu juga pengaplikasian dalam keseharian.

Subasita, seperti halnya idiom tata krama dan unggah-ungguh, semua berlangsung di dalam bebrayaning urip atau silaturahmi antar manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Ketiganya merupakan satu kesatuan metodik. Ada yang berupa cara, skala, dan energi.

Dari hasanah modern kita mempunyai istilah yang disebut komunikasi. Namun komunikasi belum mencakup esensi bebrayaning urip karena belum memuat pedoman silaturahmi yaitu persambungan kasih sayang.

Silaturahmi sendiri bisa disebut sebagai kunci utama dari seluruh apa yang ditempuh manusia dalam sejarah, karena selain pedoman seperti yang telah ditulis di atas, manifestasi silaturahmi bisa berupa kebijaksanaan hidup dan kebenaran yang didayagunakan agar bermanfaat.

Dalam bahasa Islam kita mengenal yang namanya adab, yaitu pola perhubungan antar siapa saja makhluk Allah termasuk makhluk hidup dengan Allah. Dari PadhangmBulan kita mengenal ta’dib (bentuk mashdar dari kata adab) yang bertujuan untuk memberadabkan kehidupan. Seperti yang diajarkan langsung oleh Mbah Nun kepada siswa-siswi SMK Global Mentoro beberapa waktu yang lalu.

Sesungguhnya universitas-universitas haruslah menjadi laboratorium ta’dib. Bukan lagi ajang untuk mempelajari apalagi pamer ilmu. Selama ini, yang bisa dikatakan ta’dib dalam universitas hanyalah praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang umumnya hanya berlangsung sekitar 3 bulan selama masa mahasiswa menempuh ilmu di bangku perkuliahan. Padahal ilmu tidak ada manfaatnya apabila belum bisa memberi kemaslahatan bagi sekitar kita.

 

“Seluruh yang kita bincangkan mengenai subasita hanyalah bagian dari sesuatu yang lebih besar yang harus kita rekap, rekonstruksi, dan muhasabahi atau kita hitung kembali. Memasuki 2019 kita harus mempunyai kematangan baru, perhitungan baru, keputusan baru, harus memperbaharui diri. Jadi presiden ganti atau tetap kita sudah siap karena lebih matang daripada presiden, lebih maju daripada Indonesia, dan lebih bijaksana daripada dunia.” – Mbah Nun

 

Tadabbur Alhasyr (Pengusiran)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ
فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  (١٩) لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ  (٢٠

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (18). Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (19). Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung (20).” – Alhasyr: 18-20.

Ketiga ayat surat Alhasyr di atas dibacakan dengan lantang oleh Mbah Nun di BangbangWetan. Menurut beliau ayat-ayat itu merupakan metodologi, frame, outline berpikir, dan mindset untuk mengerjakan dinamika sejarah.

“Jangan menjalankan sejarah tanpa dinamika, karena dinamika merupakan alat utama untuk menjajah atau dijajah.” papar Mbah Nun. Karena itulah Mbah Nun mengajak kita untuk mempelajari salah satunya dinamika sejarah Indonesia, termasuk siapa sebenarnya yang memberikan nama ‘Indonesia’ sebagai nama negara yang sekarang kita diami.

Dinamika hidup itu bergerak terus menerus. Tidak berhenti di satu titik. “Karena letak fakta terletak di dalam pemaknaan Anda.” tutur Mbah Nun yang mengaku mendapat kalimat itu dari putranya, Sabrang MDP.

 

Skala dan Resolusi

Terkait PadhangmBulan (PB) yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya, Mbah Nun kembali mengingatkan semua yang hadir tentang bahasan utama PB semalam, yaitu resolusi.

Dalam merekapitulasi zaman dan sejarah, kita harus memahami skala dan resolusi. Secara skala kita harus bisa merekap diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. “Jadilah pemimpin di masa mendatang dengan kebijaksanaan, kematangan, dan pengetahuan yang semendasar-mendasarnya terhadap kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia.” papar Mbah Nun.

Kelima hal itu (pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia) terkait satu sama lain, namun berbeda konsentrasi dan metodologi untuk memahaminya. “Semakin Anda tidak tertib untuk mengurusi labirin-labirin itu, semakin rendah resolusi Anda.”

Lalu apa yang dimaksud dengan resolusi? bagi yang tidak hadir pada PB Februari dan ingin mengerti lebih banyak tentang resolusi yang dimaksud, silakan buka tautan https://www.caknun.com/2019/seberapa-besar-resolusimu-saat-memandang-islam/

Tidak ada yang salah dengan resolusi manusia seperti halnya piksel kamera yang memotret objek yang sama namun menghasilkan mutu gambar yang berbeda. Begitu juga dengan Jemaah Maiyah, tidak ada yang salah dengan setiap maksud berbeda dari orang-orang yang datang ke Maiyahan, asal tidak mengganggu siapapun yang lain. Setiap orang berhak dengan resolusi masing-masing. Namun Mbah Nun menganjurkan agar tetap harus ada resolusi tertinggi, hingga meningkatnya resolusi.

Tentang kelima hal (pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia) di atas juga harus disifati oleh tingkat resolusi tiap orang. Kalau Anda menggunakan resolusi rendah untuk mensifati kelima skala itu maka contoh yang akan terjadi adalah hanya memandang Islam dari sisi surga-neraka belaka, atau yang sekarang sedang marak, bertengkar dan saling me-nabi-kan salah satu Capres-Cawapres.

Resolusi rendah juga akan menghasilkan ketidakmampuan untuk menerapkan empan papan, ke-tidakbijaksana-an, ke-tidakkreatif-an, tidak bisa membedakan kalah atau hina, serta arif atau naif. Resolusi rendah itu pula yang membuat tak adanya subasita di media sosial.

Sedangkan kalau orang punya resolusi tinggi, dia akan waspada. Memaknai setiap hal dengan berbeda-beda, karena makna bisa tergantung tempat, fungsi, dan niatnya.

 

“Kalau Anda mau meningkatkan resolusi, memperluas cakrawala, dan lebih membesarkan gelembung kesadaran, maka sebesar itu pula Anda mendapatkan wahyu dari Allah.” – Mbah Nun

 

Syariat dan Fiqih

Inilah uniknya Maiyahan, kita bisa mendapat banyak ilmu baru dari siapa saja. Bukan hanya ilmu yang linear dengan tema, namun juga ilmu yang tak kita duga sebelumnya.

Seperti pada BangbangWetan Februari kemarin. Mbah Nun juga menjelaskan perbedaan syariat dan fiqih yang selama ini ternyata kurang dipahami oleh masyarakat umum.

Syariatiy berasal dari kata syariat, sedangkan fiqhiyah berasal dari kata fiqih. Baik syariatiy dan fiqhiyah merupakan kata sifat.

Syariatiy (yang umum disebut syariah di Indonesia) itu milik Allah dan ada di dalam kitab Allah, serta ada di seluruh ayat-ayat Allah. Sedangkan fiqhiyah merupakan terjemahan manusia terhadap syariat Allah. “Jadi semua yang Anda lakukan sebenarnya adalah fiqhiyah. Bukan syariah.” tutur Mbah Nun.

Aplikasi syariat bisa berbeda tergantung kebiasaan, tradisi, mental, dan sifat manusia, maka para ulama menterjemahkan. Terjemahan itulah yang disebut fiqih.

Bagi yang ingin memahami lebih dalam seperti apa contoh perbedaan syariat dan fiqih seperti yang dicontohkan oleh Ustaz Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad) bisa membacanya di sub bab ‘Syariat Islam, Fiqih, Ijtihad, dan Resolusi yang Terus Berkembang’ pada tautan https://www.caknun.com/2019/menyadari-seruan-langsung-dari-allah-hingga-resolusi-ahlul-ludruk/

Sebagai orang Maiyah, kita harus belajar Islam langsung dari “pabriknya”. Apakah bisa? Tentu saja itu bisa dilakukan terbukti dari adanya firman Allah ‘ya ayyuhannas’ dan ‘ya ayyuhalladzina amanu’ yang diturunkan kepada setiap manusia. Karena wahyu dan limpahan dari Allah sama kepada setiap manusia. Yang membedakan bahwa itu wahyu, karomah, maunah, fadilah, atau ilham adalah resolusi tiap orang yang berbeda-beda.

***

 

Menjelang akhir paparannya, Mbah Nun mengajak kita untuk harus menghitung kembali bab Indonesia, terutama tentang sebelas pertanyaan (11 pertanyaan sederhana untuk Capres Cawapres 2019) dan tulisan Mbah Nun lainnnya di caknun.com pasca Hari Pers Nasional.

 

“Kalau bisa dalam 2-3 bulan ini, kita merekap diri dengan level masyarakat, Indonesia, Islam, dan dunia. Minimum diri, keluarga, dan masyarakat sekitarmu mempunyai apa yang kita bahas pada malam ini.” – Mbah Nun.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]