Arsip, Reportase

Gerhana Peradaban

Buletin Maiyah Jatim·21 Maret 2016 | Reportase Bangbang Wetan Februari 2016

24 Februari 2016, Surabaya disapa hujan lebat dan angin kencang semenjak sore, menjadikan Bangbang Wetan malam itu dimulai sedikit lebih malam dari biasanya. Tanpa disuruh jamaah dan penggiat Bangbang Wetan bersama-sama mengalirkan air yang sedikit menggenangi area di depan panggung. Setelah nderes selesai, para jamaah dengan dipandu para penggiat, bersama-sama melantunkan wirid Padhang mBulan dan Sholawat. Shaf yang semakin rapat disertai dinginnya udara membuat lantunan Sholawat terdengar semakin syahdu. Untuk pelaksanaan Bangbang Wetan malam ini kembali dilaksanakan di halaman TVRI Jawa Timur, yang sedianya merayakan hari jadi yang ke-38.

Duet mas Rio dan mas Hari ‘telo’ menyapa jamaah yang sudah memenuhi lokasi, menggantikan mas Amin yang malam itu belum tampak di atas panggung. “Sopo sing gelem dadi ISIM?” sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh mas Hari mendapat sambutan dingin dari para jamaah. Pertanyaan tersebut dilemparkan kepada para jamaah karena di bulan berikutnya (Maret) tepat 1 tahun kepengurusan ISIM Bangbang Wetan. Dan, rencananya pada bulan itu juga akan dilaksanakan kongres ISIM Bangbang Wetan yang kedua. Sebagai organisasi dan organisme Maiyah, selayaknya memberikan kesempatan kepada jamaah yang sekiranya berkenan untuk terlibat dalam kepengurusan ISIM Bangbang Wetan. Semoga rencana kongres yang kedua kali bisa terlaksana, regenerasi.

bbw feb 16 1

Tak lupa disampaikan juga mengenai judul majelis malam itu, Gerhana Peradaban. Tema ini dijadikan landasan untuk menyambut gerhana matahari total yang terjadi pada 9 Maret lalu. Jamaah juga diajak untuk menyimak kembali tulisan-tulisan Cak Nun setelah sekian lama hiatus. Esai-esai Beliau yang diberi tajuk DAUR dibarengi dengan quote-quote yang ‘dilabeli’ hujan, kembali mengisi khasanah literasi Indonesia, dan Maiyah pada khususnya. Pun karena esai tersebut diperuntukkan anak-cucu dan jm, mau tidak mau, kita sebagai ‘anak-cucu’, sudah seharusnya untuk mengolah apa yang Beliau sampaikan.

Ornament, band yang menjadi pengisi malam itu terlebih dahulu menghangatkan suasana dengan 2 nomor manis yang dibawakan dengan versi unplugged.

Setelah Pak Dudung memberikan sambutan dan ucapan selamat kepada TVRI Jawa Timur, Pak Syafaruddin Lubis, selaku kepala stasiun TVRI Jawa Timur juga diberi kesempatan untuk mengucap sepatah dua patah. Beliau berharap kerja sama antara Bangbang Wetan dan TVRI Jawa Timur dapat berjalan dengan lebih baik kedepannya.

Mengawali bahasan topik, jamaah diajak menyampaikan pendapatnya mengenai tema malam itu, Gerhana Peradaban. Menurut para jamaah, gerhana peradaban bisa dimaknai sebagai kebenaran-kebenaran yang ditutupi oleh keburukan. Dan sebagai manusia Maiyah, sudah seharusnya kita tak menggerhanai kebenaran dan kebaikan yang ada. Sampaikan kebenaran itu jika memang harus disampaikan. Jamaah juga berpendapat, bahwa gerhana peradaban juga bisa dimaknai sebagai jaman kegelapan atau jaman jahiliyah. Isu yang belakangan ini sedang hangat dibicarakan mengenai “4 huruf” bisa juga dimaknai sebagai gerhana peradaban. Adapun beberapa pendapat lain mengenai tema, sepantasnya kita untuk tetap menghormati dan menghargai.

Mas Acang yang termasuk dalam tim tema Bangbang Wetan, melemparkan trigger kepada para jamaah melalui sudut pandangnya. Berbeda dengan pandangan dari sisi astronomi, dalam peradaban Jawa, gerhana matahari dipersepsikan bahwa matahari sedang dimakan raksasa. Demikian pula dalam peradaban Viking dan Yunani kuno. Dalam kaifiyah Islam, bahkan di-sunnahkan untuk melakukan sholat gerhana. Dari sudut astronomi, gerhana matahari menjadi salah satu fenomena langit dimana teori Einstein soal relativitas yang disampaikan pada tahun 1915 di Viena, bisa diamati. 4 tahun kemudian, pada gerhana matahari tahun 1919, teorinya terbukti. Dan pada 1929, seorang murid Einstein berhasil mendokumentasikan pembelokan cahaya itu pada peristiwa gerhana matahari total di Aceh. Mengapa demikian? Inilah yang nantinya akan didiskusikan bersama.

bbw feb 16 5

Mbak Viha menyambungnya dengan memberikan uraian yang berkaitan dengan kondisi kemasyarakatan saat ini. Sebagai contoh sekarang banyak sekali isu, terutama yang berasal dari televisi, yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi sosial kemasyarakatan. Juga hal-hal yang diabaikan pemerintah, sehingga masyarakat harus turun ke jalan terlebih dahulu agar pemerintah bertindak. Mbak viha juga mengajak jamaah untuk lebih peka untuk melihat hal-hal apa yang menutupi atau membuat gelap keadaan disekitar kita, agar kita tahu apa yang benar dan apa yang salah.

Mas Amin yang akhirnya muncul di atas panggung, memulai memancing jamaah melalui segitiga kompetensi. Yang dimaksud segitiga kompetensi adalah skill (keterampilan), attitude (sikap, moral, akhlaq) dan knowledge (pengetahuan). Menurut mas Amin, tidak cukup bagi kita hanya membawa segitiga kompetensi di dalam hidup. Masyarakat modern saat ini perlahan dibuat lupa oleh satu hal yang sebenarnya teramat penting selain 3 hal tersebut. Itu adalah rasa (roso) atau jiwa yang bisa menjadi penyambung antara hamba dengan Allah. Bertanyalah kepada diri sendiri, apa yang dirasakan saat menjalani hidup dengan segitiga kompetensi tanpa melibatkan rasa. Apakah hal tersebut juga bisa disebut sebagai gerhana? Lantas, apakah pendidikan di era sekarang turut menyumbang dihilangkannya ‘rasa’ itu? Apa hilangnya rasa dalam sistem pendidikan kita ini terjadi by accident, atau malah by design dari para perumus kurikulum? Karena seperti yang bisa diamati, cetakan pendidikan kita sekarang ini hanya melahirkan robot-robot berijazah.

Waktu terus merayap menuju tengah malam, tampak para penggiat yang ‘ber-money politic’ dan berkeliling menyebarkan kuisioner berupa angket sebagai landasan akar untuk kongres dan langkah ISIM Bangbang Wetan kedepannya dengan diselingi alunan dari beberapa nomor yang dibawakan oleh Ornament band.

Setelah alunan lagu selesai dibawakan, telah tampak Mas Sigit di atas panggung yang siap berpresentasi. Di kalangan masyarakat Bangbang Wetan, Mas Sigit dikenal sebagai seorang arkeolog ‘otodidak’ dan independen. Salah satu yang pernah ditemukannya adalah situs Pelewangan di daerah Balongbendo, Sidoarjo. Mas Sigit memulai presentasinya dengan menjelaskan tentang peradaban leluhur Nusantara yang sudah mengenal ilmu astronomi jauh sebelum keilmuan modern saat ini. Salah satu contohnya adalah jauh sebelum masyarakat barat mengetahui tentang adanya komet, leluhur-leluhur kita sudah mengetahui itu semua dan biasa menyebutnya dengan lintang kemukus. Bukan hanya astronomi yang dikuasai oleh leluhur kita, tetapi keilmuan di segala aspek. Baik itu ilmu arsitektur, teknik sipil, dan sebagainya. Dan, semua ilmu tersebut tertulis dan tersimpan dalam buku yang kita biasa menyebutnya sebagai Primbon.

Primbon dibuat melalui riset yang sangat mendalam dan luar biasa dalam berbagai aspek. Pengerdilan makna primbon oleh masyarakat modern, adalah fakta bahwa masyarakat Nusantara saat ini sangat buta akan warisan sejarah leluhur. Melalui rekaman visual yang ditampilkan ke sebuah white screen, Mas Sigit meneruskan uraiannya bahwa dia bersama Mas Alik—penggiat yang selalu istiqomah merekam acara BBW dan Maiyahan Jawa Timur dari balik kamera—sekitar 3 minggu yang lalu, baru saja menemukan situs di daerah hutan Baluran, Banyuwangi, seluas sekitar 3 hektar. Mereka berdua menelusuri jejak-jejak yang ditinggalkan para leluhur di daerah tersebut.

Sembari para jamaah menonton rekaman di layar, Mas Sigit terus memberikan penjelasan-penjelasannya. Dalam rekaman tersebut terlihat sebuah bukit yang ternyata didalamnya terdapat ruangan dan lorong-lorong panjang buatan manusia. Diperkirakan lorong-lorong tersebut akan menyambung dengan gunung-gunung yang lain. Selain itu di sekitar bukit berongga tersebut (atau biasa disebut gua oleh masyarakat setempat) juga ditemukan ornamen-ornamen dan artefak kuno. Diceritakan, leluhur Nusantara masa itu sudah memiliki teknologi yang sangat maju. Berbekal keilmuan, mereka bisa membangun tempat tinggal yang oleh keilmuan modern dianggap mustahil. Mereka sudah bisa menciptakan sejenis lemari es tanpa listrik, mampu menjadikan ruangan bersuhu dingin tanpa memerlukan AC, dan berbagai macam penemuan lainnya. Dan keilmuan leluhur Nusantara itu kini seolah-olah lenyap dalam cerita peradaban modern, bahkan di Indonesia sendiri.

Mengakhiri presentasi, penggiat dan seluruh jamaah sejenak melarutkan diri dalam keistiqomahan Yaa Dzal Wabal yang dipimpin oleh Cak Luthfi dan beberapa penggiat. Serta sebagai penghangat suasana atas dinginnya Surabaya malam itu, Mas Hari ‘telo’ dan 2 kawannya menyanyikan OST. Keluarga Cemara dan disambung kembali oleh Ornament band.

Pukul 00:30, Lek Hammad, Kyai Muzzammil dan Pak Suko sudah tampak di atas panggung Diawali Lek Hammad, jamaah diberi analogi daun sebagai arus langit yang harus diikuti alurnya. Daun yang hijau berproses sedemikian rupa hingga akhirnya gugur dan bertemu kembali dengan asal muasalnya yaitu akar. Selama kita mengikuti arus langit, bisa dipastikan kebahagiaanlah yang didapat. Berbeda jika kita hanya mengikuti dan memuja arus bumi atau dunia. Di lain contoh mengenai kebenaran, benarmu bukan benarku, demikian pula sebaliknya. Dan jika mulai muncul klaim-klaim tentang kebenaran personal yang menginjak-injak kebenaran versi orang lain, itu adalah tanda gerhana peradaban. Dan sebagai masyarakat Maiyah, sewajibnya kita tidak menjadi gerhana bagi kebenaran.

Masyarakat Maiyah haruslah menjadi cahaya kebenaran, bukan menggerhanai cahaya. Bagaimana laku kita agar menjadi cahaya bagi kebenaran? Libatkan Allah dan Rasulullah SAW dalam tiap hembusan napas. Apapun hasil yang ditimbulkan, sudah sewajarnya kita sebagai manusia berpasrah hanya kepada Dia ‘Azza wa Jalla. Lek Hammad juga menekankan pentingnya belajar mengenai adab dalam segala aspek. Karena untuk membangun ‘peradaban Maiyah’, dibutuhkan adab yang baik, benar, dan indah di segala sudutnya. Jamaah dibangkitkan semangatnya, jangan sampai peradaban Maiyah ini hanya menjadi dongeng. Jamaah dibangunkan kesadarannya untuk membawa nilai-nilai Maiyah dalam berkehidupan. Yang nantinya diteruskan kepada anak-cucu. Jangan sampai peradaban Maiyah berakhir seperti peradaban Jawa yang semakin lama semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Gerah-Ono, yang bisa dimaknai sebagai sakit atau sumuk, demikian menurut Pak Suko. Masyarakat Jawa sudah mengenal gerhana sejak lama. Dan, Jawa memiliki tradisi sendiri dalam menyambut gerhana. Umumnya yang dikenal, masyarakat Jawa dahulu biasa kothekan atau menabuh kentongan saat terjadi gerhana. Mereka memaknai gerhana sebagai sesuatu yang buruk, karena pada saat gerhana, bumi diliputi kegelapan. Maka mereka berusaha mengusir kegelapan itu dengan membuat bunyi-bunyian agar gerhana segera pergi. Ini adalah tradisi yang akhirnya menjadi kebudayaan pada masa dulu. Logika seperti apa yang ingin disampaikan dengan membunyikan kentongan? Mari kita cari bersama-sama.

Di dalam Islam, kita mengenal ilmu falaq. Segala pergerakan benda langit, Islam turut pula mempelajarinya. Pada masa Rasulullah SAW pun pernah terjadi gerhana. Dan bersamaan pada saat itu, putra Beliau SAW, Ibrahim, meninggal. Para sahabat dan masyarakat Arab pada masa itu mengaitkan gerhana dengan kematian putra Beliau SAW. Lantas Rasulullah SAW melakukan sholat dan berkhutbah, bahwa kematian dan lahirnya seseorang tidak ada kaitannya dengan gerhana. Itu terjadi karena pergerakan Matahari, Bumi dan Bulan. Itu adalah tanda-tanda kebesaran Sang ‘Azza wa Jalla. Itulah ilmu falaq. Bahkan, dalam NU sendiri terdapat 40 aliran ilmu falaq, demikian mengutip Kyai Muzzammil. Di Indonesia, kita juga memiliki Kyai-kyai ahli falaq. Salah satunya, Kyai Ghozali dari Sampang, Madura. Beliau mengembangkan ilmu falaq kontemporer dan dijadikan kitab yang berjudul Badi’atul Mitsal.

Kyai Muzzammil menambahkan, dalam tradisi Islam yang diambil dari literatur klasik, ada 4 hal yang menyebabkan kegelapan manusia. Satu hal berasal dari internal manusia dan 3 sisanya berasal dari eksternal manusia. Yang berasal dari internal manusia yaitu nafsu. Sedangkan yang berasal dari eksternal manusia adalah syaitan, dunia (segala sesuatu selain Allah), dan yang terakhir adalah manusia itu sendiri.

bbw feb 16 3

Gerhana peradaban terjadi karena pribadi yang seharusnya menjadi penabur cahaya malah menaburkan kegelapan. Para penabur cahaya yang dikuasai oleh kepentingan-kepentingan dunia, akhirnya jatuh dalam nafsu. Hal ini yang sedang berlangsung dalam peradaban dunia modern. Manusia-manusia berilmu yang dikuasai nafsunya, bukannya memberi cahaya kepada kegelapan, malah menggerhanai. Dan pada akhirnya mereka malah melakukan tindakan yang berbanding terbalik. Di masa-masa sekarang ini, media massa turut pula menaburkan kegelapan. Banyak berita-berita yang kebenarannya sangat tidak sesuai dengan fakta. Masyarakat yang harusnya menerima informasi bernilai cahaya, disuguhkan kegelapan yang entah di mana ujungnya. Dan sebagai masyarakat Maiyah, kita memilih untuk menaburkan cahaya melalui media apa saja yang ada. Apakah itu berupa kutipan kalimat, atau tulisan-tulisan yang bernilai kebenaran tanpa menggerhanai kebenaran orang lain.

Menjelang pukul 3 dini hari, setelah sesi tanya jawab selesai, Cak Luthfi memimpin sholawat yang kemudian diakhiri dengan do’a oleh Kyai Muzzammil. Walaupun Bangbang Wetan Februari berlangsung tanpa kehadiran mas Sabrang, para jamaah dengan istiqomahnya tetap menyimak setiap detil yang disampaikan oleh narasumber yang berada di atas panggung. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala ridlo kepada Maiyah.
[Tim reportase Bangbang Wetan.red]
[Dokumentasi : Ranu Mardianto]

 bbw feb 16 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.