Arsip

REPORTASE BANGBANG WETAN BULAN FEBRUARI 2015

Oleh : Masfufatul Qibtiyah Y. feat Naqibatin Nadliriyah

Hujan baru saja usai, pelataran Balai Pemuda tempat berlangsungnya Majelis Masyarakat Maiyah Bangbangwetan masih terlihat basah. Jamaah yang sudah datang diminta segera merapat, melingkar, khusuk bersholawat. Nampak kerinduan jamaah setelah dua bulan tidak berkumpul dan menyerap energi di BangbangWetan.

Selepas sholawat Indalqiyam, dan beberapa penampilan musik, Mas Amin sebagai moderator membuka forum dengan menyampaikan harapannya agar kita semua mempunyai semangat perubahan yang lebih baik dari tahun kemarin, sebagai proses berhijrah untuk menyongsong energi baru di tahun 2015. Mas Rio menambahkan, di awal tahun ini kita memiliki berbagai rencana penyegaran semangat Bangbangwetan diantaranya pemetaan dan pendataan untuk merekatkan paseduluran antar jamaah melalui kuisioner, perubahan konten dan tampilan Bulletin, dsb.

Selanjutnya Pak Dudung menceritakan sekilas hasil forum sillaturrahmi Maiyah di Purwokerto beberapa waktu lalu. Disana digagas berbagai rekomendasi, salah satunya adalah semacam ‘tuntutan’ untuk merumuskan kembali bagaimana maiyah seharusnya. Perubahan-perubahan yang terjadi akan berbeda, sesuai dengan ciri khas masing-masing wilayah. Namun secara umum, bahwa di struktur maiyah dibentuk af’al maiyah, struktur organisasi yang mengadopsi dari struktur thariqah. Yang tertinggi adalah Dzat, dibawahnya ada Sifat, kemudian Isim dan yang terakhir adalah Jasad. Dzat ini adalah sumber ilmu maiyah, dalam hal ini yang berperan adalah Syeikh Nursamad Kamba, Cak Nun, dan Cak Fuad.

Sementara Sifat, mencoba menerjemahkan apa saja yang telah disampaikan oleh Dzat ke dalam langkah nyata dan mentransferkan apa saja yang disampaikan Dzat ke Isim. Isim adalah penggiat di masing-masing wilayah yang sering ‘repot-repot’ mengkoordinir terselenggaranya forum maiyahan seperti ini. Kemudian Jasad adalah kita semua sebagai jamaah maiyah. Dengan terbentuknya struktur maka akan lebih mengkristal dan lebih jelas apa saja tanggungjawabnya. Mas Amin menambahkan bahwa secara alamiah maiyah ini sendiri bersifat cair, Ketika sudah memiliki ilmu, memiliki kesadaran diri dan memiliki pengalaman yang baik ataupun buruk, maka kewajiban yang utama adalah menularkan dan bersama-sama bermaiyah.

Pak Juwaini, salah satu jamaah yang sudah setahun mengikuti BangbangWetan menceritakan pengalamannya. Beliau mendirikan jamaah ‘Bonek Tayang’, kumpulan anak-anak Bonek tapi sembahyang. Disamping itu beliau juga punya jamaah ‘Santri Wiritan’, yakni santri-santri sing wira-wiri nang prapatan. Mereka adalah anak-anak yang hobinya balap liar di daerah Demak, dikumpulkan, perlahan-lahan diajak untuk ikut wiridan, istighfar. Pak Juwaini juga menyampaikan aspirasinya bahwa jamaah yang datang dan didominasi anak-anak muda ini sangat penting dalam kondisi seperti sekarang, Harapannya forum ini bisa dipublikasian lagi secara luas.

Suatu ketika beliau memakai topi maiyah merah-putih saat jum’atan dan ditanyai orang kampung, “Ustadz, lha kok nggawe sinterklas?” karena kejadian tersebut, akhirnya setiap kali jum’atan beliau selalu memakai topi maiyah biar banyak orang yang bertanya ‘maiyah iku opo pak?’ disitu beliau menjelaskan apa itu maiyah. Pak Dudung merespon, justru pertumbuhan-pertumbuhan seperti yang dilakukan oleh Pak Juwaini inilah yang diharapkan. Artinya dari forum ini bisa memunculkan ide-ide untuk melakukan sesuatu di daerah masing-masing, Nggak usah mbok jenengi maiyah yo gakpopo, tidak usah pake embel-embel Bangbangwetan juga tidak masalah.

Menyadarkan Diri di Dalam, Mengayomi di Luar
Merespon Jamaah yang baru saja hadir dengan pertanyaan mengenai ‘kurikulum’ Maiyah, Mas Amin menjelaskan bahwa forum maiyah ini adalah untuk meluaskan pemikiran kita, menambah jernih, dan melakukan proses penyadaran diri. Ketika kita melakukan hal yang baik, maka kebaikan itu harus disertai dengan kebenaran dan keindahan. Artinya kebaikan itu harus berestetika. Ketika kita diluar maiyah, maka yang harus kita lakukan adalah proses pengayoman. Dan kurikulum maiyah sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Setelah sesi diskusi, Mas Zainudin seorang pengacara yang berjumpa secara energi melalui Youtube dengan maiyah, dipersilahkan untuk memberikan pandangannya. Di tengah-tengah hiruk pikuk perpolitikan di sana, ada adigium ‘Revolusi Mental’. Sementara Maiyah ini adalah revolusi berpikir. Di dalam maiyah ini kita diajarkan bahwa ketika kita menjalin hubungan cinta segitiga antara kita, Allah dan Rasulullah, maka ketenangan itu ada dalam diri kita. Hiruk pikuk yang terjadi di luar sana itu semua terjadi karena ada seorang yang dianggap tersangka, padahal kalau kita lihat diri kita sendiri, semuanya merupakan calon-calon terdakwa ketika di Padang Mahsyar. Di dalam Al-Quran, Nabi Yunus mengajarkan do’a yaitu laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz-dzolimin. Kita ini adalah orang yang dzolim yang harus mencari ridlonya Allah dengan setulus hati.

Generasi Pendobrak, Generasi Penerus, Generasi Pembangun
Mas Sabrang yang menjadi narasumber Bangbangwetan malam ini memulai uraiannya dengan menjelaskan ‘generasi larva’. Generasi yang mampu mendefinisikan siapa dirinya. Generasi muda yang nantinya akan menjadi generasi tua. Ditransisi itu ada beberapa jenis, tergantung memilih yang mana.

Tipe pertama adalah tipe generasi pendobrak, dia mendobrak cara lama menggantinya dengan cara yang baru. Kedua adalah generasi penerus, dia meneruskan apa yang sudah diteruskan generasi sebelumnya. Ketiga adalah generasi pembangun, generasi yang mampu belajar dari keberhasilan yang lebih tua dan mampu belajar dari kegagalan yang lebih tua. Jadi dia mampu memilahnya, tetap bisa menghargai yang lebih tua, karena yang tua mampu menjawab tantangan di zamannya. Yang muda pun harus juga mampu menjawab tantangan zamannya.

Generasi pembangun mampu mengambil ilmu dari yang tua dan memperbarui apa yang belum berhasil dari generasi yang lebih tua. Generasi pembangun ini ciri-cirinya adalah mampu menempatkan generasi tua di tempat yang mulia, karena yang dilihat adalah ilmu bukan kegagalannya. Mampu melihat kebaikannya, dan keburukannya tidak dihujat tapi diperbaiki. Regenerasi itu pasti, tapi dia harus memilih menjadi generasi apa. Menjadi pendobrak, penerus atau mau membangun dari yang sudah ada.
Ada tujuh pola dalam kehidupan manusia, tapi pasti ada variable di dalamnya. Sepuluh tahun pertama mulai mengenal siapa dirinya, mengenal keberadaannya. Anak kecil melakukan apapun yang membuat dia merasa ‘aku ada’, ‘aku dengan senengnya’, ‘aku dengan gembiranya’, dengan sedihnya, kecewanya, dia merasakan semua itu.

Sepuluh tahun kedua seharusnya dia mulai belajar tentang kehidupan, belajar bagaimana bertahan hidup. Sepuluh tahun ketiga dia mengolah akal sekencang-kencangnya, dimana usia paling produktif adalah usia 20-30 tahun. Dia benar-benar mengolah pikirnya dan menentukan dia mau kemana. Sepuluh tahun yang keempat yaitu usia 30-40 tahun, mau tidak mau harus sinau tresno, karena dia harus merawat rumah tangganya. Setelah dia belajar cinta, dia melakukan kelahiran kembali ketika masuk 40 tahun. Akalnya sudah menentukan hidupnya dimana, sudah punya modal cinta dan sudah tahu keberadaannya.

Dikatakan lahir kembali, karena memang 40 tahun adalah titik dimana dia lahir dengan pilihannya sendiri. Di Sepuluh tahun kelima, dia belajar tentang kebijaksanaan. Karena ketika sudah menentukan pilihannya sendiri, dia punya cinta, kemudian mampu mengaplikasikan akal dan keputusan hidupnya di sepuluh tahun ketiga tadi, harus menyeimbangkan lakunya dengan kebijaksanaanya yang dia miliki. Jadi ketika dikampleng orang lain, dia harus bisa memaafkan. Ketika dia mau membalas maka membalasnya dengan konsep yang berbeda, dia marah tanpa amarah.

Sepuluh tahun yang keenam, dia sudah mulai mandhito. Pada titik inilah generasi ini sudah menjadi generasi tua, generasi tua adalah generasi yang harus bersedia diam membiarkan generasi muda menjawab tantangan zamannya. Dia mulai mandhito dan menjadi sumber ilmu. Kalau ada yang salah dengan langkah generasi muda, maka dia tidak boleh langsung mengintervensi. Dia adalah sumber ilmu, dia hanya menunggu genthongnya digali. Ketika sepuluh tahun keenam selesai, ia memasuki sepuluh tahun yang ketujuh, dimana dia benar-benar mandhito, menyiapkan dirinya untuk kembali kepada Tuhan. Ketika setiap generasi benar-benar sadar perannya, maka akan menjadi sebuah peradaban yang terbangun pada setiap zamannya.

Kekuatan Ijin Tuhan
Selanjutnya Mas Sabrang memberi jawaban atas pertanyaan Jamaah mengenai ada tidaknya kehidupan di planet Mars. Di fisika kita mengenal hukum entropi, bahwa lama-kelamaan dunia akan terkikis dan hilang. Apakah di Mars itu ada kehidupan, karena di Mars sendiri pun memiliki kanal air. Ada daerah di Bumi yang lebih ekstrim daripada daerah di Mars.

Kalau di Mars tidak ada kehidupan, maka di belahan Bumi yang paling ekstrim melebihi Mars pun seharusnya tidak ada kehidupan. Tapi di Bumi di mana ada tempat, disitu ada kehidupan. Misalnya di daerah Meksiko, ada sebuah pengeboran minyak ditemukan sebuah gua, yang tertutup berjuta-juta tahun. Saking besarnya sehingga ada sebuah ekosistem tersendiri di dalamnya. Disana tidak ada cahaya matahari, namun tetap ditemukan kehidupan. Ada lagi di danau yang banyak mengandung arsenik, bahan paling beracun untuk makhluk hidup. Tetapi ada bakteri yang hidup di dalam arsenik tersebut.

Ada juga di Chernobyl, tempat kejadian kebocoran Nuklir dengan efek yang luar biasa dengan radiasi yang sangat membahayakan, namun ternyata ditemukan laba-laba yang hidup dan bermutasi. Jadi hidup tidak bisa dihentikan oleh apapun ketika Allah mengijinkan ada. Kekuatan ijin Tuhan sangat luar biasa. Dari cara berpikir yang seperti itu kita mempunyai kewajiban untuk bersyukur kepada Tuhan yang sudah mengijinkan dan berterimakasih kepada bumi yang mau menyedekahkan dirinya untuk ditempati.

“Bismillah..”, Menjalani Peran Sesuai Kehendak Tuhan
Bagaimana caranya agar seseorang bisa sadar mengenal peran di lingkungannya, salah satu pertanyaan Jamaah untuk Mas Sabrang. Penjelasannya, “Kalau Anda takut dan mengira peran anda ‘A’ kemudian salah berperan. Siapa tahu peran Anda adalah memang salah, untuk kemudian menjadi benar perannya. Iso wae, gak masalah. Yang nomor satu adalah niat, bagaimana niat kita untuk menjalani peran kita dengan sebenar-benarnya.”
Ada sebuah cara berpikir yang logis, hidup adalah sebab-akibat. Anda tidur akibat dari mengantuk, anda makan akibat dari lapar.

Jadi hidup itu sebuah rangkaian sebab-akibat yang terus menerus. Akibat karena sebab yang baru dan mengakibatkan hal yang baru. Sebab menjadi akibat yang berikutnya, hal ini berlangsung terus. Diri kita berperan dimana? Kemudian pertanyaan utamanya adalah ‘sebab’ itu dari kita atau dari Tuhan? Kalau ‘sebab’ itu dari Tuhan, maka kita menjalankan peran sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Kalau ‘sebab’ itu dari Tuhan, maka ‘akibat’nya juga dari Tuhan. Jadi titiknya adalah membuat ‘sebab’ itu dari Tuhan. Caranya adalah ketika kita mendapatkan akibat, maka respon kita terhadap ‘akibat’ tersebut harus kita sambungkan dengan Tuhan.

Nabi Muhammad sudah memberikan gaman yang luar biasa, mau melakukan apapun pegangannya dengan ‘bismillahirrohmanirrahim’, karena Gusti Allah maka saya melakukan ini. Jadi bagaimana kita tahu peran kita, ketika mau melakukan apapun kita ‘bismillah’, maka dalam perjalanannya nanti kita tahu mau ditugaskan apa. Sehingga tidak ada kesedihan disitu. Kalaupun nanti susah, susahnya dari Tuhan. Susahnya pasti akan menyiapkanmu untuk menghadapi sesuatu. Susahnya akan membuatmu belajar sesuatu dan menjadi bekal untuk masa depan. Kata ‘Bismillah’ itu menjadi panduan dan menjaga kita pada jalur yang Tuhan inginkan kepada kita. “Selain membuat semua sebab itu dari Tuhan, kita juga membuat semua motif ingin mencari ridho dan cintanya Tuhan.”

Kebenaran dan Konsep Bermusik Letto
Kehadiran Mas Sabrang di Bangbangwetan malam ini disambut antusias Jamaah dengan beragam pertanyaan dan diskusi. Satu persatu Mas Sabrang menjelaskan pertanyaan Jamaah yang didominasi anak-anak muda. Dimulai dengan pertanyaan mengenai musik Letto. “Orang membuat sebuah karya pasti ada keputusannya, lirik lagu banyak konsepnya. Kamu bisa memotret sesuatu, bisa bercerita sesuatu, atau gagasan. Letto memilih lirik lagu yang mungkin bagi sebagian orang akan susah dipahami. Ini merupakan keputusan sadar, karena konsep kebenaran itu tidak bisa diklaim oleh siapapun. Contohnya ada satu gajah yang dikelilingi oleh 50 orang dan menggambarnya, gambarnya ada yang sama tidak? Gambar gajah manakah yang benar? Semuanya benar walaupun gambarnya tidak ada yang sama. Semirip-miripnya gambar gajah itu tetap bukan gajah.

Untuk mencapai kebenarannya gajah, maka kamu harus menjadi gajah. Ketika sudah menjadi gajah, kita lupa mencari tahu gajah itu seperti apa. Maka tingkat kebenaran itu berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat. Letto juga demikian konsepnya, kita menyampaikan sesuatu tidak lengkap, dan bersayap. Kamu mempunyai potret, mempunyai bahan dari lirik itu, dan arti dari lirik itu bukanlah hanya yang ada dalam lirik itu, tapi konsep apa yang ada dalam dirimu dikawinkan dengan apa yang ada di liriknya akan menjadi arti tersendiri. Saya ingin setiap orang mempunyai hak terhadap arti lagu itu.”

Salah satu trik yang sering digunakan dalam lagu Letto adalah penempatan subjek. Ketika ngomong ‘aku’, ‘kau’, atau ‘dia’, itu bisa diganti-ganti.

Ku teringat hati, yang bertabur mimpi..
Ke mana kau pergi, cinta?

Lirik itu bisa dimaknai orang bicara kepada orang lain, bisa dimaknai Tuhan bicara kepada manusia, bisa juga dimaknai orang bicara kepada kekasihnya, bisa bermacam-macam. Dalam Bahasa Italia, Letto itu artinya berfikir. Tanpa sengaja nama Letto dekat dengan Lotto, yaitu pohon bidara yang tak berduri. Padahal awalnya nama Letto terbersit begitu saja setelah mas Sabrang bangun tidur, tanpa ada filosofi apa-apa. “Letto adalah sebuah nama yang tak berarti, seperti kertas putih yang kita isi dengan tulisan-tulisan perjalanan-perjalanan kita. Gunakan imajinasimu, jangan terpaku, itu bukan dari saya untukmu, itu adalah bahan untuk kau olah dan menjadi arti buatmu,” jelas Mas Sabrang.

Kebenaran bukan seperti hitam atau putih, bukan tahu dan tidak tahu. Kebenaran sama seperti kamera yang diputar fokus lensanya, ketika diputar akan semakin blur atau semakin jelas, hingga benar-benar jelas. Jangan berharap informasi yang kita dapatkan akan sampai pada fokus yang sangat jelas. Ada yang limitasinya hanya sampai blur saja dan tidak bisa lagi dikoyak kebenarannya, maka terimalah itu sebagai wacana yang blur, tidak terlalu benar juga tidak terlalu salah. Hilangkan asumsi bahwa Google itu Maha Tahu. Banyak informasi yang ada dalam google, tapi bukan berarti semua informasi ada dalam google.

Terutama Indonesia, sumbangan kita terhadap Wikipedia pun sangat minim. Kita mempunyai Al-Qur’an sebagai petunjuk, bukan informasi yang literer. Al-Qur’an bukan buku sejarah, tapi memberi petunjuk tentang sejarah. Al-Qur’an bukan buku Sains, tapi memberi petunjuk tentang Sains. Jangan menganggap bahwa Sains juga merupakan kebenaran yang Maha Benar, semua masih banyak yang blur. “Saya kurang sepakat dengan pendapat yang membenarkan Al-Qur’an dengan Sains. Sains adalah dunia yang akan terus berkembang. Sains bisa berubah kapan saja. Kalau kita membenarkan Al-Qur’an dengan teori Sains sekarang, ketika teorinya berubah, apakah berarti Al-Qur’an juga ikut salah. Keduanya memiliki level yang berbeda.”

Tips Menghadapi UNAS
Luthfi, dari Gresik yang masih menjadi pelajar kelas 3 SMA ikut bertanya kepada Mas Sabrang bagaimana tips-nya menghadapi UNAS, disamping harus belajar. Mas Sabrang menjelaskan, “Dulu konsep saya ketika belajar nomor satu yang harus saya ketahui adalah orangnya siapa yang memberi pelajaran kepada saya. Saya baca profil pengarang bukunya, kelahiran tahun berapa, disitu kita bisa menebak seperti apa tipenya. Saya membaca daftar isinya, untuk mengetahui gambar besar dan petanya. Dari daftar isi tersebut pengarang ingin menyampaikan apa, sudah menjadi kotak-kotak ‘di kamar’. Jadi ketika saya ingin tahu informasi apa, maka saya sudah tahu mau masuk ke ‘kamar’ yang mana. Setelah daftar isi, saya membaca rangkumannya saja karena merupakan inti sari dari tiap kotak-kotaknya.

Ketika kamu belajar dengan membaca, maka indera yang kamu gunakan adalah mata. Kalau kamu menulis, indera yang kamu pakai ada dua, mata dan tangan, lebih besar area di otak untuk mengingat. Ada lagi satu trik, misalnya ada suatu aroma atau bau-bauan ketika pelajaran praktek biologi, praktek kimia atau fisika. Bau tersebut juga akan menimbulkan suatu ingatan tersendiri dalam kinerja otak. Bau-bauan tersebut mempuanyai ruang dalam otak sehingga memunculkan suatu memori tertentu. Trik saya dulu adalah menggunakan kelima indera saya agar mudah mengingat. Untuk menghadapi UNAS adalah bagaimana kamu memasukkan informasi ke otak, semakin banyak area di otak terekspos informasi, maka semakin banyak ruang untuk mengingat.”


Pertanyaan dari Jamaah selanjutnya, “Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi inspirator orang lain sebagai generasi pembangun?”. Mas Sabrang menanggapi, “Jangan pernah bermimpi jadi inspirator. Kita mempunyai prioritas nomor satu, yaitu bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Jadilah generasi pembangun, berkumpul dengan generasi pembangun, kalau itu menjadi trigger orang lain, maka bersyukurlah kamu bisa bermanfaat untuk lingkungan yang lebih luas.

Menjadi inspirator bukan sebuah tujuan. Kalau kamu mencari pasangan, jangan cari pacar yang ideal, tapi jadilah pacar yang ideal. Kalau ingin pacar rajin, maka jadilah rajin atau miliki kualitas-kualitas yang ingin kamu capai. Logikanya seperti itu. Semua timbangannya sama, terutama adalah kewajiban diri sendiri dulu. Yang diberikan Gusti Allah adalah kekuasaan absolut atas dirimu sendiri, wadhaq-mu. Berkumpulah dengan orang-orang yang mempunyai frekuensi sama. Kalau ingin berbuat sesuatu, maka berbuatlah sesuatu karena keinginan kalian sendiri untuk mencari ridlo dan cintanya Tuhan.”

Peradaban Tanah Jawa dan Koordinat Ilmu Pengetahuan
“Kenapa Tanah Jawa punya peradaban yang sangat tinggi? Lantas kenapa kerajaan Majapahit seolah dibumihanguskan?”, tanya Ahsa Kumbolo, seorang jamaah dari Madura.
Mas Sabrang merespon, “Saya jawab dengan Sains dan logika dulu. Orang akan punya waktu untuk membangun peradaban ketika urusan perutnya sudah selesei. Kalau sepanjang hari mung golek panganan, dia tidak akan bisa membangun peradaban, waktunya tidak akan cukup.

Maka orang yang mampu membangun sebuah peradaban adalah sekelompok orang yang memiliki banyak waktu kosong, sehingga waktu kosongnya diisi dengan membangun peradaban untuk berfikir, berfilosofi. Dan saya yakin, penanam pertama adalah para wanita. Karena lelaki lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari uang, dan wanita menghabiskan waktunya dirumah untuk menyusui anaknya. Lantas kenapa Jawa peradabannya tinggi, karena di Jawa itu kita tidak kekurangan, mau makan atau minum kita tidak masalah sehingga banyak waktu kosong untuk mencari ilmu-ilmu diluar ilmu tentang bertahan hidup.

Kesimpulan saya, Jawa merupakan titik koordinat yang ditanggungi ilmu pengetahuan. Kalau dalam Islam ada titik koordinat waktu yang istajabah untuk berdoa, misal pada saat dhuha, sepertiga malam. Ada juga koordinat tempat, misal di Hajar Aswad. Dan pasti ada koordinat lain dengan bidang yang berbeda pula. Di Jawa menjadi titik koordinat ilmu pengetahuan selama orang itu tahu cara mengaksesnya bagaimana. Lantas kenapa Majapahit dibumihanguskan? Terus terang saja saya tidak tahu alasannya. Ora tahu ngobrol langsung marang Hayam Wuruk opo Gajah Mada. Tapi banyak kemungkinan teori yang tidak saya bicarakan sebagai kebenaran.

Karena mungkin saja pada masa itu hanya ada satu keraton di Jawa, sehingga keraton yang lain harus dihancurkan karena tidak boleh ada dua pilar. Mungkin saat itu teknologi sudah begitu tinggi dan bahan-bahan peninggalan Majapahit berasal dari alam, sehingga pada waktu tertentu ia harus kembali kepada alam. Mana yang benar maka membutuhkan penelitian lebih lanjut.”
Kyai Muzammil yang baru bergabung dini hari, mendapat pertanyaan dari Jamaah mengenai kondisi kyai jaman sekarang dan sikap terhadap kaum minoritas.

“Salahnya sendiri kalau masyarakat gampang meng-kyai-kan orang,” ujar Kyai Muzammil, lanjutnya, “orang yang memakai peci atau sorban lantas dipanggil sebagai kyai. Itu salah besar. Terus mas Sabrang yang karena hanya memakai kaos dan tidak memakai peci lantas bukan disebut kyai? Padahal Sing tenanan kyai iku mas Sabrang. Kalau peci kan 20-30 ribu sudah dapat. Saya pakai surban itu bukan bermaksud untuk dipanggil kyai, saya tidak pernah beli surban karena saya selalu dikasih surban sama orang lain. Jadi kalau tidak saya pakai kan mesakke. Saya memakai surban ini hanya sekedar untuk menyenangkan hati orang.”


“Jangan dikira Nabi Muhammad hanya bergaul dengan sesama orang Islam. Nabi Muhammad meninggal dunia dengan meninggalkan hutang dan menggadaikan baju perangnya kepada orang Yahudi. Peristiwa hutang-menghutangi itu terjadi karena hubungan mereka akrab sekali. Jadi untuk mengetahui kualitas keakraban teman Anda, coba jaluken utang. Nabi Muhammad sendiri mencontohkan untuk bersahabat dan akrab dengan orang Yahudi. Orang dinyatakan Islam itu bukan sekedar identitas belaka, kalau orang lain yang non-Islam ternyata perilakunya lebih baik, maka dia lebih Islam, kita Islam formalitas, sementara dia Islam secara substansial.”

Kyai Muzammil juga menceritakan pengalamannya ketika ceramah di Borobudur. Disitu banyak sekali pemahat yang membuat patung.

“Saya bilang kepada mereka, Anda ini adalah orang hebat, karena anda ini keturunan orang yang membuat Borobudur. Borobudur sudah dibangun ratusan tahun yang lalu, tapi anda masih melanjutkan membuat patung-patung. Maka saya katakan bahwa membuat patung itu halal, asalkan niatnya benar. yakni untuk memberi nasihat. Memberi nasihat itu kan bukan hanya dengan lisan, kalau seorang penyair dia memberikan nasihatnya lewat syairnya, pelukis memberikan nasihatnya melalui lukisannya, orang yang bisa membuat lagu seperti Mas Sabrang akan memberikan nasihatnya melalui lagunya, sastrawan menasihati melalui karya sastranya. Kalau bisa memahat maka sampaikan nasihat dengan cara memahat. Silahkan memahat Semar, memberi tahu pada dunia untuk mencontoh semar.

Bahkan kalau perlu silahkan memahat patung anjing untuk mengingatkan orang agar bisa berkaca, kita sama anjing lebih baik mana. Anjing itu kalau dikasih kebaikan dan diopeni, akan berterimakasih dan setia, menjaga tuannya dari bahaya. Bahkan bisa membalas kebaikan dengan lebih baik. Tapi sekarang banyak manusia yang dikasih kebaikan oleh Tuhan tapi malah menggigit. Kalau dulu patung termasuk berhala, sekarang sudah bertransformasi menjadi benda yang tidak kelihatan, misal, harta dan jabatan.”

Jalan Menuju Tuhan
Kyai Muzamil menjawab pertanyaan Mbak Rani mengenai hubungan antara pernyataan Descartes, cogitu ergo sum dengan man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu.

Beliau menjawab, “Sabda Rasulullah, la yazallul mar’u ‘aliman maa tholabal ilmu, orang itu senantiasa disebut sebagai orang berilmu kalau dia masih mau menuntut ilmu, jadi merasa bodoh. Fa’in dhonnah ’annahu qod ‘alima faqod jahila, ketika dia menyangka dirinya sudah tahu maka dia sudah menjadi orang bodoh. Jadi setelah ini maka semua harus merasa semakin bodoh. Gelas kalau diisi bisa meluap, perut juga bisa penuh. Yang tidak bisa penuh itu kan ilmu.

Jadi sampean masukkan ilmu apapun, otak sampean tidak akan merasa penuh, semakin longgar, semakin kosong dan semakin kosong. Orang semakin pinter merasa semakin bodoh, kecuali orang-orang tertentu. Maka tidak ada ilmuwan yang berhenti belajar, jadi kalau berhenti belajar maka bukan ilmuwan. Ada kebenaran universal yang Allah bisa meminjamkannya kepada siapa saja. Jadi jangan melihat orangnya, muslim atau tidak. Semua manusia ini kan tajalli-nya Allah. Selama dua tahun, saya pernah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Jadi kalau ada yang tidak percaya sama Tuhan saya tenang-tenang saja, karena pernah mengalami fase itu.

Man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu, barangsiapa mengenal dirinya sehingga mengenal Tuhannya. Saat itu saya belum tahu diri saya sehingga saya belum mengenal Tuhan. Dan itu terjadi justru ketika saya di Pesantren. Tiap hari saya sholat, bisa ngaji, bisa baca kitab kuning tapi saya tidak percaya sama Tuhan. Akhirnya saya konsultasi pada guru saya KH. Abdul Wahid Zaini, kemudian diberi amalan-amalan. Bahkan ketika membaca Al-Qur’an saya semakin tidak percaya Tuhan. Untuk tahu man arofa itu bukan hanya pakai pikiran tapi pakai hati, makrifat. Tuhan itu tidak tergantung pada pengetahuan manusia. Manusia tahu atau tidak, percaya atau tidak, Tuhan tetap ada. Manusia mengenal Tuhan itu bermacam-macam jalannya.

Ada yang melalui inderanya, ada yang pakai akal dan logika, ada juga yang pakai hati. Saya sendiri gagal menemukan Tuhan pakai akal. Akhirnya saya mengetahui adanya Tuhan melalui makrifat, saya memakai hati. Karena semakin saya pikirkan teori-teori adanya Tuhan, otak saya semakin tidak bisa, sampai sulit tidur. Jadi arofa itu saya menganggapnya dari hati. Makanya Ar-Rumy bilang, aku mencari Tuhan ke masjid-masjid ternyata Tuhan tidak ada, sampai saya cari ke Mekkah, aku putari Ka’bah ternyata Tuhan juga tidak disana. Akhirnya aku cari Tuhan didalam hatiku, ternyata Tuhan itu ada.”

Kyai Muzammil juga menjelaskan kedatangannya ke Bangbangwetan, “Saya memang ditugasi Cak Nun untuk menemani teman-teman. Saya bukan orang pintar, jadi jangan ditempatkan menjadi narasumber, jadi teman saja. Mas Sabrang ini lebih top, dan saya yakin teman-teman ini lebih pintar dari saya.

Saya hanya kebetulan bisa baca kitab kuning dan bisa mengkomparasikannya dengan kitab putih. Meskipun saya tidak lulus SMA, jadi harap dimaklumi kalau saya bodoh. Saya hanya berguru kepada KH. Hasan Abdul Ghofi, KH. Abdul Wahid Zaini, Prof. Dr. Syaikh Hadi Purmono, SH, MA (alm), KH. Muhid (Rois AWAMnya NU), KH. Ma’sum Syafi’i dari Banyuwangi, kemudian saya bertemu Cak Nun. Pandangan saya sama dengan Cak Nun bahwa saya tidak anti syi’ah, tidak anti mu’tazilah, dan lain-lain. Di Jogja saya menjadi ketua Lajnah Bahtsul Masa’il, PWNU. Jadi ini saya diamanahi Cak Nun untuk menemani sampean-sampean semua. Dan semalam di Padhangbulan, Cak Nun bilang mau mandhito. Jadi kalau saya dan mas Sabrang salah, nanti Cak Nun akan mengingatkan.”

“Saya juga sedang ditugasi Cak Nun untuk menulis kitab judulnya Fiqih Muzammily. Jadi kalau salah, orang tidak perlu mengutuk Imam Syafi’i atau Imam Hanafi. Bukan berarti saya mengangkat diri setara dengan Imam Syafi’i. Karena saya menganggap bahwa buku-buku fiqih sekarang itu banyak yang tidak ‘membumi’.

Salah satu contoh tentang perdebatan aurat wanita, apakah menutup wajah dan tangan atau menutup semua, sampai memakai cadar. Imam Syafi’i berpendapat bahwa perempuan harus menutup seluruh tubuhnya dengan memakai cadar dan seterusnya. Imam Syafi’i berpendapat demikian karena masa hidupnya di Mekah, Madinah, Iraq dan terakhir di Mesir. Beliau tidak pernah melihat orang Papua, Spanyol, Perancis, dsb. Beliau hidup dalam suatu kultur Arab yang memang seperti itu. Harus muncul fiqih yang memang lahir dari Indonesia. Dalam fiqih itu harus ada dialektika. Fiqih itu kan hanya sekedar alat, jangan dijadikan tujuan. Fiqih jangan sampai menjadi pemicu jauhnya manusia dengan manusia, jauhnya manusia dengan Tuhan”, jelas kyai Muzammil.

Mas Sabrang menceritakan pengalamannya ketika belajar di luar negeri. Di Kanada Sempat menjadi Atheis selama satu tahun, mencari telepon umum agar bisa tidur disana dengan nyaman. Kemudian terpikir kenapa tidak tidur di masjid, yang bisa menampung siapa saja. Disanalah mempunyai kesempatan untuk mengobrol dengan seorang Syaikh.

“Kalau memang benar Gusti Allah itu ada dan Islam itu benar, saya mempunyai pertanyaan, Syaikh. Katanya Tuhan Maha Adil, Al-Quran bilang bahwa syetan itu akan masuk neraka. Setan kan juga bisa berkembang biak, kalau syetan lahir satu detik sebelum kiamat bagaimana? Dia belum sempat melakukan dosa kesalahan apapun, lalu apakah syetan tersebut masuk surga atau neraka? Kalau dia masuk surga, berarti Al-Qur’an salah, Islam salah. Kalau masuk neraka, berarti Tuhan tidak adil.”

“Kamu tahu syetan berkembang biak dengan bagaimana?,” tanya Syeikh waktu itu, kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Apa kamu yakin syetan lahir karena persetubuhan kemudian melahirkan anak? Kamu tahu informasinya darimana? Kalau misalnya dia berkembangbiak dengan membelah diri seperti Amoeba bagaimana? Berarti entitas baru anaknya itu juga melakukan dosa seperti orang tuanya. Berarti bisa jadi dia juga masuk neraka?”
Setelah itu baru terpikir, ini adalah urusan Gusti Allah, kita sebagai manusia percaya saja. Kalau ada yang tidak beres atau tidak konsisten, berarti urusan otak kita saja yang belum beres.

Setelah peristiwa itu kembali Islam lagi, dan percaya kepada Gusti Allah. Untuk menemukan jalan Tuhan itu bermacam-macam. Ada yang rumit dan ada yang sangat sederhana. Ada juga seorang temannya yang juga dulunya tidak percaya sama Tuhan, kini dia menjadi Islam, sholat dengan rajin. Kemudian ditanya bagaimana perjalanannya bisa menemukan Tuhan. Dia menjawab bahwa dulunya dia tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Besar, Maha segalanya, seberapa besarnya, kok tidak masuk akal. Kemudian dia belajar matematika, dia menghitung mulai angka satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai sejuta, masih ada, sampai semilyar terus masih ada lagi tak terbatas.

Matematika yang tak terbatas seperti itu saja dia percaya, apalagi sama Tuhan yang Maha Tak Terbatas kok tidak percaya. Sederhana sekali ketika dia ingin menemukan Tuhan. Tuhan pasti menyiapkan jalan untuk manusia kemana dia harus mencari. Semoga kita disini bersama-sama bisa mencari kebenaran, bisa menemukan posisi kita, bisa menjalankan tugas kita di dunia dengan selamat, direntang hidup kita, direntang nyawa kita sampai kembali kepadaNya. Amin ya robbal ‘alamin.
Memasuki jam 03.15 dini hari, BangbangWetan dipungkasi dengan sholawat bersama dan ditutup do’a oleh Kyai Muzammil.

[red-BBW]

Leave a Reply

Your email address will not be published.