Kolom Jamaah

Remah-remah #12thBangbangWetan

Remah-remah #12thBangbangWetan

Catatan Rasa dari Agung TL

 

Setengah delapan, malam itu. Teman-teman sudah mengirim foto suasana jamaah yang memenuhi hampir separuh halaman Balai Pemuda melalui grup WhatsApp. Dua orang di depan lokasi acara kerepotan mengatur arus lalu lintas. Parkir gedung Balai Pemuda sudah tidak muat. “Anjir!” setengah delapan, acara belum dibuka tetapi parkir sudah penuh, unpredictable. Siapa yang bisa menyangka luapan syukur dari Jamaah BangbangWetan yang salah satunya diungkapkan dengan berduyun-duyun datang.

 

Rohman dan Qohar sebagai penjaga gerbang depan mengarahkan pengunjung untuk parkir di luar area Balai Pemuda. Alternatif kedua di Halaman Gedung DPRD, dan ternyata penuh juga. Terpaksa pindahlah ke Taman Prestasi, di sebelah utara Kali Mas. Walau tidak ada penjaga parkirnya, pengunjung “nekat” tetap menaruh sepeda motornya di sana. Saya sengaja tidak minta privilege dari Rohman, karena ingin mengetahui suasana parkir tersebut. Lumayan juga jalan dari Taman Prestasi ke Balai Pemuda. Kalau sendirian tentu akan enggan, karena banyak teman jadilah, happy saja saya lakukan.

 

Mengetahui kondisi parkir yang tidak aman bagi jamaah, saya segera menelepon Ariawan untuk meminta bantuan dari Pasukan Bonek untuk ikut menjaga parkir pengunjung. Lima orang Bonek keluar dari dalam gedung dengan rela, jelas kehilangan momentum mengaji untuk “jaga parkir”.

 

Arus lalu lintas begitu padat, mengingat malam itu bertepatan dengan long weekend. Tentu butuh tenaga ekstra untuk menghalau “pengunjung” yang rata-rata ingin parkir di dalam area Balai Pemuda. Antrian panjang tak bisa dielakkan meski Rohman dan Qohar berteriak berkali-kali mengarahkan pengunjung agar segera menuju parkiran di Taman Prestasi. Belum lagi beberapa mobil yang minta privilege untuk dicarikan tempat khusus.

 

Kepadatan arus lalu lintas terus berlangsung kurang lebih hingga pukul 10 malam. Selepasnya, tinggal ada satu dua pengunjung yang kecele datang dengan asumsi seperti rutinan BangbangWetan biasa, ternyata untuk parkir saja sudah harus berada jauh di luar Balai Pemuda.

 

Di area Balai Pemuda sendiri, jamaah begitu padat. Tempat favorit di depan panggung sudah penuh terisi, karena space memang banyak berkurang karena sekat-sekat proses renovasi. Sementara di dalam gedung yang sedianya disediakan untuk No Smoking Area masih relatif longgar. Segenap Panitia Ad-hoc terus mengarahkan jamaah agar berkenan mengisi ruang kosong di dalam gedung, tapi sebagian besar tetap memilih di luar gedung. Beberapa ada yang merayap naik ke atas toilet, ada yang memilih berada di belakang panggung. Yang penting bisa mendengar sambil ngopi dan merokok santai. Sebagian kecil lainnya memilih putar balik pulang karena akses berada di sekitar panggung sudah sangat sulit semenjak pukul 21.00.

 

Panitia Ad-hoc dari berbagai eksponen terus berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Jalur darat sangat sulit untuk ditempuh. Posko gedung dan toilet yang digawangi oleh Aris sudah tidak bisa bergerak, pasukan infaq yang dikomandani Tara juga tidak bisa maksimal bergerak. Cak Luthfi dengan pasukan SWS-nya terus berusaha menata saf jamaah yang hampir tidak sebanding dengan arus jamaah yang terus berdatangan.

 

Ketika Diky dan Sita dari tim konsumsi mengabarkan melalui grup WhatsApp bahwa nasi kotak untuk panitia sudah datang, sebagian besar panitia bisa dipastikan belum makan malam, kecuali yang bisa mencuri beli camilan berat dari PK5 yang ikut berkeliling. Namun kepadatan manusia menyebabkan nasi kotak tidak mungkin didistribusikan. Maka puasa panitia akan semakin panjang, yang sudah tidak kuat memang dipersilahkan merapat ke posko konsumsi, tapi bagi yang tidak mungkin meninggalkan pos tentu puasa adalah jalan damainya.

 

Sebesar apapun masa yang datang, jelas ini bukan konser. Ini adalah bentuk antusiasme cinta. Maka tidak akan ada peristiwa apapun selain meluapnya cinta. Kalaulah ada satu dua pergesekan kecil, apinya akan segera padam dengan keluasan cinta

 

Teman-teman kepolisian dari Polsek setempat juga sempat ikut datang, memastikan bahwa acara malam itu berlangsung aman dan damai. Tidak ada peristiwa birokrasi berbelit, yang terjadi justru kehangatan silaturahmi.

 

Acara yang bertajuk “Berlusin Keberuntungan”, diusia Majelis BangbangWetan yang ke-12 tahun, berlangsung khidmat. Berbagai eksponen datang bahu-membahu saling nyengkuyung mangayu bagyo demi terselenggaranya acara malam itu.

 

Semenjak H-21, Panitia Ad-hoc sengaja dibentuk. Seluruh eksponen yang berkumpul, dikumpulkan, disatukan karena rasa memiliki yang sama, rasa peduli yang sama. Tentu akan sangat disayangkan bila tidak dilanjutkan keberadaannya, dipupuk terus pertumbuhan kesuburannya.

 

Di akhir acara Mbah Nun pun mengundang semua eksponen itu untuk naik ke atas panggung. Pasti bukan hanya sekadar mengapresiasi, karena setelahnya semua diminta untuk menengadahkan tangan, membuka hatinya dengan polos, berdoa dengan segenap ketulusan.

 

Maka inilah BangbangWetan kami, inilah majelis ilmu kami. Di sinilah kami belajar, kami tumbuh, dan kami dibesarkan bersama.

 

Kami akan sangat kehilangan kalau majelis ini kemudian tidak memiliki arti. Maka dengan segenap jiwa, kami berjanji bersama-sama untuk menjaga, nguri-uri, dan menumbuhkembangkan bersama.

 

Saya, kami berharap demikian juga Anda, setiap insan yang pernah datang, bersua, bersentuhan dengan BangbangWetan, kiranya berkenan menjadi bagian yang ikut nyengkuyung, ikut andil bagian, sebagai bentuk memiliki BangbangWetan.

 

Surabaya, 13 Oktober 2018.

 

P.S: Ada 20 orang pemuda yang terlibat pra dan pasca acara 12 thn BbW. Namun di tulisan ini hanya beberapa yang tertulis. Bukan untuk meniadakan yang tidak tertulis, bukan pula ingin menonjolkan yang tercantum namanya.