Renewal !

 

Terhadap hidup yang secara asasi kita tak punya pilihan atasnya, banyak telaah sudah diuraikan. Berbagai macam perbincangan itu bisa diringkas ke dalam tiga hal: asal dan tujuan, sikap atau state of mind terbaik yang bisa kita ambil serta pilihan menyangkut apa dan bagaimana fase ini kita selesaikan.

 

Ketika team memutuskan mengangkat topik ini sebagai pokok bahasan Bangbang Wetan Februari, satu gambaran besar yang langsung menyeruak adalah sulitnya mendedah sebuah kenyataan yang tengah berada pada etape anomali berskala global. Sebuah etape yang tak sekalipun pernah singgah di angan maupun pemikiran.

 

Pilihannya kemudian adalah upaya menawarkan satu formula yang applicable bagi apapun keadaan di sepanjang garis orbit hidup. Serbaneka romansa yang menjadi warna di masing-masing tahapnya harus menjadi batu uji bagi efektivitas dan kelayakan rumusan itu. Secara sederhana, kita coba temukan tips and trick menjalani hidup yang tak lekang oleh zaman. Jurus ampuh berdaya guna tinggi di seperti apapun keadaan.

 

Sebagai “sekedar” makhluk atau ciptaan, kita punya pengetahuan bahwa Sang Maha Kreator tidak pernah abai sedikitpun atas segenap creature yang atas kehendakNya sudah dihadirkan. Logika sederhana mengajak kita untuk sampai pada pemahaman bahwa semua kebutuhan pasti sudah Ia sediakan bagi hajat keberlangsungan.

 

Namun karena begitu komplitnya piranti yang Tuhan bekali kepada kita, tak jarang manusia justru terantuk pada batu-batu kecil keraguan. Sejumlah tanya yang lahir karena dan bersama naik turunnya irama hidup serta pencapaian. Keluh kesah, umpatan hingga sengal nafas keputusasaan menjadi kian dominan. Pada taraf yang lebih kronis, terjadi korelasi negatif antara pengembangan ilmu dan metodologi dengan konsentrasi keimanan.

 

Satu contoh nyata adalah gejala bagaimana dunia tertunduk kelu di garis demarkasi dalam menghadapi jasad renik bernama virus Corona. Gejala yang kian absurd ketika cara-cara transenden yang merajut pola ketersambungan dengan Tuhan melalui do’a, ritual dan langkah terapeutik carangan bukan sekedar dilarang namun juga berpotensi melahirkan pesta tawa pelecehan.

 

Sebagai satu mandala pendidikan dengan program pengajaran yang berbasis pada hidup di format apa adanya, Maiyah–melalui deras aliran kebajikan yang Mbah Nun terus pancarkan–menyediakan begitu banyak pola, panduan hingga rambu-rambu dan paradigma. Persoalannya kemudian, dari khasanah tak terbatas itu manakah guideline terbaik bisa kita gunakan ?

 

Merujuk kepada misalnya bagaimana tubuh kita secara fisiologis terus melakukan proses regenerasi, kami coba tawarkan langkah sederhana lain berupa pembaruan niat, arah dan semangat. Menukil dawuh Mbah Nun di Macapat Syafaat Februari agar fokus kita tidak hanya pada ketersediaan peluru (bisa kita analogikan sebagai amunisi formula) tetapi juga arahan supaya kita senantiasa menguatkan hulu ledak di kualitas diri (dapat kita sejajarkan dengan spirit dan niat).

 

Sel-sel kulit manusia berganti setiap 28 hari dan dari sumsum tulang belakang, darah terus diproduksi di putaran 4-6 minggu. Di forum Bangbang Wetan Februari ini masih melalui titian media teknologi informasi mari kita perbincangkan seluk beluk pembaharuan diri. Upaya berkelanjutan seirama keniscayaan nature dan nurture alam.

 

—oOo—

 

Oleh: Team Tema BangbangWetan